Malam Penuh Tanya

1691 Words
Nadia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Baru saja ia hendak memegang gagang pintu, suara Rani menghentikannya. “Nyonya Jessica…” panggil perempuan paruh baya itu dengan nada heran, lalu bertanya, “Tuan Ronald dan… Lily, kenapa mereka ke sini?” Nadia sempat terdiam. Bukan karena pertanyaannya sulit dijawab—melainkan karena sesuatu yang aneh terdengar di telinganya. Kenapa Rani menyebut nama Lily… tanpa embel-embel ‘nyonya’? Nadia mengerjap, buru-buru menepis kebingungan itu. Ia mencoba tetap tenang dan menjawab, “Mereka datang untuk melihat keadaanku, Bi,” katanya sambil mengangkat kotak makan dari Lily dan menunjukkan isinya. “Dia juga memberikanku ini. Sushi…” Mendengar kata ‘sushi’ membuat wajah Rani langsung berubah drastis. Matanya terbelalak, napasnya tertahan. “Apa? Sushi? Astaga… pasti Lily sengaja ingin mencelakai Nyonya!” serunya panik. Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba memahami maksud Rani. “Mencelakai? Maksud Bibi apa?” Rani menepuk dahi sendiri, seolah baru tersadar akan sesuatu. “Astaga… Bibi lupa. Nyonya sedang tidak mengingat apa pun, ya…” Rani menatap nyonya-nya penuh iba, lalu melanjutkan dengan suara pelan tapi jelas. “Nyonya alergi ikan tuna. Dan sushi yang sering Lily bawa, selalu mengandung tuna. Dia tahu itu, Nyonya. Tapi tetap memberikannya. Itu bukan kebetulan.” Nadia membeku di tempatnya. Kotak makan di tangannya kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. “Dia pasti ingin Nyonya masuk rumah sakit lagi. Atau… dia ingin memancing emosi Nyonya, membuat Nyonya marah di depan Tuan Ronald. Lalu saat Tuan Ronald menyaksikan kemarahan Nyonya, dia akan menyangka Nyonya anak yang tidak punya sopan santun, sementara Lily akan berpura-pura tidak tahu bahwa Nyonya punya alergi. Padahal dia tahu. Dia tahu semuanya,” tutur Rani penuh amarah yang ditahan Rani kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih dalam. “Lily selalu begitu… manis di luar, tapi penuh racun di dalam. Dia ingin memecah belah ayah dan anak, membuat Nyonya terlihat buruk di mata Tuan Ronald. Tapi kali ini Bibi bersyukur. Bersyukur karena Nyonya tidak mengingat hal itu. Kalau tidak… Nyonya pasti sangat marah.” Nadia hanya terdiam. Kata-kata Rani menari-nari di benaknya. Sulit dipercaya. Wajah lembut Lily, senyuman hangat yang tadi menyambutnya… semua itu kini dipenuhi keraguan. ‘Apakah benar semua hanya topeng?’ Pelan-pelan, ia memandang kotak makan di tangannya. Ia tak ingin mengambil resiko, bahkan jika dia tidak alergi terhadap tuna, tubuh Jessica memilikinya. Jika ada satu hal yang bisa ia percayai sekarang, maka itu adalah nalurinya… dan Rani, satu-satunya orang yang tampak berada di sisinya tanpa pamrih. “Ini, Bi…” ucap Nadia lirih, menyodorkan kotak makan itu. “Ambil saja sushinya. Aku tidak ingin memakannya.” Rani mengambil kotak itu dari tangan Nadia dengan hati-hati. “Sekarang, Nyonya istirahat saja, ya. Jangan terlalu dipikirkan.” Nadia mengangguk pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu kamar dan melangkah masuk. Namun sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan yang belum bisa dijawab olehnya. ‘Apakah Lily benar-benar sejahat itu?’ ***** Nadia terbangun tiba-tiba saat jam digital di nakas menunjukkan pukul 23.45. Suasana kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan. Ia mengerjap pelan, lalu mengangkat tangannya untuk mengucek mata yang masih terasa berat. Namun saat itu juga matanya langsung terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Di tangannya—pergelangan tangannya. Gelang itu. Gelang yang tadi sudah ia buang ke tempat sampah kini melingkar kembali, seperti tak pernah hilang. Seperti tak pernah dibuang. Gelang kecil itu tampak menantang logika dan kenyataan. Nadia terdiam membeku beberapa detik. Lalu dengan panik, ia mengucek matanya berulang kali. Berharap ia hanya sedang bermimpi atau mungkin penglihatannya kabur karena kantuk. Tapi tidak. Setiap kali ia membuka matanya, gelang itu tetap ada. Terpasang sempurna, seolah memang tak pernah meninggalkan kulitnya. “Tidak mungkin…” bisiknya tertahan. Dengan cepat, ia menyingkap selimut dan melompat turun dari ranjang. Telapak kakinya menjejak dinginnya lantai marmer, tapi ia tidak peduli. Ia membuka pintu kamar dengan tergesa, lalu menuruni anak tangga satu per satu tanpa suara—hanya langkah cepat dan hati yang berdebar kencang mengiringi setiap gerakannya. Ruang tengah sepi. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Nadia langsung menuju tempat, tempat di mana tadi ia membuang gelang itu. Napasnya memburu saat ia melihat tempat sampah masih ada di sudut ruangan. Dengan gerakan ragu, ia membuka tutupnya perlahan. Aroma sisa makanan menyengat, namun Nadia tak peduli. Ia mulai mengaduk isi tempat sampah itu, satu per satu sampah ia singkirkan dengan tangan kosong—tidak memedulikan bau, tidak peduli kotor. Tapi hasilnya nihil. Gelang itu tidak ada. Nadia terduduk pelan di lantai. Tangannya yang masih memegang beberapa sobekan plastik kini bergetar. Ia menatap pergelangan tangannya lagi—gelang itu masih ada di sana. Diam. Tenang. “Bagaimana mungkin? Gelang itu tidak mungkin terpasang sendiri. Tidak mungkin bisa kembali jika tidak ada yang mengambilnya… dan memasangkannya kembali saat aku tertidur.” ucapnya lirih, tidak percaya. “Lalu siapa? Siapa yang cukup dekat untuk masuk ke kamar? Siapa yang tahu bahwa gelang itu dibuang… dan cukup nekat untuk mengambilnya dari tempat sampah, lalu diam-diam mengembalikannya? Apakah seseorang masuk ke kamar tanpa sepengetahuanku?” Nadia menghembuskan nafas kasar, mencoba mengendalikan kebingungannya. Hanya satu hal yang Nadia tahu pasti. Gelang itu tidak kembali sendiri. Dan jika ada yang memasangkannya kembali padanya saat ia tidur…berarti seseorang telah masuk ke kamarnya… malam ini. “Jessica?” Suara bariton itu terdengar jelas di tengah keheningan yang lengang. Nadia langsung menoleh terkejut ke arah sumber suara. Theodor berdiri dengan setelan santai.. Tatapan mata Theodor tak menyembunyikan keterkejutannya. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya lagi, kini melangkah mendekat. “Apa yang kau lakukan di jam segini... dan kenapa kau—” ia berhenti sejenak, memandang perempuan yang kini duduk di depan tempat sampah, “bermain sampah?” Nada suaranya tercampur antara bingung dan tidak percaya. Nadia masih terduduk di lantai dengan tangannya yang kotor, rambutnya berantakan, dan ekspresinya terlihat linglung. Ia mendongak pelan menatap Theodor, lalu menjawab dengan suara pelan, “Aku hanya... mencari sesuatu.” Alis Theodor bertaut. “Mencari sesuatu?” ulangnya pelan. Lalu ia menghela napas pendek, seolah berusaha menahan komentar sarkastik yang hampir saja keluar dari mulutnya. “Mencari sesuatu di tempat sampah? Di jam seperti ini?” Ia menggeleng perlahan, kemudian menatap dengan ekspresi tidak habis pikir. Nadia tak menjawab. Ia hanya diam, sorot matanya mengambang—seakan pikirannya masih tertinggal di satu dimensi lain. Masih dihantui oleh gelang yang kini kembali melingkar di pergelangan tangannya. Ia menggenggam pergelangan tangan kanannya diam-diam, seolah mencoba memastikan benda itu nyata. Theodor menghela napas lagi. Kali ini lebih berat. Ia menatap Nadia dari kepala hingga ujung kaki. “Lebih baik kau mandi sekarang. Jujur saja, baumu... sangat-sangat tidak enak. Bau sampah bercampur keringat. Kalau ada yang melihatmu sekarang, mereka mungkin mengira kau sudah gila.” Nadia akhirnya berdiri. Tubuhnya terasa sedikit lelah, belum lagi pikirannya masih berputar-putar tak menentu. Namun ia tidak membantah, hanya menjawab pelan, “Baiklah…” Sebelum beranjak, Nadia sempat menoleh ke arah tempat sampah itu lagi. Sorot matanya dalam, penuh tanya. Dia menatap wadah itu selama beberapa detik, seolah berharap jawabannya tersembunyi di antara sobekan plastik dan sisa makanan. Theodor memperhatikannya dari belakang, lalu bertanya, “Apa sebenarnya yang kau cari?” Nadia tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan, pergi dengan langkah berat dan hati yang semakin dipenuhi misteri. Dan saat bayangan tubuhnya menghilang di ujung tangga, Theodor masih berdiri diam, merasa ada sesuatu yang tidak biasa. ***** Setelah menyelesaikan mandinya, Nadia berjalan pelan menuju pintu kamar. Uap hangat masih menempel di kulitnya. Tubuhnya sudah bersih, tapi pikirannya masih keruh. Begitu sampai di pintu kamar, tanpa pikir panjang, ia segera memutar kunci di pintu. Biasanya ia tidak pernah mengunci pintu kamar, tapi malam ini berbeda. Ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan olehnya. Ada rasa yang perlahan mengendap, membentuk sesuatu yang tak bisa dijelaskan olehnya. Nadia melangkah ke meja kecil di samping ranjang. Tangannya langsung menuju gelang di pergelangan tangannya—gelang misterius itu. Perlahan dia melepasnya. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka laci meja dan memasukkan gelang itu ke dalamnya. Sebelum menutup laci, Jessica sempat menatap gelang itu lekat-lekat. Seakan ingin mendapatkan jawaban dari benda mati yang diam tak bersuara. Setelah beberapa detik menatap, dia menutup laci itu dengan lembut. Nadia lalu melangkah ke ranjang, duduk sejenak sebelum akhirnya membaringkan tubuh. Posisinya terlentang, mata menatap langit-langit kamar yang temaram oleh cahaya lampu tidur. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya, pikirannya pun belum juga tenang. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar kembali dalam kepalanya: ‘Bagaimana gelang itu bisa kembali? Siapa yang memasangkannya di tangannya saat ia tidur?’ Kepalanya penuh. Dadanya terasa sesak. Namun perlahan, kelopak matanya mulai berat. Meski pikirannya masih terbang ke mana-mana, tubuhnya sudah lelah. Sangat lelah. Dan akhirnya, dalam diam yang panjang, matanya pun terpejam. ***** Kelopak mata Nadia perlahan terbuka. Sesaat ia hanya diam, membiarkan kesadarannya kembali menyatu dengan dunia nyata. Tapi begitu ia mengangkat tangannya—jantungnya seperti dipukul palu. Matanya terbelalak, napasnya memburu. Di sana. Di pergelangan tangan kanannya. Gelang itu. Lagi-lagi gelang itu kembali. Nadia duduk tergesa, menatap benda itu seakan bisa meledak kapan saja. Tubuhnya membeku, tenggorokannya terasa kering. Dia bahkan harus menelan ludah susah payah hanya untuk menenangkan dirinya. Perasaan di dadanya bergemuruh—antara terkejut, bingung, dan ketakutan yang mulai merayap naik. Gelang itu jelas sudah disimpan olehnya di dalam laci. Tertutup rapat. Ketukan pelan di pintu membuyarkan semua perasaan itu. Nadia tersentak dan langsung bangkit dari tempat tidur, jantungnya masih berpacu kencang. Dengan langkah cepat, ia menuju pintu dan membukanya. “Bi Rani, kenapa, Bi?” tanya Nadia cepat, suaranya sedikit gemetar, meski berusaha terdengar biasa. Rani berdiri di depan pintu dengan wajah agak bingung, tapi segera menyampaikan maksud kedatangannya. “Ada yang mencari Nyonya. Sekarang dia ada di ruang tamu.” Nadia mengerutkan kening. “Siapa, Bi, yang cari aku?” tanyanya heran. “Siapa yang datang sepagi ini?” Rani menggeleng, suaranya terdengar pelan namun penuh rasa ingin tahu. “Bibi tidak tahu siapa. Tapi katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Nyonya.” Nadia mengangguk pelan, meski pikirannya belum sepenuhnya bisa fokus. “Baik, aku akan bersiap-siap dulu baru turun, Bi.” Tanpa menunggu lebih lama, Nadia melangkah ke kamar mandi. Setiap langkahnya terasa berat, pikirannya masih tertinggal di atas ranjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD