“Saka, aku rasa kaulah yang ada di balik semuanya,” ucap Nadia dengan nada penuh tuduhan. Saka tersentak, ekspresi wajahnya seketika mengeras. “Apa kau gila, Jes? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu?” Suaranya meninggi, penuh ketidakpercayaan. “Kalau aku yang ada di balik semuanya, mana mungkin aku memintamu menceritakan detail kenapa kau bisa terkunci di ruangan itu? Logikanya di mana?” Nadia menggigit bibir bawahnya. Ia sendiri tidak yakin, apakah kata-kata itu keluar karena pengaruh ucapan Melani yang terus berputar di kepalanya, ataukah karena dirinya sudah terlalu waspada dan tak lagi bisa percaya pada siapa pun. “Mungkin kau sengaja melakukan itu… agar bisa menutupinya dengan pura-pura tak tahu apa-apa.” “Gila.” Saka menggeleng keras, sorot matanya campuran an

