"Anaknya Niko? Hahaha …." Riyanti mengusap kasar air matanya. "Ya, kamu benar. Ini anaknya Niko. Jadi, jangan pernah berpikir untuk mencariku dan anak ini." Melemparkan hasil tes dari dokter kandungan kepada Avan, yang tengah tertunduk di depan lemari. Sakit? Marah? Tidak!! Riyanti tidak merasakan dua hal tersebut karena sikap Avan selama ini telah melatih kesabarannya. Hatinya telah mati rasa sehingga tidak mampu lagi merasakan apapun saat Avan mengatakan anak yang ada di rahimnya, merupakan anak Niko. Riyanti tidak habis pikir Avan mampu berpikir sepicik itu terhadap dirinya. Sudah jelas-jelas ia dan Zahra adalah orang yang sangat berbeda. Tidak cukupkah baginya menjadi orang pertama yang mengambil kegadisannya, sebagai bukti ia adalah Riyanti. Bukan Zahra. "Pak, tolong datang ke

