“Danu, Didit. Kalian berdua pasti berbohong!” Resa melempar tatapan tajam, nada suaranya meninggi, penuh emosi yang meledak-ledak. “Kami tidak berbohong, Res. Kami jujur,” sahut Danu cepat. “Perempuan itu tidak ada saat kami masuk ke ruang pribadi itu.” Resa melangkah maju, wajahnya memerah karena marah. “Tidak mungkin! Tidak mungkin dia tidak ada! Tidak mungkin dia bisa keluar dari ruang pribadi itu tanpa kunci.” Suaranya bergetar pelan, bukan hanya karena emosi, tapi juga karena rasa frustasi yang menyesakkan. Edo, yang sejak tadi duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, akhirnya angkat suara. “Sudahlah, Res,” ucapnya dengan nada malas, bahkan tanpa menatap Resa. Mata Resa langsung beralih ke Edo, tatapannya menusuk. “Jangan katakan sudahlah, Ed. Kalau Danu dan Didit gagal, artinya

