Tidak Pernah Gagal

1744 Words

Kini mereka bertujuh sudah duduk. Tidak ada yang bersuara, hanya ada raut wajah datar yang nyaris menutupi emosi masing-masing. Saka yang duduk di samping Nadia dengan sigap melepaskan jaketnya. Ia menyampirkan jaketnya ke bahu Nadia dengan gerakan lembut, kemudian tangannya terulur, menyentuh pipi Nadia yang tadi terkena tamparan. Gerakan itu begitu hati-hati, seolah ia takut membuatnya semakin sakit. “Apakah masih sakit?” tanyanya dengan nada lembut, matanya menatap penuh perhatian. Nadia menggeleng pelan, meski sebenarnya pipinya masih terasa panas dan perih. “Tidak,” jawabnya singkat. Resa hanya menatap datar interaksi itu namun hatinya mendadak dipenuhi rasa iri. Terlebih lagi pria yang tak dikenalnya itu bukan hanya tampan, tetapi juga tampak sangat perhatian—hal yang bahkan jar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD