“Ini kuncinya, saya sudah menjalankan semua yang diperintahkan dengan baik,” ucap wanita itu pelan, suaranya sarat dengan rasa puas. Ada kebanggaan yang terpancar dari sorot matanya—seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan yang luar biasa. Edo menerimanya tanpa ekspresi berarti. Sementara di sampingnya, Resa menyunggingkan senyum lebar, penuh kemenangan. “Bagus,” ujar Edo datar, sebelum merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal dan menempelkannya di tangan wanita itu. “Ini bayarnya. Sekarang cepat pergi dari tempat ini. Kita tidak pernah bertemu, mengerti?” Wanita itu mengangguk cepat, “Mengerti.” Tanpa berani menatap Edo lagi, ia melangkah pergi dengan langkah tergesa, tumit sepatunya beradu dengan lantai, menciptakan bunyi yang terdengar menusuk di tengah dent

