“Kau tidak ingin menggandeng tanganku?” tanya Saka sambil menoleh, senyumnya lebar, penuh percaya diri. Ia bahkan sedikit menundukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan Nadia, seolah ingin memastikan reaksi perempuan itu. Nadia mendengus pelan, dengan malas, ia akhirnya menggandeng tangan Saka, meski ekspresinya menunjukkan kekesalan. “Saka, ini sebenarnya acara apa?” bisiknya pelan, matanya menyapu sekeliling ruangan yang tampak mewah. Langit-langit dihiasi lampu kristal yang berkilau, ornamen bunga segar memenuhi sudut-sudut, dan musik instrumental mengalun lembut, menciptakan suasana elegan. Saka menoleh dengan senyum yang sama. “Ini acara amal tahunan. Setiap tahun, keluarga besar Wijaya mengadakannya. Semua dana yang terkumpul akan disalurkan ke yayasan sosial.” Mereka kemudia

