Nadia terbelalak ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Sosok tinggi dengan setelan rapi itu terlalu familiar.
‘Pak Direktur? Kenapa dia ada di sini?’ Pertanyaan itu hanya terlontar dalam hati, tapi jantungnya berdetak tak karuan. Nadia mencoba menenangkan dirinya, mencari penjelasan logis atas kemunculan pria itu.
‘Apakah dia datang untuk menjengukku atas nama kantor? Tapi… yang benar saja? Tidak mungkin direktur perusahaan datang sendiri hanya untuk menjenguk seorang petugas kebersihan,’ batin Nadia diliputi kebingungan. ‘Kalau memang kantor mengirim perwakilan, bukankah seharusnya Linda yang datang? Dia lebih masuk akal.’
Namun, sebelum Nadia sempat mengucapkan sepatah kata pun, suara dingin dan tajam menyentak kesadarannya.
“Kenapa kau selalu saja membuat masalah? Kenapa? Kenapa? Aku muak denganmu. Sangat muak.”
Nadia terpaku. Kata-kata yang terlontar dari mulut pria itu membuatnya nyaris kehilangan suara. ‘Kenapa Pak Direktur tiba-tiba memarahiku? Apa aku telah melakukan kesalahan fatal? Tapi… aku bahkan tidak mengingat apa pun!’ batinnya lagi
Rani yang sejak tadi duduk di sisi ranjang segera panik.
“Tuan Theo, tolong… jangan marahi Nyonya. Dia belum sepenuhnya pulih. Saya takut jika Tuan terus memarahi Nyonya, ia akan nekat lagi seperti sebelumnya,” ujar Rani dengan suara cemas, berusaha menenangkan pria itu.
“Jangan membela dia terus, Bi,” balas Theodor ketus, pandangannya tajam menyorot Nadia yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
“Sampai kapan kau terus bersikap kekanak-kanakan seperti ini?” lanjut Theodor, nada suaranya tajam dan penuh kejengkelan. “Bersikap dewasalah, Jessica. Berhentilah menarik perhatian dengan cara-cara konyol. Dan yang terpenting, jangan terus merepotkan orang lain!”
Nadia hanya bisa diam, tubuhnya kaku, tetapi pikirannya bekerja cepat. ‘Jessica? Siapa Jessica? Kenapa semua orang memanggilku Jessica?’
Namun perlahan, keping-keping ingatan mulai tersusun. Jessica—nama itu bukan nama asing. Nadia pernah melihatnya… di kantor, tepatnya di koridor kantor. Ya, perempuan itu sekilas berbicara padanya. Menyuruhnya untuk lebih berhati-hati saat bekerja. Tapi—bagaimana bisa?
Jika Theodor, direktur utama perusahaannya, adalah suami dari perempuan bernama Jessica… dan dia—Nadia—disebut sebagai Jessica… maka apa artinya ini?
Napas Nadia memburu. Kepalanya pusing. Ia tidak lagi yakin siapa dirinya sebenarnya. Apakah dia masih Nadia, atau sekarang dia telah menjadi Jessica?
Lalu ia teringat pada sesuatu—perkataan nenek itu.
Dengan tangan gemetar, Nadia mengangkat tangan kanannya. Dan di sana, di pergelangan tangannya, melingkar sebuah gelang—gelang yang sama dengan yang diberikan oleh nenek misterius itu.
Matanya terbelalak. ‘Apa mungkin Jessica juga diberi gelang yang sama? Apa artinya ini? Apakah semua ini... ulah dari gelang ini?’ tanyanya dalam hati dengan perasaan kalut.
“Jessica! Drama apa lagi yang sedang kau mainkan kali ini?!” seru Theodor, suaranya meninggi. “Dokter Donny sudah mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan kepalamu! Lalu kenapa kau bersikap seperti orang amnesia? Kau pikir semua orang akan bersimpati padamu? Tidak ada yang akan bersimpati padamu.”
Kata-kata itu menghujam tajam, menyayat seperti belati.
“Kukatakan padamu, Jessica,” lanjut Theodor, penuh kemarahan, “semua orang sudah muak dengan tingkahmu—termasuk aku! Tak ada satu pun yang peduli lagi padamu!”
“Tuan, mohon… tolong jangan bicara seperti itu. Kasihan Nyonya…” Rani mencoba meredam suasana, kali ini dengan suara lirih nyaris menangis.
Namun Theodor tak mengindahkannya. “Apa pun yang kau lakukan, aku tak akan pernah peduli padamu. Aku hanya tidak ingin namaku tercoreng karena memiliki istri penyebab masalah sepertimu.”
Dengan penuh amarah, Theodor berbalik dan melangkah keluar.
Keheningan menggantung. Suasana kembali sunyi, hanya terdengar napas berat Nadia yang belum mampu tenang.
Ada rasa sakit yang menyelinap diam-diam… tapi anehnya, itu bukan rasa sakit miliknya. Ia bisa merasakannya… namun seakan-akan rasa itu adalah milik orang lain. Milik Jessica.
“Bi…” suara Nadia pelan, seperti bisikan. “Boleh aku minta cermin?”
Rani tampak bingung, namun tanpa banyak bertanya, ia mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan menyerahkannya.
Dengan tangan gemetar, Nadia mengangkat cermin itu dan menatap wajah yang terpantul di sana.
Bukan wajahnya. Itu bukan wajahnya yang ia kenal selama ini. Wajah yang kini menatapnya balik… adalah milik Jessica.
Tubuhnya terasa dingin, tapi pikirannya justru dipenuhi gelombang penasaran yang luar biasa besar. ‘Kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?’
Namun satu hal kini jelas—sekalipun dirinya masih merasa sebagai Nadia, dunia memandangnya sebagai Jessica.
Mulai sekarang, ia harus menerima kenyataan itu. Ia harus belajar bertahan di tubuh dan kehidupan orang lain.
Karena untuk saat ini… ia adalah Jessica. Tapi ia akan selalu menganggap dirinya Nadia. Sama seperti yang dikatakan nenek itu bahwa dia belum mati, hanya hidup di dalam tubuh orang lain.
“Nyonya tidak usah mendengarkan apa yang dikatakan Tuan,” ucap Rani lembut sambil mengusap pelan bahu Nadia, berusaha menenangkan nyonya-nya yang masih terdiam membisu.
Nadia memejamkan mata sejenak. Di balik ketenangannya, pikirannya berputar cepat. Hatinya terasa sesak, bukan karena teriakan Theodor semata, melainkan karena semua ini terasa asing—dan menyakitkan dalam cara yang tidak ia pahami sepenuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Bi... tolong ceritakan semuanya padaku. Semuanya. Aku ingin tahu... kenapa dia begitu membenciku?” pinta Nadia lirih, suaranya mengandung harap sekaligus kelelahan yang mendalam.
Rani menatap sendu wajah itu—wajah yang dikenalnya dengan sangat baik—dan merasakan simpati yang amat besar. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan nyonya-nya itu. Lebih tenang, tapi juga penuh kekosongan, seolah jiwanya bukan lagi jiwa yang sama. Tapi Rani memilih untuk tidak memusingkan itu. Ia menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.
“Baiklah, akan Bibi ceritakan,” ujar Rani pelan, lalu menunduk sejenak, seperti mencari kekuatan dari dalam dirinya.
“Nyonya dan Tuan adalah teman semasa kecil. Pertemanan kalian terjalin karena orang tua kalian adalah rekan bisnis sejak lama. Sejak kecil, Nyonya sudah menunjukkan rasa sayang yang dalam pada Tuan. Tuan pun sebenarnya dulu baik pada Nyonya, meskipun hubungan kalian tidak pernah lebih dari sekadar teman.”
Rani berhenti sebentar, melihat perubahan di wajah nyonya-nya yang sangat serius itu.
“Namun semuanya mulai berubah saat kalian memasuki sekolah menengah atas. Tuan mulai jatuh hati pada Salsa. Nyonya tidak terima. Nyonya sering mendesak Salsa menjauh dari Tuan, tapi Tuan tidak ingin melepaskan Salsa. Sejak saat itulah... kebencian mulai tumbuh di hati Tuan.”
Rani berhenti sejenak, menelan ludah. Ingatannya terlalu jelas, dan menyakitkan.
“Puncaknya adalah saat perusahaan orang tua Tuan—yang sekarang menjadi mertua Nyonya—mengalami krisis besar. Saat itu, Nyonya mendesak orang tua Nyonya untuk membantu. Tapi bantuan itu datang dengan syarat: Tuan harus menikah dengan Nyonya.”
Nadia membelalak pelan, jari-jarinya mencengkram selimut.
“Tuan menolak, tentu saja. Tapi orang tuanya memaksa. Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Tuan akhirnya mengalah dan kalian pun menikah. Tapi... pernikahan itu bukannya membawa kedamaian, justru memperdalam luka.”
Rani menunduk, suaranya mulai bergetar saat melanjutkan.
“Tuan semakin membenci Nyonya. Dia tetap menjalin hubungan dengan Salsa secara diam-diam. Nyonya mencoba melakukan segala hal agar mereka menjauh—mulai dari cara halus, berbicara baik-baik... hingga cara kasar, mengancam dan mempermalukan Salsa. Tapi semua itu tidak berhasil.”
Nadia menatap langit-langit. Hatinya terasa kosong. Semua ini bukan bagian dari hidupnya... tapi sekarang menjadi bagian dari dirinya—dari Jessica.
“Nyonya juga mencoba segala cara untuk menarik perhatian Tuan. Mulai dari memasakkan makanan, menyiapkan pakaian kantornya, bahkan... menyakiti diri sendiri. Tapi tetap saja, Tuan tidak pernah melihat Nyonya sebagai istri. Dan dua hari yang lalu, pertengkaran kalian menjadi puncaknya. Nyonya menelan banyak pil tidur... ingin mengakhiri hidup.”
Nadia tidak bergerak, matanya kosong. Rani melanjutkan, air matanya menetes tanpa ia sadari. “Untungnya, nyawa Nyonya masih bisa diselamatkan.”
Hening. Sampai akhirnya Rani kembali bicara dengan nada yang lebih berat.
“Dan yang paling menyedihkan, Tuan Ronald... Papa Nyonya... menikah dengan Mama Salsa, tak lama setelah mendiang Nyonya Chikita wafat. Itu membuat Salsa dan Nyonya secara langsung menjadi saudara tiri. Sejak saat itu pula, Tuan Ronald mulai mengacuhkan Nyonya.”
Nadia memejamkan mata sesaat. Ada rasa getir di dadanya, rasa yang entah milik siapa—Nadia atau Jessica.
“Lalu... bagaimana hubungan Salsa dan Theodor sekarang?” tanya Nadia datar.
Rani menghela napas panjang. “Hubungan mereka sangat dekat, Nyonya. Bahkan, orang-orang mengira Salsa adalah istri sah Tuan. Mereka menganggap Nyonya hanya istri di atas kertas. Bahkan... Tuan Ronald dan mertua Nyonya pun mulai menerima hubungan mereka yang semula hanya diam-diam. Bibi tidak mengerti... kenapa mereka bisa sangat tega. Menurut Bibi, mereka sudah keterlaluan.”
Nada suara Rani terdengar kesal, bahkan sedikit bergetar. Wajahnya tak mampu menyembunyikan kemarahan dan rasa sakit hati.
Nadia terdiam. Tapi hatinya perlahan mulai merasa hangat. Di tengah semua pengkhianatan yang dialami Jessica, ternyata masih ada satu orang yang benar-benar peduli padanya.
“Bibi... jangan marah-marah. Itu tidak baik untuk kesehatan,” ucap Nadia lembut, mencoba menenangkan perempuan paruh baya itu.
Rani mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.
“Aku ingin istirahat, Bi,” ujar Nadia, suaranya terdengar teduh.
“Baiklah, Nyonya. Istirahatlah yang nyenyak. Biar cepat pulih.” Rani membetulkan selimut yang sedikit miring, lalu mengusap lembut dahi Nadia dengan tatapan kasih seperti ibu pada anak kandungnya kemudian melangkah pelan meninggalkan ruangan itu, ia ingin membeli makanan di kantin rumah sakit dulu.
Saat Rani melangkah keluar ruangan, meninggalkan Nadia sendiri, perempuan itu menatap langit-langit dengan pandangan hampa. Dirinya mungkin kini bernama Jessica, dengan masa lalu yang rumit dan penuh luka. Tapi jauh di dalam hatinya... dia tetap Nadia. Gadis sederhana yang tak pernah menyangka hidupnya akan berbelok menjadi seperti ini.
Dan kini, ia sadar satu hal—ia tak boleh menyerah. Ia akan mencari tahu kenapa semua ini terjadi... dan bagaimana caranya untuk bertahan.
Nadia menatap ke sekeliling ruangan sebelum memejamkan matanya. Seketika pandangannya terpaku pada pintu. Lebih tepatnya pada kaca persegi kecil yang tertempel di bagian tengah pintu itu. Matanya terbelalak. Di balik kaca bening itu, nenek itu berdiri diam. Sorot matanya lembut, senyumannya hangat, dan ada ketenangan yang memancar dari raut wajahnya.
“Nek…” gumam Nadia pelan. Ia tak tahu apakah suaranya sampai ke luar ruangan, apakah nenek itu mendengarnya. Tapi nenek itu tetap diam di tempat, tidak masuk, tidak bergerak mendekat. Ia hanya menatap Nadia dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
Beberapa detik berlalu dalam kesunyian yang terasa panjang. Kemudian, perlahan, sang nenek melangkah pergi.
“Nek… tunggu…” Nadia ingin sekali bangkit, mengejar nenek itu, menahan kepergiannya. Tapi untuk sekarang ia tidak bisa melakukan itu. Ia hanya bisa berbaring dan menatap pintu itu dengan pandangan kosong.
‘Siapa sebenarnya Nenek itu?’
Pertanyaan itu berulang kali terucap dalam hatinya, disertai rasa frustasi yang tak tertahankan. Nadia rasa ada sesuatu yang menghubungkan mereka, Nadia bisa merasakannya… tetapi ia belum tahu apa.