Nadia memasuki gedung megah itu dengan langkah tenang namun hati yang sedikit berdebar. Gaun hitam sederhana yang membalut tubuhnya tampak begitu kontras di tengah keramaian yang dipenuhi warna-warna mencolok—merah marun, biru elektrik, hijau zamrud. Ia memang tidak pernah menyukai warna yang mencolok. Sejak dulu, warna hitam menjadi pilihannya—tenang, elegan, dan tak mencolok. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian. Namun perhatian justru datang padanya. Langkahnya baru beberapa meter dari pintu masuk saat bisik-bisik mulai terdengar. “Dia datang lagi, semoga kali ini dia tidak membuat keributan seperti tahun lalu.” “Aku masih ingat bagaimana acara tahun lalu sangat kacau karena dirinya, dia sangat tidak tahu malu dengan datang lagi.” “Tapi kurasa jika aku jadi dia, aku akan melakukan

