Uang Duka Cita

1897 Words
“Nenek?” Nadia bertanya dengan suara nyaris berbisik, matanya membulat tak percaya. Perempuan tua yang kini duduk tenang di sofa ruang tamu itu benar-benar tampak berbeda dari terakhir kali Nadia melihatnya. Tidak ada lagi pakaian lusuh—yang ada kini adalah sosok dengan penampilan rapi, rambut disisir ke belakang, gaun bersih berwarna krem lembut, dan senyum yang... entah kenapa membuat d**a Nadia terasa berat. “Apa kabar, anak cantik? Apa aku mengganggu tidurmu?” Suara nenek itu pelan namun terdengar jelas, seperti bergema dalam keheningan pagi. Nadia menggeleng pelan. Ia lalu melangkah mendekat dan duduk di seberang si nenek. “Aku lega aku tidak mengganggu tidurmu. Saat aku memasangkan kembali gelang itu, kau tertidur sangat lelap, jadi aku sempat ragu... mungkin sekarang ini aku malah mengganggumu,” ucap si nenek sambil tersenyum lebar. Nadia membeku. Kata-kata itu menghantam kepalanya seperti badai. ‘Gelang ini… dia yang memasangkannya…’ ucapnya dalam hati, tak percaya. “Jadi Nenek yang…” Nadia mencoba bicara, namun kata-kata tercekat di tenggorokannya. Napasnya memburu, pikirannya tak karuan. Si nenek mengangguk pelan, lalu tertawa kecil. “Jadi bagaimana... dengan nama, dengan nama apa aku memanggilmu sekarang? Jessica atau Nadia?” Belum sempat Nadia berbicara, nenek kembali angkat suara. “Aku akan tetap memanggilmu Nadia. Meskipun sekarang, semua orang memanggilmu Jessica. Karena aku tahu, semua ingatan yang kau miliki adalah ingatanmu sebelumnya—ingatan Nadia.” Nadia terbelalak. ‘Bagaimana bisa Nenek ini tahu namaku? Bagaimana bisa ia tahu bahwa jiwaku ada di dalam tubuh Jessica? Bagaimana bisa ia tahu bahwa aku tidak memiliki ingatan Jessica—pemilik tubuh ini? Siapa sebenarnya Nenek ini?’ batin Nadia bertanya, tubuhnya bergetar. Ia meremas tangannya sendiri, seakan mencoba tetap berpijak pada kenyataan. “Jelaskan semua padaku, Nek. Jangan membuatku bingung seperti ini!” ucap Nadia, suaranya meninggi karena campuran emosi yang meledak—marah, takut, bingung. Nenek itu bangkit dari duduknya dengan tenang, senyum sama sekali tak pudar dari wajahnya. “Aku datang bukan untuk menjelaskan segalanya... tapi hanya untuk memberitahumu bahwa aku yang memasang kembali gelang itu ke tanganmu.” Nadia ikut berdiri, tangannya terulur seakan ingin menahan si nenek. “Tapi aku ingin tahu semuanya! Kenapa bisa seperti ini? Tolong jangan pergi dulu!” Nenek itu hanya memandangnya lembut, lalu menatap gelang itu. “Kau akan mengerti... lambat laun. Ingatlah untuk selalu menjaga dirimu, Nadia.” Dan tepat setelah itu—nenek itu menghilang. Bukan berjalan, bukan pergi lewat pintu—hilang. Seperti kabut yang tersapu angin. Tidak ada bayangan, tidak ada jejak. Hanya udara yang mendadak dingin dan ruang tamu yang terasa terlalu sepi. Nadia menatap kosong tempat si nenek berdiri tadi. Dadanya berdegup keras. Ia ingin berpikir itu hanya mimpi, tapi gelang di tangannya membuktikan sebaliknya. “Nyonya? Tamunya ke mana? Apa sudah pulang?” tanya Rani sambil membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring kue kecil. Nadia menoleh cepat. “Sudah, Bi. Baru saja,” jawabnya lirih, nyaris berbisik. Meski dalam hati... ia merasa kata 'pulang' tak tepat digunakan. ‘Menghilang’ adalah kata yang lebih masuk akal, jika segalanya bisa disebut masuk akal. “Sayang sekali, padahal sudah Bibi buatkan makanan dan minuman.” Rani menghela napas pelan, lalu berbalik kembali ke dapur. Nadia menatap ruang tamu sekali lagi. Segalanya terasa seperti teka-teki yang tak punya potongan yang pas. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah ke arah tangga. Ia akan bersiap. Hari ini, ia akan pergi ke rumah lamanya. Namun langkah Nadia mendadak terhenti, ia bingung. Tidak mungkin ia kembali ke rumah lamanya begitu saja. Ia harus punya alasan kuat kenapa datang ke rumah itu. Nadia terdiam, memikirkan alasan yang tepat. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Nadia memutar langkahnya ke arah dapur, ia ingin menemui Rani. “Bi,” panggil Nadia pelan setelah sampai di dapur. Rani yang sedang bersih-bersih sedikit terkejut. “Kenapa, Nyonya?” tanyanya lembut. Dengan nada ragu Nadia berucap, “bolehkah aku meminjam uang Bibi?” Nadia merasa tidak enak sekarang. Rani terkejut mendengar pertanyaan itu namun sedetik kemudian ia terkekeh pelan. “Sepertinya, Nyonya juga lupa kalau Nyonya memiliki banyak uang.” “Aku memiliki banyak uang?” tanya Nadia dengan nada tidak percaya. Rani mengangguk cepat. “Tentu saja. Uang Nyonya ada di brankas di lemari, kode brankas Nyonya tertulis di buku harian Nyonya—buku bersampul biru muda.” “Baik Bi, terima kasih banyak.” Rani hanya mengangguk sebagai respons kemudian Nadia segera berlalu meninggalkan dapur. ‘Sepertinya Bi Rani adalah orang yang sangat dipercayai Jessica, Bi Rani seperti tahu segalanya tentang Jessica. Dan apakah tidak apa-apa mengambil uang itu? Aku sangat memerlukannya untuk kembali menemui Mama, dan yang lainnya,’ ucap Nadia dalam hati. ***** Nadia menghembuskan napas dalam-dalam, satu kali… dua kali… tiga kali, mencoba menenangkan degup jantungnya yang terus berpacu tak terkendali. Tangannya sedikit gemetar saat terangkat ke depan, jari-jarinya mengepal lalu mengetuk pelan pintu rumah. Tok. Tok. Tok. Beberapa detik hening. Jantungnya berpacu semakin kencang saat terdengar suara langkah dari dalam. Kemudian pintu itu terbuka, menampakkan sosok perempuan muda dengan rambut panjang tergerai dan sorot mata lembut. “Anda siapa ya?” tanya perempuan itu dengan nada lembut, tubuhnya sedikit menghalangi pintu. “Jessica. Aku… Jessica.” Alis perempuan itu—Julia—berkerut. Pandangannya menelusuri perempuan yang ada di hadapannya dari atas hingga bawah. “Ada perlu apa Anda ke sini?” Nadia menarik napas panjang, mencoba terlihat tenang. “Boleh aku bertemu dengan orang tua Nadia?” Mendengar nama Nadia membuat keterkejutan melintas di sorot mata Julia. “Bertemu untuk apa?” tanyanya dengan nada lirih. Ada luka di nada suaranya. Ada tangis tertahan di sorot matanya. Bahkan ada penyesalan di raut wajahnya. “Aku ingin memberikan uang duka cita. Aku... aku atasan Nadia di kantor,” jawab Nadia cepat, mencoba terdengar meyakinkan. Mata Julia membelalak sedikit, pasalnya ia tahu bahwa Nadia belum terlalu lama bekerja di kantor itu bahkan yang datang melayat mewakili kantor beberapa hari yang lalu hanya Linda. Linda sendiri adalah teman lama Nadia bahkan sebelum mereka bekerja di tempat yang sama. “Silakan masuk,” ucap Julia sopan sambil membuka pintu lebih lebar. Nadia mengangguk kemudian melangkah masuk dengan hati-hati, seolah setiap inci lantai rumah itu bisa membawa kenangan yang menyesakkan. Aroma rumah itu sama bahkan setelah ia tidak lagi ada di dalamnya—sedikit campuran kayu tua, parfum murahan, dan bau masakan yang menempel di dinding. Nadia mengamati sekeliling ruang tamu yang sederhana namun dipenuhi perabot lama. Sofa coklat tua di sudut ruangan. Rak kayu dengan beberapa foto keluarga berbingkai perak pudar. Di salah satu sudut, ia melihat potret seorang gadis kecil tersenyum lebar… wajah Nadia. Atau... wajahnya sendiri, ketika ia masih ada dalam tubuhnya sebelumnya. “Silahkan duduk, saya akan panggilkan mama saya,” ujar Julia singkat lalu segera berlalu, meninggalkan Nadia sendiri di ruang tamu yang kini terasa seperti lorong waktu. Julia mengetuk pintu kamar mamanya pelan, dua kali, sebelum memutuskannya untuk masuk. “Ma, ada atasan Kak Nadia yang datang,” ucapnya langsung, tanpa basa-basi. Raina, yang tengah duduk di tepi ranjang sambil melipat pakaian, mendongak dengan dahi berkerut. Tatapannya memancarkan kebingungan, seolah mencoba mencerna kata-kata Julia. “Atasan?” ulangnya pelan, suara parau penuh tanda tanya. “Iya, atasan,” sahut Julia, sambil berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Ia berdiri di sisi ranjang, tangan menyentuh tiang kayu ukiran tua yang mulai mengelupas. “Katanya, dia ingin memberikan uang duka cita kepada kita.” Mata Raina langsung berbinar. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Nadia memang sangat berjasa untuk keluarga kita,” ucapnya. “Bahkan setelah dia mati, dia masih bisa memberikan sesuatu untuk kita. Sungguh anak yang berbakti… sangat disayangkan umurnya pendek.” “Ma, jangan berkata seperti itu. Kak Nadia pasti sedih mendengar apa yang dikatakan Mama,” ucap Julia menegur Raina. “Nadia sudah mati, tidak mungkin dia mendengar apa yang Mama katakan. Lagi pula Mama tidak peduli dia dengar atau tidak,” ucap Raina sedikit kesal. Raina berdiri perlahan, ia melangkah ke depan cermin kecil yang tergantung di dinding, lalu mulai merapikan rambutnya yang sedikit kusut. Tangannya menyisir helaian uban yang menyembul di sela-sela rambut hitamnya, mencoba tampak lebih rapi di hadapan orang asing yang akan ia temui. “Ayo kita ke ruang tamu,” kata Raina kemudian berjalan perlahan. Julia mengangguk, lalu mengikuti dari belakang. Ia melangkah dengan pelan. Nadia menghembuskan napas kasar berkali-kali saat langkah kaki mendekat. Ia terdiam kaku di ruang tamu yang sempit itu, mencoba menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, meski dadanya bergemuruh. Raina muncul lebih dulu, disusul Julia di belakangnya. Wajah Raina langsung merekah dengan senyum lebar, seolah tidak sedang berduka. “Terima kasih sudah datang ke sini,” ucap Raina ramah, lalu menjulurkan tangan untuk menyalami tamunya. Setelah itu ia duduk di sofa, Julia ikut duduk di sampingnya. “Sama-sama,” jawab Nadia singkat. Suaranya datar. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya—semacam campuran getir dan kecewa. Tapi ia tidak bisa benar-benar menamai perasaan itu. Raina menatap penuh kelembutan yang dibuat-buat. Ia menarik napas panjang sebelum berbicara. “Selama hidupnya, Nadia adalah anak yang sangat baik. Sangat berbakti.” Raina berhenti sejenak, menatap dinding seolah tengah mengenang sesuatu. “Dia melakukan apa pun untuk keluarga, tidak pernah mengeluh, dan selalu bekerja keras. Dia bahkan sering menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri.” Air mata mulai mengalir dari sudut mata Raina. Ia mengangkat tangannya dan menghapusnya dengan dramatis, lalu melanjutkan ucapannya dengan suara yang mulai bergetar. “Saya sangat menyayangi Nadia. Dia orang yang paling saya sayangi di dunia ini.” Raina mulai menangis tersedu. Nadia hanya diam. Tidak ada getaran haru, tidak ada rasa sedih yang menyusup ke relung hatinya. Ia tahu bahwa semua yang dikatakan Raina barusan tidak lebih dari sandiwara. Nadia menatap Raina dalam diam, lalu tersenyum samar, dingin. “Nadia pasti sangat bahagia memiliki ibu seperti Anda.” Raina menunduk, menempatkan telapak tangan di d**a. “Saya hanya melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Semoga… Nadia di sana bisa bahagia.” Nadia membuka tas tangan kecil yang ia bawa. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di atas meja kayu yang permukaannya mulai mengelupas. “Saya turut berbelasungkawa atas kepergian Nadia,” katanya tenang. ‘Rasanya aneh, mengatakan belasungkawa atas kematian diri sendiri,’ batin Nadia. Refleks, mata Raina membelalak kecil melihat amplop itu. Tangannya segera bergerak mengambilnya, seolah takut amplop itu akan berubah pikiran dan menghilang. “Terima kasih banyak,” ucapnya cepat. Ia bahkan nyaris tersenyum lebar. Namun saat tangan Raina ingin membuka amplop itu untuk mengintip isinya, Julia menahan pergelangan tangannya dengan gerakan halus. “Ma…” Nadia hanya mengamati itu. Penuh diam. Penuh luka yang tidak berdarah. “Kalau begitu, saya permisi,” kata Nadia akhirnya, lalu berdiri. Ada tekanan berat di dadanya yang membuat napasnya nyaris tertahan. Ia tak sanggup melihat lebih lama lagi kebohongan yang dipertontonkan di depan matanya sendiri. Raina dan Julia pun ikut berdiri. “Sekali lagi, terima kasih banyak,” ucap Raina dengan suara manis yang penuh kepalsuan. Nadia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, lalu berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Begitu menjejakkan kaki di luar, angin menyambutnya dengan lembut. Nadia menghentikan langkahnya di depan pagar dan menatap ke langit. Wajahnya masih datar, tapi sorot matanya mengandung luka yang dalam. Ia sadar. Semua yang terjadi barusan hanya menegaskan satu hal—bahwa selama ini, ia tidak pernah benar-benar dianggap. Raina tidak kehilangan sosoknya; ia hanya kehilangan mesin penghasil uang. Bagi Reina, ia hanya sapi perah yang tidak lagi bisa diperah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD