Ruangan Tak Berbatas

1707 Words
Malam merayap ketika Nadia akhirnya tiba di rumah. Langit sudah gelap, dan suara kendaraan di kejauhan terdengar samar, dibungkus udara yang mulai dingin. Perutnya mulai berontak, mengingatkan bahwa ia belum makan sejak siang tadi. Tapi meskipun rasa lapar itu menyiksa, Nadia tidak menyesal telah memberikan makanannya pada nenek tua di halte tadi. Nadia baru saja membuka pintu ketika suara tajam menyambutnya. “Kenapa kau lama sekali pulangnya, Nadia?” Suara itu menusuk, penuh kekesalan dan kemarahan yang tak disembunyikan. Nadia menunduk. “Maafkan aku, Ma. Aku bukannya sengaja pulang terlambat. Busnya lama sekali datang, dan jalanan macet,” jawabannya jujur, tanpa tambahan, tanpa alasan buatan. Namun, seperti biasa, kejujurannya tak pernah cukup. “Kau memang yang paling pandai mencari alasan, Nadia. Sampai bosan aku mendengar semua alasanmu,” ucap Raina ketus, tatapannya tajam seperti belati. “Cepat duduk,” perintah Raina. Tanpa membantah, Nadia menuruti. Ia duduk di sofa tua yang sudah mulai usang, tepat di samping Raina. “Tunjukkan padaku gaji yang kau terima bulan ini,” desak Raina, suaranya mengandung penuntutan yang tak bisa ditawar. Nadia membuka ponselnya dan menyerahkannya kepada Raina. Tak ada raut kecewa atau keberatan di wajahnya. Hanya kelelahan. Raina menatap angka di layar ponsel itu, dan tersenyum puas. “Kirim semua uang itu padaku sekarang juga,” ucapnya. Nadia menggigit bibir bawahnya, lalu memberanikan diri untuk bertanya, “Ma... bisakah aku mengambil dua ratus ribu saja? Aku ingin sekali menonton konser. Hanya itu.” Raina menoleh, tatapannya berubah dingin. “Tidak. Kau tidak bisa mengambil sepeser pun. Untuk apa menonton konser? Itu hanya pemborosan,” jawab Raina datar. Sebelum Nadia sempat mengatakan apa pun, suara langkah tergesa terdengar dari arah kamar. Julia muncul, dengan ponsel di tangannya. Ia menghampiri Raina dengan wajah semringah. “Ma, bisakah Mama membelikanku ini?” tanya Julia sembari menunjukkan foto tas keluaran terbaru. “Semua teman-temanku sudah punya. Aku saja yang belum.” Raina berdecak, tapi senyumnya tidak pernah benar-benar hilang. “Kemarin kau baru beli sepatu, sekarang minta tas? Banyak sekali kemauanmu, Julia.” “Sepatu dan tas itu berbeda, Ma,” sahut Julia cepat. “Jadi bagaimana? Mama belikan atau tidak?” “Baiklah,” Raina akhirnya setuju. “Berapa harganya?” “Delapan ratus,” jawab Julia singkat. “Terima kasih, Mama! Mama memang yang terbaik. Aku sayang sekali pada Mama!” serunya sambil memeluk Raina erat. Raina tertawa kecil dan membalas pelukan itu. “Iya, iya. Mama juga sayang padamu Julia.” Nadia menyaksikan semua itu dari tempat duduknya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya datar, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Namun di dalam hatinya, rasa iri dan sepi bergemuruh. Ia hanya ingin dicintai, seperti dulu. Seperti dulu ketika ia masih merasa bagian dari keluarga ini. Ketika Julia akhirnya berlalu dan hanya mereka berdua yang tersisa, Nadia menoleh ke arah Raina. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. “Apakah Mama bisa menyayangiku seperti dulu lagi?” Raina mengerutkan alis. “Apa yang kau bicarakan, Nadia? Kenapa kau bicara aneh seperti ini? Apa ada yang salah dengan kepalamu?” “Mama dulu menyayangiku... seperti Mama menyayangi Julia. Aku hanya ingin Mama menyayangiku seperti dulu lagi.” Tatapan Nadia lurus menatap Raina, matanya dipenuhi harapan yang nyaris putus. Raina hanya memutar bola mata, lalu bersuara malas, “Aku menyayangimu, Nadia. Kalau aku tidak menyayangimu, sudah dari dulu kau ku usir dari rumah ini.” Ucapan itu menghantam seperti tamparan. Nadia hanya diam. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Mungkin memang tidak ada yang perlu dikatakan. “Kau tak perlu bicara lagi,” lanjut Raina. “Semakin banyak kau bicara, semakin aku kesal. Sekarang pergilah ke warung, dan beli beras juga telur. Kita kehabisan. Dan jangan lupa, kirimkan semua uangmu sekarang juga.” Nadia hanya mengangguk pelan, namun tubuhnya tak segera bergerak. Ia masih duduk di tempatnya, seperti tertahan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Melihat itu, kemarahan Raina langsung meledak. “Kenapa kau masih duduk? Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan? Atau kau pura-pura tidak mengerti? Cepat pergi beli beras dan telur. Sekarang!” Nadia akhirnya bangkit. Sebelum benar-benar pergi, ia menatap Raina sekali lagi—tatapan sendu yang tidak memohon pengertian, hanya mengungkapkan luka yang sudah terlalu lama dipendam. Lalu, tanpa sepatah kata, ia berjalan menuju pintu. Tas lusuhnya tergantung di bahu, dan gelang aneh pemberian nenek tadi masih melingkar di pergelangan tangan kanannya—satu-satunya hal yang terasa hangat malam itu. ***** Sesampainya di warung, Nadia segera memarkir sepeda motornya di sisi jalan. Malam sudah turun sempurna, udara menjadi semakin dingin, dan lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di permukaan aspal yang sedikit licin. Warung itu tidak terlalu jauh dari rumah, tapi Nadia enggan berjalan kaki—ia terlalu lelah, terlalu jenuh, dan terlalu ingin semuanya cepat selesai. Warung kecil itu tampak lebih ramai dari biasanya. Selain pemilik warung, Nadia, ada juga beberapa ibu-ibu yang tengah sibuk memilih bahan makanan. Suara tawar-menawar, derit plastik kresek, dan aroma sayuran segar memenuhi udara. Tanpa banyak bicara, Nadia mengambil sekantong beras dan satu papan telur. Ia menyerahkannya ke meja kasir dan segera membayar. Namun saat Nadia hendak melangkah keluar, suara-suara lirih dari arah rak sayur membuatnya berhenti sejenak. Suara-suara yang tak cukup keras untuk disebut percakapan terbuka, namun cukup jelas untuk menusuk ke dalam hati. “Aku kasihan sekali pada Nadia... aku merasa dia hanya dimanfaatkan oleh Raina.” “Kau benar... kalau aku yang jadi Nadia, mungkin sudah dari dulu aku pergi dari rumah itu.” “Aku juga tak mengerti... kenapa dia bertahan?” Nadia menegang. Tangannya yang memegang kantong belanja gemetar sedikit. Ia menatap lurus ke depan, berpura-pura tak mendengar, tapi jantungnya berdetak tak karuan. Ucapan-ucapan itu menyelinap seperti bisikan setan, menggerogoti dinding pertahanan terakhir yang selama ini coba ia pertahankan. Nadia menarik napas kasar, menegakkan tubuhnya, dan melangkah cepat keluar dari warung. Ia tidak ingin mendengarkan lebih lama. Tidak malam ini. Nadia mengendarai motornya perlahan, menyusuri jalan menuju rumah. Suasana sepi, hanya sesekali terdengar gonggongan anjing dari kejauhan. Lampu-lampu jalan terlihat samar di antara kabut tipis malam. Wajahnya murung. Pandangannya kosong. Kata-kata dari warung tadi terus menggema dalam kepalanya, berputar tanpa henti. “Dia hanya dimanfaatkan...” “Kenapa dia bertahan...” Nadia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, ‘sampai kapan aku akan seperti ini? Sampai kapan aku harus terus bertahan?’ Tanpa sadar, air mata Nadia mengalir. Ia tidak menangis terisak. Hanya diam, dengan tetesan air mata yang jatuh satu per satu, seolah tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bersuara. Di seberang jalan, lampu menyilaukan menyergap pandangan Nadia. Sebuah truk besar melaju kencang dari arah berlawanan. Nadia membelalakkan mata. Ia mencoba menghindar, membelokkan stang motor ke arah kiri, tapi semuanya terlalu cepat. BRAAAKKKK! Bunyi benturan logam, plastik, dan tubuh manusia menghantam jalan malam itu. Beras dan telur berserakan di aspal. Sebagian telur pecah, menyatu dengan darah segar yang mengalir deras dari tubuh Nadia yang tergeletak tak bergerak. Suara klakson dan teriakan panik mulai terdengar dari kejauhan. Tubuh Nadia remuk. Ia mencoba membuka mata, tapi pandangannya buram. Napasnya berat. Setiap helaan terasa seperti disayat dari dalam. Namun dalam detik-detik sekarat itu, otaknya justru menayangkan satu per satu potongan kenangan—seperti film yang diputar dengan cepat. Senyum Raina ketika ia masih kecil. Rasa bahagia saat pertama kali bisa membaca. Malam-malam saat ia belajar diam-diam di dapur sambil menahan lapar. Tawa Julia kecil saat mereka dulu masih bermain bersama. Dan... wajah nenek tua di halte. Kata-katanya menggema pelan di benaknya. “Gelang ini akan membawamu ke jalan takdir yang tidak pernah kau duga dan bayangkan. Semoga kau selalu bahagia, anak cantik.” Seketika, gelang di pergelangan tangan kanannya—yang tadi terasa biasa saja—memancarkan cahaya samar. Hangat. Lembut. Berdenyut di kulitnya seperti detak jantung kedua. Dan di antara bayangan samar maut dan cahaya misterius itu, Nadia merasa seperti ditarik... ke suatu tempat yang tak dikenal. Lalu semuanya gelap. ***** Cahaya putih menyilaukan menyergap pandangan Nadia. Perlahan ia membuka mata, napasnya tersengal ringan. Sekujur tubuhnya terasa ringan, nyaris tanpa beban. Tak ada rasa sakit. Tak ada luka. Tak ada suara bising jalanan atau teriakan panik. Nadia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ruangan itu... putih. Sangat putih. Tak ada satu pun perabotan. Tak ada jendela, tak ada pintu. Dindingnya seolah tak berbatas, langit-langitnya menjulang, dan lantainya terasa dingin namun lembut. Awalnya Nadia mengira ia berada di rumah sakit. Tapi... tidak ada ranjang. Tidak ada alat medis yang menempel di tubuhnya. Tidak ada bau obat, tidak ada suara monitor jantung. Nadia perlahan berdiri, memandang kedua tangannya. Tak ada luka. Tak ada darah. “Apa aku... sudah mati?” gumam Nadia lirih, hampir tak terdengar. “Belum,” jawab sebuah suara dari belakang Nadia—tenang dan lembut. Nadia sontak menoleh. Seorang nenek tua dengan senyum hangat menatapnya, nenek itu adalah nenek yang ditemuinya di halte saat itu. “Nenek?” Nadia terbelalak, nyaris tak percaya. “Nenek... yang di halte…” Nenek itu mengangguk pelan. Wajahnya tenang, senyumnya sangat teduh seperti embun pagi. “Kita bertemu lagi, anak cantik.” “Kita… di mana, Nek?” tanya Nadia dengan nada bingung. Matanya kembali menyapu seluruh ruangan, mencari sesuatu yang bisa memberinya petunjuk. Tapi tetap kosong. Hampa. “Kau tidak perlu tahu kita ada di mana,” jawab si nenek, matanya menatap Nadia penuh kasih. “Tapi satu hal yang pasti... seperti yang kukatakan sebelumnya, kau akan menjalani hidup yang tidak pernah diduga dan dibayangkan olehmu.” Nadia mengernyit. “Apa maksudnya? Aku tidak mengerti… dan satu hal lagi… siapa sebenarnya Nenek?” Nenek itu tertawa kecil, lembut seperti bisikan angin di padang. “Suatu saat kau akan mengerti. Dan kau tidak perlu tahu siapa aku... sekarang.” Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan rasa penasaran Nadia. “Tapi, Nek, aku…” Belum sempat Nadia melanjutkan kalimatnya, si nenek berbicara kembali, suaranya terdengar sedikit lebih nyaring, namun tetap hangat. “Pergilah, anak cantik... Temuilah takdirmu yang tidak terduga dan tak terbayangkan itu.” Dan sebelum Nadia sempat bertanya lagi, tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh kekuatan tak terlihat. Semuanya berputar. Cahaya putih berubah menjadi pusaran tak berbentuk. Ia berusaha memegang sesuatu, apa pun, tapi tak ada yang bisa dijangkau. Dunia di sekelilingnya kabur, mengabur, lalu menghilang sepenuhnya. Lalu... gelap. Tapi tidak menakutkan. Gelap itu hangat, seperti pelukan. Dan di dalam gelap itu, Nadia tahu—hidupnya akan berubah. Ia hanya belum tahu sejauh apa dan ke mana semuanya akan membawanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD