Gaun Merah

1082 Words
“Hai Roy” Mendengar suara sapaan yang gemulai membuat bulu kuduk Imai seketika berdiri, ditambah cipika cipiki yang mereka lakukan. Menilik dari reaksi wajahnya, Roy juga terlihat enggan melakukannya. “Dia siapa?” Tanyanya merujuk ke arah Imai yang berada di belakang Roy. Laki-laki itu sekilas berbalik melihat Imai yang berdiri dengan wajah bingungnya, “tanya aja sama orangnya” cetusnya lalu berlalu menuju sofa berwarna merah ditengah-tengah ruangan tersebut. “Hai!! Lo siapanya Roy? Ko gua baru ini liat lo?” Ditodong pertanyaan tersebut membuat Imai bingung sendiri. Andai pertanyaan itu dilontarkan padanya 15 jam yang lalu. Mungkin jawabannya mudah, bukan siapa-siapanya, hanya musuh masa kecil. Atau, gua cuman teman sekolah waktu SD. Tapi sekarang statusnya apa? Apa iya ia jawab istri. Lah tapi tidak ada yang tahu status mereka. “Dia calon istri gua” celetuk Roy yang kini duduk manis melihat-lihat isi sebuah majalah. Mendengar perkataan Roy, pemuda setengah mbak-mbak di depannya ini bereaksi berbeda. Matanya yang dipoles eyeshadow dengan warna terang itu menyalang terkejut menatap Imai dan Roy bergantian. “Oh MG!!! Lo bohong kan Roy!!” Celetuknya tidak percaya lalu berlari gemulai menghampiri Roy dan duduk disampingnya. Menilik ke arah Imai, lagi-lagi ia berkata “dia bukan tipe lo banget Roy. Tipe lo kan spek model. Seksi, baju yang kurang bahan, terus clingy. Lah ini” “Wah anjir juga nih cewek jadi-jadian” sebal imai. Imai yang tak diajak dalam obrolan langsung berjalan menuju ke samping Roy yang masih kosong dan duduk disana. “Sayang……kamu suka aku pakai baju apa? Yang kayak gini? Atau……yang ini?” Tunjuk imai ke sembarang gambar di majalah yang sedari tadi diperhatikan Roy. Mendengar nada manja imai dan gerak-geriknya yang dimanja-manjakan seketika membuat atensi Roy sepenuhnya ke imai. Begitu juga Rose. “Sayang……kamu ko natap aku begitu???” Meskipun dengan nada manja, namun berbeda dengan tatapan imai yang sedikit melotot dan memberi isyarat ke Roy. “APA LO NATAP GUA GITU. AWAS AJA YA LO NTAR” Melihat itu seketika membuat Roy menahan geli ingin tertawa. “Iya sayang……aku kepingin bangatttt liat kamu pakai baju yang ini” timpal Roy dengan nada sayang yang dibuat-buat mengikuti permainan imai. Bahkan tangannya dengan bebas merangkul imai, dan refleks imai ingin menepis namun cengkeraman di pundaknya sedikit kuat. Seolah mengatakan lo yang mulai, gua ikuti alurnya. Dan yang lebih membuat terkejut lagi, poster baju yang di tunjuk oleh Roy di majalah tersebut sebuah gaun merah yang… “Lo punya kan koleksi ini Rose?” “Hah! Lo yakin dengan yang itu” katanya terkejut, bukan hanya tentang pilihan Roy di majalah, melainkan peran yang kedua orang itu permainkan. “Lo yakin” katanya bertanya memastikan. “Yakin dong, pasti istri gua ini kalau pakai gaun ini cantik berkali-kali lipat. Persis seperti di foto ini. Sexy” bisiknya kata terakhir ke arah imai yang seketika membuat pipinya panas. Dengan refleks imai mendorong d**a Roy, “m***m ya lo!!” Sontak membuat Roy mengangkat tangannya dan berkedip menggoda Imai. ***** Ini sudah ke sekian kalinya Imai keluar masuk ruang ganti. “Masih belum cocok!?” Keluhnya sebal dan duduk di samping Roy dengan tubuh lunglai bersandar ke sofa. “Asal lo tahu ya, dikira gampang kali gonta-ganti baju besar-besar dan berat-berat gini” omelnya, merasa dirinya kini tengah dipermainkan. “Nih liat! Udah jam 9 malam…… Roy!! Pasti bentar lagi ayah nelpon! Yang ada gua di omelin!” Tambahnya sambil mengacungkan lockscreen handphonenya yang menunjukan angka 9.14 “Ya udah kalau gitu kita lanjut besok aja” acuh Roy sambil memainkan handphonenya. Mendengar kalimat acuh Roy, tingkat bete nya Imai semakin jatuh. “Ogah gua jalan lagi sama lo” celetuknya dan berlalu berdiri menuju ruang ganti. Baju yang ia kenakan kali ini nggak buruk-buruk banget, tapi entah apa yang di ingin laki-laki itu yang jelas ia tidak bisa menurutinya. Setelah berganti pakaiannya semula dan lampu-lampu butik itu sudah mulai padam mereka menuju ke mobil setelah berpamitan dengan Rose yang masih belum percaya kalau Imai adalah pasangan Roy. Setibanya di dalam mobil meninggalkan parkiran butik, Imai menyuarakan nada protesnya. “Emangnya lo tuh mau konsep apa sih nikahannya. Lo pikir enam kali gonta-ganti gaun pernikahan tadi gampang apa?!!” Roy melirik ke arah Imai, yang lagi-lagi perempuan itu asik melihat ke luar jendela. “Yang buat lo terlihat seksi kayak gaun merah tadi” celetuknya dengan suara dalamnya yang sedikit seksi. “Hah! Ogah! Mana sudi gua pakai gaun kurang bahan kayak gitu. Apalagi di depan lo!” “Yakin! Lumayan loh buat malam pertama!” “Najis!!!” “Dih! Kan bagus, p******a sama paha lo ke ekspos!!!” “ROY!!!” Geram Imai yang berhasil membuat perempuan itu menengok ke arah Roy. Dimana laki-laki itu menyeringai berhasil menggoda Imai. Malam itu mereka tidak langsung pulang, melainkan mampir di salah satu penjual kaki lima yang menyediakan beberapa menu untuk mereka makan malam. Di momen itu keduanya sama-sama tidak berinteraksi lebih, mereka sekedar menikmati makan malam masing-masing dengan handphone genggam sebagai teman makan mereka. Seketika itu pula hujan lebat tiba-tiba turun sangat deras hingga lama kelamaan jalan raya di depan mereka perlahan-lahan mulai tergenang. Memang kota ini tidak begitu ramah dengan dengan hujan, drainase yang buruk dan penumpukan sampah memperparah kondisinya. Buru-buru mereka masuk ke mobil dan pergi dari sana sebelum benar-benar mereka terjebak banjir. “Hallo yah! Ini masih dijalan, habis dari makan.” “Iya yah, hujannya deres banget” “Hah Roy!?” “Ada” “Oh ya bentar ya yah” Mengacungkan handphonenya pada Roy yang sedang menyetir, Imai berkata “ayah gua mau ngobrol sama lo” Tanpa berkata apapun Roy mengambil alih handphone tersebut, “baik om, baik. Malam om, Waalaikumussalam” Setelah menutup telponnya Roy mengembalikan handphone milik Imai. “Apa kata bokap gua!?” Roy tidak menjawab pertanyaan dari Imai. Iya fokus memilah jalan dengan pelan karena jalan mulai banjir dan laju kendaraan pun melambat. Cukup lama mereka menerjang banjir ditengah-tengah derasnya hujan, akhirnya Roy memberhentikan mobilnya di sebuah lobby hotel berbintang. “Loh ko kita disini?” Terkejut Imai. “Lo nggak bisa liat, hujannya makin deras. Beberapa titik jalan juga lagi banjirnya dalam. Dan kayaknya dari tanda-tanda hujan nggak akan berhenti malam ini.” Jelas Roy memasukkan mobilnya ke basement hotel. “Bokap lu juga saranin begitu, soalnya di jalan ke kampung ada yang longsor” tambahnya lagi. Dan reaksi Imai adalah menghela nafas panjang dan mencengkeram safety beli dengan kuat. “Masa ia gua mau di unboxing sekarang. Mama Imai nggak siap……”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD