Nadia berjalan dengan langkah malas menyusuri koridor panjang rumah besar itu. Pikirannya masih penuh dengan sisa-sisa obrolan di ruang keluarga tadi, obrolan yang membuat dadanya sesak dan emosinya memanas. Tiba-tiba langkah Nadia terhenti. Matanya membulat saat pandangannya menangkap sosok nenek yang kini sudah sangat familiar baginya—sosok yang entah kenapa selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga. “Nenek…” ucapnya lirih, hampir seperti gumaman. Nenek itu berdiri tak jauh darinya, menatap Nadia dengan senyum hangat yang anehnya tidak memberi ketenangan, justru memunculkan rasa penasaran. Tanpa sepatah kata pun, nenek itu mulai melangkah. Nadia spontan mengikutinya dari belakang. Namun, langkah nenek itu terasa janggal—terlalu cepat untuk ukuran tubuh renta dan usia yang sudah r

