Ping
Setelah menutup telpon dari syam, satu notifikasi masuk. Siapa lagi kalau bukan orang yang sangat ingin ia hindari.
“Sebegitu bencinya ya lo sama gua, sampai-sampai lo nggk datang di hari pernikahan kita”
Membaca kalimat tersebut rasanya ingin Imai muntahkan semua makan siangnya tadi.
“Gua tahu lo udah baca chat gua!!!”
Merasa tersindir dengan chat tersebut, refleks Imai membuang handphonenya ke sembarang arah di kasurnya.
“Ini orang dukun kali ya……” keluhnya.
Secara bagaimana mungkin Roy tahu ia telah membaca chatnya, sedangkan yang ia lakukan hanya membaca dari pop up chat notifikasi saja.
“Imaii………”
“Iya bu……”
Baru saja Imai ingin beranjak dari kasur untuk menghampiri ibu, sekali lagi suara dering panggilan handphone berbunyi.
“Masa bodo” katanya lalu keluar kamar.
*****
Sedari tiga puluh menit lalu hanya suara deru mesin dan juga kresek-kresek radio yang terdengar. Baik Imai maupun Roy mereka sama-sama diam menulikan telinga, meskipun suara kresek-kresek radio tersebut sangat mengganggu.
Gengsi mereka benar-benar tinggi, tidak ada satu dari keduanya ingin menyudahi ke terdiaman mereka. Sedari kedatangan Roy kerumah tadi dan izin dengan baik ingin mengajak Imai jalan-jalan dengan dalih biar tidak menjadi gosip tetangga nantinya mereka tiba-tiba menikah.
Awalnya pak Yudi menolak usulan Roy tersebut, namun ada benarnya. Lebih baik mereka terlihat dekat agar tidak terjadi gosip yang bukan-bukan nantinya.
Meskipun mereka secara resmi sudah menikah baik secara agama dan juga negara. Entah nantinya bagaimana menjelaskan sewaktu resepsi kepada para tamu kenapa tidak ada akad nikah, itu urusan nanti.
Ya meskipun alasan tersebut hasil akal-akal Roy saja biar bisa bertemu Imai. Nyatanya setelah ijab kobul tadi pagi, tidak afdol tidak bertemu orangnya langsung.
“Hem hem mau sampai kapan gua cuman nyetirin angin doang” sungguh kalimat sindiran yang telak dan cukup membuat Imai kaget mendengar suara deep voice Roy. Namun tidak sepenuh Imai mengubah atensinya kearah Roy, rerumputan dan pohon-pohon di jalan lebih menarik dari pada suami barunya itu.
“Kenapa gua baru sadar suara dia deep voice banget yaa”
Sebab lelah diabaikan oleh Imai, serta suara kresek-kresek radio semakin menganggu akhirnya Roy mengacak saluran radio dan menemukan satu radio yang sedang memutar sebuah musik.
“Belajar memahami masa depan
Takkan yang disimpan akan tenang?
Melahirkan semua nada indah
Mencoba menjadi bahagiamu sendiri……”
Lagu yang sekilas menggambarkan posisi mereka, dibilang menyesal. Tentu saja tidak bagi Roy. Imai adalah perempuan yang ganggu dan mandiri, dari dulu ia tahu itu. Tetapi menjadi Imai adalah pasangannya, hingga saat ini ia tidak tahu apa motivasi awalnya.
Roy memelankan laju mobil, pandangannya kini mengarah ke Imai. Suasana jalan yang lenggang dan lurus saja membuatnya sedikit ada waktu untuk menatap perempuan itu.
Perempuan yang sedari kecil dulu selalu ia libatkan dalam persoalan hidupnya, kini sudah tumbuh menjadi perempuan yang luar biasa hebat. Bergelar sarjana dan bisa survive selama diperantauan.
Kini di balutan jilbab berwarna hitam kesukaan pandangannya nanar mengarah ke luar jendela mobil. Entah apa yang kini dipikirannya, hanya saja ia merasa sedikit kasihan lagi-lagi melibatkannya dalam hidupnya.
Suara sorak-sorak gadis-gadis lantar terdengar hingga kedalam kelas. Waktu masih menunjukkan pukul pagi. Bahkan bell tanda kelas pun belum terdengar, tetapi kehebohan di depan kelas 5 itu menjadi pusat perhatian yang menarik.
“Lempar sini, lempar sini!”
“Sini sini”
Suara yang saling bersahutan itu menjadi pemandangan yang menarik terutama bagi Roy sendiri.
“Ish kembaliin!!!” Suara itu.
Suara yang biasa akan meraung menangis ketika ia yang menjahili, pagi ini dibuat sedikit panik oleh teman-temannya Imai sendiri.
Perihal ikat rambut miliknya diambil paksa oleh teman-temannya yang sekedar ingin menjahilinya. Katanya sih meniru salah satu adegan ikonik sinetron anak remaja “arti sahabat”.
Memang Imai sedikit berbeda jika dibandingkan memakai ikat rambut model ekor kuda dan juga dengan rambut yang tergerai. Ditambah wajah merah padam yang disorot sinar matahari pagi yang kini di pelipisnya dipenuhi peluh.
“Tangkap zul!” Teriak delvina kepada laki-laki jangkun berkulit eksotis itu.
Zul yang merasa mendapat benda yang dilempar tepat kearahnya dengan refleks menangkap benda itu yang bukan lain lagi ikat rambut milik Imai.
“Cie……cie………”
Sorak sorai semakin menyalang, bukan sebuah rahasia lagi kalau Imai dan zul katanya memiliki sebuah hubungan. Entah siapa yang memulai tetapi hal itu sudah berlangsung dari dulu.
Bahkan zul yang notabenenya baru kembali lagi ke sekolah itu setelah satu tahun di kelas empat memilih pindah. Tidak lantas membuat gosip tersebut berubah kedudukan.
“Tuhhh…… kan……kalian sih” gerutu Imai.
“Zul lempar kesini!”pinta Imai yang memang sedari tadi posisinya berada dibawah.
Memang struktur bangunan sekolah mereka ini masih menggunakan bangunan gaya tradisional yaitu panggung. Jadi sedari tadi Imai dijailin ia berada di bawah, sedangkan teman-temannya berpencar ada yang di bawah dan di atas.
Entah kebetulan atau sengaja, zul juga pas sekali baru ingin memasuki kelas.
“Datangi dong……” goda ayuk sebagai pencetus pertama permainan itu.
Melihat suasana semakin tidak kondusif, Roy yang sedari tadi kedatangannya yang bahkan belum ke kelas sama sekali masih berdiri mengawasi di depan kelas 3 datang dan lalu menyerobot paksa ikat rambut milik Imai yang akan dilemparkan kembali ke arah Imai.
Seketika yang semula riuh, kini dalam sekejap senyap dan berfokus pada Roy yang dengan acuh berjalan masuk kedalam kelas.
Merasa dirinya terancam dengan keberadaan Roy, terlebih barang miliknya yang baru saja dibelikan kakaknya itu diambil Imai dengan sigap berlari menaiki tangga dan masuk ke kelas.
“Roy! Itu punya aku!” Pekiknya setibanya di pintu kelas.
Roy yang baru saja duduk di kursinya memainkan ikat rambut tersebut. “Cantik” ujarnya yang didengar seisi kelas.
“Buat aku ya” tambahnya lagi sambil mengacungkan ke udara meminta persetujuan Imai.
Baru saja Imai ingin melawan dan melabrak ke meja milik Roy. Tepat sekali bell masuk berbunyi dan sudah ada guru yang menuju ke kelas mereka mau tidak mau Imai dan berwajah masam dan duduk dikursi ya yang berada di depan kelas.
Sedangkan Roy yang duduk di kursi barisan belakang asik memainkan ikat rambut berwarna biru muda itu.
Melihat hal itu Imai mendengus sebal dan berusaha di sabarkan oleh ita. Dan teman-teman lain yang tadinya terlibat sebagai awal kehebohan bergumam minta maaf.