“Kenapa kamu berani bawa-bawa cowok nginap mai!!!”
“Bukan! Bukan Imai yang minta mereka ke rumah ma!” Tangis Imai sudah tidak terbendung lagi, yang semula terlihat seru dan ramai malah berujung tuduhan tak berdasar kepadanya.
Semuanya bermula kemarin pagi, dimana papanya menemani mama pergi ke kota untuk mengikuti seminar guru. Dan kegiatan tersebut di adakan selama dua hari yang mengharuskan kedua orang tuanya menginap. Memang biasanya kalau mamanya ada kegiatan seminar dan mengharuskan papanya ikut untuk mengantar jemput mama, Imai harus tinggal dan biasanya menginap di rumah sepupunya yang tepat berada di samping rumahnya.
Namun karena kini ia sudah besar dan sudah duduk di bangku kelas lima, Imai meminta izin orang tuanya untuk tidur dirumah saja sendiri.
Namun kabar guru-guru akan mengadakan seminar didengar teman-temannya, mereka mendesak Imai untuk mereka ikut menemani Imai dirumah. Awalnya teman-teman itu takut untuk kerumah Imai dan meminta izin langsung. Jadi Imai dengan takut-takut pula meminta izin ke orang tuanya.
Dan di izinkan selama tidak macam-macam. Semua berjalan seru, sebut saja malam itu malam para wanita. Total ada 6 temannya yang menginap. Dari awal kedatangan teman-temannya selepas magrib, banyak hal yang mereka lakukan. Mulai dari memasak mie untuk makan malam, nonton dvd drama Korea, nari-nari tidak jelas, hingga akhirnya menjelang tidur pukul 9 malam mereka bersama-sama bahu membahu menghampar kasur yang ada di kamar untuk di susun di depan televisi ruang tamu untuk tidur lesehan. Bahkan lampu sudah dimatikan untuk mereka tidur.
Namun belum benar-benar pulih tertidur suara ketukan pintu mengagetkan mereka, hingga ketujuh gadis itu menjerit kaget. Namun suara ketukan itu tidak berhenti.
Setelah menyalakan lampu mereka saling mendorong satu sama lain, menentukan siapa yang berani membukkakan pintu. Dengan sama-sama takut mereka semua saling berlindung di belakang imai untuk membukkakan pintu.
Begitu kagetnya yang ternyata mengetuk pintu adalah Roy dan juga Arman teman sekelas mereka.
“Ngapain malam-malam kesini?” Sinis imai merasa aneh kedua makhluk tidak diundang itu ada didepan rumahnya.
“Nggak boleh emangnya berkunjung” ujar Roy sambil celinguk celinguk di balik tubuh Imai.
“Apa lo liat-liat” balas Imai sambil menutup pintu yang sedikit terbuka itu dengan tubuh Imai.
Tanpa berkata apapun Roy mendorong pintu hingga pegangan Imai terlepas dan kedua makhluk tidak di undang itu masuk kedalam dan langsung duduk ke sofa. Melihat Roy dan Arman masuk membuat gadis-gadis itu serentak menyerukan nama Roy sebagai tanda protes.
“Roy!!!!!”
Druk druk druk
Dari arah samping rumah suara dinding di gedor dan di susul suara pakde Imai. “Apa tuh teriak-teriak mai!!!” Seru pakdenya menegur kebisingan mereka.
Takut ke tahuan ada cowok malam-malam, Imai memerintahkan semuanya diam dengan telunjuk ditangannya memberi isyarat.
“Nggak papa pakde, tadi ada cicak jatoh” ujarnya berbohong.
Setelah menjawab memberi petuah jangan berisik pakde Imai beranjak pergi.
Sepeninggal pakdenya, mereka bertujuh duduk mengitari Roy dan Arman yang duduk di sofa tanpa berdosa. Melihat jam sudah pukul sembilan lewat dan hampir jam sepuluh malam mereka berbisik-bisik menginterogasi dua makhluk bede gender itu.
“Ngapain kalian kesini?” Ujar ayuk paling pertama.
“Aku cuman di ajak sama Roy aja” ujar Arman mengajukan alibinya.
“Kamu Roy ngapain kesini?” Kini giliran delvina yang mengajukan pertanyaan.
Dengan cuek Roy menjawab, “karena kalian disini” ujarnya.
Mereka semua lihat-lihatan, “kamu tahu kita disini dari siapa?” Tanya Elindra menambahkan.
Pasalnya acara malam itu tidak ada yang tahu, hanya mereka-mereka saja. “Aku dengar pembicaraan kalian di sekolah” ujar menjawab kebingungan mereka.
“Dah malam ni Roy, pulang lah kamu” tambah Imai berniat mengusir Roy dan Arman.
Pasalnya, perjanjian awalnya dengan orang tuannya adalah hanya teman-teman ceweknya saja.
“Nanti aja” timpal Roy, “malaman aja, rumahku juga dekat” katanya.
“Ais……” kata mereka serentak mengeluh menjawab perkataan Roy.
“Awas ya kalau kalian nggak pulang nanti. Jam sepuluh harus udah pulang” timpal Lina.
Jarum jam terus berputar, selama itu pula yang mereka lakukan adalah banyak bercerita tentang banyak hal. Salah satunya yang memiliki durasi panjang untuk mereka bahas adalah tema horor.
Waktu terus berputar hingga mereka melupakan waktu dan tenggelam asik membahas cerita-cerita pengalaman horor mereka.
“Eee…udah jam setengah 12” seru Imai menyadari waktu semakin larut malam. “Pulang sana Roy!” Seru Imai mengusir Roy dan Arman.
“Iya Roy pulang sana, mama kalian pasti cariin kalian” tambah delvina.
“Nggak ah, aku udh sms mama ku kalau aku nginap tempat Arman” tambah Roy menjawab dan sekaligus membuat bungkam semuanya.
Lalu di luar dugaan Arman dan Roy ber tos tangan berhasil menjaili kami.
“Iya, rumahku kan sepi mama ku juga ke kota mangkanya kami bisa disini” tambah Arman.
“Tenang-tenang, kami nggak akan ngapa-ngapain kalian” tambah Arman lagi lalu berbaring di sofa.
“Aku sama Roy tidur disofa aja, kalian para cewe di kasur. Hitung-hitung kami berdua jadi satpam kalian” tambah Arman lagi sambil menutup matanya dengan lengan.
Menyusul Arman, Roy juga merebahkan dirinya di sofa. Karena malam semakin larut dan mereka semua terlihat kelelahan, satu persatu dari mereka tertidur pulas.
*****
Mengingat cerita itu Imai bergidik ngeri. Bagaimana kalau Roy sampai nekat? Mampus ia akan di perawani oleh musuh bebuyutannya sendiri.
“Mbak dua kamar”
Mendengar ucapan Roy Imai lega, ia kira malam ini akan satu kamar dengan Roy. Sungguh jika itu benar terjadi ia tidak siap.
Merasa hatinya berbunga, dibalik ia memperhatikan layar handphonenya hanya sekedar me scroll aplikasi sosial media Imai tersenyum.
“Maaf mas, semua kamar penuh. Hanya tersisa single bed saja”
Mendengar jawaban dari resepsionis hotel seketika membuat Imai lemas.
Ia langsung melihat ke arah Roy, dan refleks menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat jangan diambil.
Namun Roy yang sama sekali tidak berpaling pada Imai menyerahkan kartu debit nya, “saya ambil mbak. Untuk satu malam” katanya.
Mampus. Mampus.
Setelah menerima card room. Mereka berjalan menuju kamar yang berada di lantai 15. Imai tidak banyak protes, ia tetap mengikuti langkah Roy yang berjalan duluan dari nya.
Namun setelah tiba di lorong lantai 15, Imai menarik ujung lengan kaos Roy. Membuat yang punya berbalik melihat perempuan yang sedari tadi itu terlihat tidak bersemangat.
“Bisa nggak gua tidur di mobil aja” katanya.
Roy melepas jari Imai yang menarik lengan bajunya seperti seseorang yang jijik terhadap sesuatu.
“Terserah lo, gua capek” ujar Roy dan berjalan lebih dulu menuju kamar.
Imai cemberut, “katanya terserah, tapi nggak ngasih kuncinya” sebalnya lalu berjalan menyusul Roy.
Sedikit ragu ia untuk masuk ke kamar tersebut yang pintunya masih terbuka. Dari arah ia berdiri, ia bisa melihat Roy yang masuk kedalam kamar mandi.
“Ko dia bisa santai ya” ujar Imai. “Masuk nggak masuk enggak masuk enggak masuk” ia merasa ragu untuk masuk. Tapi kalau nggak masuk ia harus tidur dimana, ia juga butuh istirahat. Masa ia harus tidur di ruang tunggu, gelandangan sekali. Yang ada dirinya di usir satpam hotel.
Dengan sedikit terpaksa Imai memejamkan matanya lalu masuk dan menutup pintunya.
Huft
Ia masih berdiri di balik pintu dengan mata yang masih tertutup. Mengatur degup jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup.
Ia bukan perempuan bodoh atau kelewat polos, ia tahu nafsu laki-laki itu bisa berubah kapanpun. Dan ini Roy. Yang memiliki track record yang cukup kelam dimasanya.
“Lo ngapain berdiri disini?” Mendengar suara deep voice yang tepat di belakangnya membuat Imai langsung berpaling.
“Aaaaaaa………”
Mendengar teriakan Imai, Roy langsung mendekam mulut Imai, “lo kenapa sih pakai teriak-teriak segala”
Ya bagaimana Imai tidak teriak, tiba-tiba saja laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya. Bahkan tanpa baju, hanya handuk putih yang terlilit di pinggangnya. Tidak lupa juga rambut basah dan tubuh yang masih terdapat air.
Sekian detik dalam posisi Imai terhimpit mereka saling menatap, baru kali ini Imai melihat mata itu.
Mata coklat, alis tebal, rahang tegas, dan wangi.
Cukup lama mereka diposisi tersebut, hingga akhirnya Roy melepaskan bekaman mulut Imai dan berlalu berbalik.
Sebelum ia melepaskan bekaman tangannya pada mulut Imai, Roy berbisik. “s**t, gua harus mandi lagi” ujarnya dan berbalik menuju kamar mandi.
Sebelum benar-benar masuk kedalam Roy kembali berkata yang berhasil membuat Imai bingung sendiri, “sial adek kecil gua bangun”.