Kebingungan Di Rumah Sakit

1633 Words
Flashback on “Nadia harus jadi anak baik, ya,” ucap Siska lembut, sambil mengelus kepala seorang gadis kecil berambut ikal yang duduk di pangkuannya. Nadia yang baru berumur lima tahun mengangguk pelan. Senyum lebarnya merekah, memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang rapi. Matanya berbinar penuh kebahagian. Hari ini adalah hari yang sudah ia nantikan—hari di mana ia akan memiliki papa dan mama, seperti teman-temannya yang satu per satu telah meninggalkan panti asuhan. Di hadapan mereka, berdiri sepasang suami istri—Raina dan Bambang. Keduanya menatap Nadia dengan wajah ramah, tangan mereka saling menggenggam erat, seolah meyakinkan diri bahwa keputusan ini adalah langkah terbaik. “Saya serahkan pengasuhan Nadia kepada Bu Raina dan Pak Bambang,” ujar Siska dengan suara bergetar ringan. “Mohon jaga dia baik-baik. Dia anak yang manis dan penyayang.” “Baik, Bu Siska,” sahut Raina dengan senyum hangat, lalu menunduk menatap Nadia yang kini berdiri di sampingnya. “Kami akan jaga dia sebaik-baiknya.” Bambang mengangguk. “Terima kasih atas kepercayaannya, Bu.” Setelah berpamitan, mereka menggandeng tangan kecil Nadia dan meninggalkan panti asuhan yang telah menjadi rumah Nadia sejak bayi. Hari-hari awal di rumah baru terasa seperti mimpi bagi Nadia. Ia disambut dengan pelukan hangat, kamar mungil penuh boneka, dan dongeng sebelum tidur. Raina menyisir rambutnya setiap pagi sebelum sekolah, dan Bambang selalu mengantar pulang sambil membelikan es krim kesukaannya. Nadia merasa dicintai. Meski Nadia tahu dirinya hanyalah anak adopsi, Nadia tak pernah merasa berbeda. Ia percaya—ia sungguh telah menjadi bagian dari keluarga ini. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Nadia berumur sepuluh tahun, sesuatu berubah. Hari itu, suasana rumah begitu riuh dengan tangis haru. Raina dinyatakan hamil—padahal selama bertahun-tahun dokter mengatakan kemungkinan itu hampir mustahil terjadi. Awalnya, Nadia ikut bahagia. Ia melompat-lompat kegirangan, ikut menyiapkan kamar bayi, dan mencium perut Raina setiap pagi. Tapi perlahan... segalanya berubah. Perhatian yang dulu begitu hangat, perlahan menjauh dari Nadia. Senyum Raina tak lagi semanis dulu. Pelukan Bambang menjadi jarang. Tugas-tugas kecil seperti menyapu atau membereskan mainan, perlahan berganti menjadi mencuci piring, mengepel lantai, dan mencuci pakaian. Dan ketika adik bayi itu lahir—seorang anak perempuan mungil yang diberi nama Julia—Nadia benar-benar merasa tak lagi dianggap. Julia menjadi pusat segalanya. Rumah itu kini hanya tentang tangis, tawa, dan perkembangan si bungsu. Sedangkan Nadia... semakin terpinggirkan. Ia mulai diperlakukan seperti asisten rumah tangga. Setiap kesalahan kecil dianggap besar. Setiap keluhan dianggap membangkang. Puncaknya, suatu malam. Nadia terbangun karena suara percakapan dari ruang tengah. Ia menyelinap keluar kamar, berdiri diam di balik tembok, menyimak percakapan itu dengan jantung berdebar. “Harus kita kemanakan Nadia?” terdengar suara Raina, datar tapi dingin. “Tidak mungkin kan kita kembalikan dia ke panti asuhan?” “Biar saja dia di sini,” sahut Bambang. “Apa kata orang kalau kita kembalikan dia? Bisa jadi bahan perbincangan tetangga.” “Tapi kita sudah punya anak kandung sekarang. Julia. Untuk apa lagi Nadia di sini?” Suara Raina semakin tajam. “Dia hanya menambah beban. Uang keluar semakin banyak. Dia bukan anak kita.” “Nadia anak kita, kita sudah mengadopsinya,” ucap Bambang dengan nada lelah, lelah karena Raina terus membahas hal itu. Nadia menahan napas. Tangisnya tak terbendung. Ia berbalik dan kembali ke kamarnya, menelungkup di ranjang kecilnya yang kini terasa asing. Air mata Nadia mengalir diam-diam, membasahi bantal. Dalam hati Nadia, ia berdoa. Agar Raina tidak mengusirnya dari rumah, agar hati miliknya kuat. Agar ia bisa tetap bertahan. Agar suatu hari… ia kembali dicintai. Atau setidaknya... tidak dilupakan. Flashback off ***** Nadia membuka matanya. Pandangannya masih kabur, dan untuk beberapa detik, ia hanya bisa menatap langit-langit yang berwarna putih. Namun kali ini, tubuhnya terasa begitu nyeri. Rasa sakit menjalar dari punggung hingga ke tenggorokannya, dan perutnya terasa seolah baru saja didera guncangan hebat. Refleks, Nadia melirik sekeliling. Sekilas, warna dinding di ruangan ini menyerupai tempat asing yang sebelumnya ia datangi—ruangan serba putih yang sunyi dan kosong. Tapi berbeda, ruangan ini dipenuhi dengan perabotan, bau khas antiseptik tercium jelas, dan yang paling meyakinkan: beberapa alat medis menempel pada tubuhnya. Ia langsung menyimpulkan—ini adalah rumah sakit. Pintu terbuka perlahan, dan seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan hati-hati. Bukan nenek itu. Dan yang pasti, Nadia tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya. “Nyonya sudah sadar?” Suara wanita itu terdengar lega namun sarat dengan nada cemas. Senyum lebar menghiasi wajahnya, dan ia segera berjalan cepat menghampiri ranjang rumah sakit. Tanpa meminta izin, wanita itu langsung memeluk Nadia erat. Pelukan yang semestinya menghangatkan, justru membuat napas Nadia sedikit sesak. Namun ia bisa merasakan—wanita itu sedang menangis tersedu. Begitu pelukan itu terlepas, Nadia buru-buru melontarkan pertanyaan yang membuncah dalam benaknya. “Maaf, Anda siapa, ya? Dan... kenapa saya dipanggil ‘Nyonya’?” tanyanya dengan alis berkerut. Ekspresi wanita itu berubah seketika. Terpukul. “Nyonya tidak mengenali Bibi Rani?” gumamnya pelan. “Bibi yang ikut membesarkan Nyonya sejak kecil...” Nadia terdiam sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Semakin bingung. “Saya tidak mengenal Anda. Maaf... mungkin Anda salah orang?” ucapnya hati-hati. Dalam hati, Nadia mulai curiga—jangan-jangan ini penipuan atau jebakan. Rani menggeleng dengan wajah pucat. Tak percaya. Ia segera menekan tombol pemanggil medis yang ada di samping ranjang. Tak butuh waktu lama, seorang dokter bersama dua orang perawat masuk tergesa-gesa ke dalam ruangan. “Dokter, ada yang tidak beres,” ucap Rani panik. “Nyonya Jessica... dia mengatakan, dia tidak mengenali saya.” Dokter menatap Nadia dengan raut serius, lalu mendekat. “Nyonya Jessica,” katanya pelan, “apa benar Anda tidak mengenal Bibi Rani?” “Jessica?” Nadia mengulang nama itu dengan kening berkerut. “Saya tidak tahu siapa itu. Nama saya Nadia.” Seketika ruangan itu berubah menjadi penuh ketegangan. Sang dokter terlihat terkejut, tapi tetap mencoba bersikap tenang. “Tapi... Nyonya mencoba mengakhiri hidup dengan menelan puluhan pil tidur. Anda tidak mengalami benturan di kepala.” Nadia menggeleng keras. “Saya mengalami kecelakaan! Saya ditabrak truk... saya tidak mencoba mengakhiri hidup saya!” suaranya meninggi karena frustasi. “Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini semacam sandiwara?” Nadia berusaha duduk, namun dua perawat langsung menahannya. “Anda tidak boleh bergerak dulu, Nyonya Jessica,” ujar salah satu perawat lembut namun tegas. “Aku bukan Jessica!” pekik Nadia. “Berhenti memanggilku begitu! Kalian semua gila! Aku ingin pulang! Kalau tidak, aku akan laporkan kalian semua ke polisi!” Tangisan Rani pecah semakin keras. Belum pernah sebelumnya ia melihat nyonya-nya seperti ini. Tak terkendali. Panik. Seolah benar-benar orang asing. “Berikan obat penenang,” perintah dokter kepada salah satu perawat. Dengan sigap, perawat menyuntikkan cairan ke pembuluh infus di tangan Nadia. Nadia sempat menggeliat, namun perlahan, tubuhnya melemah. Matanya terpejam, dan napasnya kembali teratur. Dokter menghela napas berat. “Kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Segera beritahu saya jika terjadi hal seperti ini lagi,” katanya kepada Rani. “Baik, Dokter.” Suara Rani nyaris tak terdengar. Begitu dokter dan para perawat meninggalkan ruangan, Rani duduk lemas di kursi di sisi ranjang. Matanya yang sembab menatap wajah yang tertidur itu lekat-lekat. Hati miliknya teriris. Dengan lembut, Rani mengusap rambut Nadia. “Nyonya Jessica sudah terlalu banyak menderita...” bisiknya lirih. “Bibi hanya ingin... Nyonya bisa hidup bahagia. Sekali saja... bahagia…” ***** Nadia kembali membuka matanya. Ia menghela napas pelan ketika menyadari bahwa dirinya masih berada di tempat yang sama seperti sebelumnya. Ruangan itu masih dipenuhi peralatan medis, dan aroma antiseptik tetap menusuk hidungnya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Nadia memilih untuk tidak memberontak. Ia sadar, perlawanan tidak membawanya ke mana-mana. Malah, bisa saja ia diberikan obat yang lebih berat lagi, atau—dalam ketakutannya yang berlebihan—dihilangkan secara paksa. Semuanya masih terlalu rumit dan tidak masuk akal. Jadi, untuk saat ini, Nadia memilih pasrah. Ia akan bersikap tenang, membaca situasi, dan jika merasa cukup aman, mungkin ia bisa mencari celah untuk kabur dari tempat ini. “Nyonya sudah bangun?” Suara parau Rani terdengar dari sisi ranjang. Nadia menoleh lemah, kemudian mengangguk kecil disertai senyum tipis. “Bibi... aku haus. Tolong... bolehkah aku minta air?” pinta Nadia pelan, memohon dengan nada selembut mungkin. Tanpa pikir panjang, Rani sigap mengambil gelas air putih dari meja di samping ranjang, lalu menyodorkannya ke arah Nadia dengan sedotan yang sudah terpasang. Nadia menyesap air itu perlahan. Tenggorokannya terasa jauh lebih lega. “Apakah Nyonya sudah mulai mengingat Bibi?” tanya Rani hati-hati, jelas ia khawatir jika ucapan atau pertanyaannya akan kembali memicu hal seperti sebelumnya. “Aku... sudah mulai ingat, tapi belum semuanya,” jawab Nadia berdusta, mencoba menjaga ketenangan situasi. Rani tersenyum lega, meski masih samar dan hati-hati. Nadia mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, lalu berdehem singkat. Ia tahu ia tidak bisa terus berpura-pura tidak peduli. Jika ingin keluar dari situasi aneh ini, ia harus tahu lebih banyak. “Bibi...” panggil Nadia pelan. “Apa Bibi tahu... kenapa aku mencoba mengakhiri hidupku?” Wajah Rani seketika berubah muram. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. “Nyonya... bertengkar dengan Tuan,” jawabnya dengan suara lirih. Nadia mengerutkan kening. Kepalanya terasa semakin penuh. Semakin ia bertanya, semakin banyak pula hal yang tak ia pahami. “Tuan?” ulang Nadia pelan, hampir seperti gumaman. “Tuan itu siapa?” Rani menatap Nadia dengan ekspresi ragu, seolah mempertanyakan kembali kebenaran atas jawaban sebelumnya bahwa nyonya-nya sudah mulai mengingat. Namun, ia tetap menjawab. “Tuan... adalah suami Nyonya.” Darah Nadia seperti berhenti mengalir. Matanya melebar. Suami? Bagaimana mungkin? Nadia bahkan tidak pernah merasa dekat dengan seorang pria pun, apalagi sampai menikah. Semua ini terdengar gila dan tidak masuk akal. Nadia membuka mulut, hendak mengajukan pertanyaan berikutnya. Namun sebelum sempat satu kata pun keluar, suara keras dari pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuatnya menoleh refleks. Pintu itu terayun lebar. Dan seseorang muncul dari baliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD