“Kenapa Nyonya semalam pulang dalam keadaan berantakan?” tanya Rani sambil menatap Nadia yang tengah menikmati sarapannya di meja makan. Tatapan Rani lembut, tapi di baliknya tersimpan rasa khawatir yang sulit ia sembunyikan. Nadia tidak langsung menjawab. Ia hanya memotong potongan kecil roti di hadapannya, lalu memasukkannya ke mulut. Gerakannya pelan, seolah setiap kunyahan adalah usaha untuk menenangkan diri. Matanya kosong, tidak berani menatap Rani. Rani menunggu beberapa detik sebelum kembali bicara, kali ini suaranya lebih pelan, penuh pengertian. “Kalau Nyonya tidak ingin menceritakan sekarang, tidak apa-apa. Bibi tidak akan memaksa. Bibi cuma ingin mengingatkan… tidak baik kalau semuanya dipendam sendiri. Kadang, bercerita bisa membuat beban sedikit lebih ringan.” Kalimat itu

