Wajah pria itu masih lekat dalam ingatan Sashi, rambutnya yang cepak, senyumnya yang menawan, juga suaranya yang mendebarkan saat berpamitan. Sashi bahkan buru-buru mengintip dari jendela saat mobilnya meninggalkan pekarangan rumah kos.
Sashi berguling-guling di ranjang single kamar kosnya.
Kyaaa!! Ini mimpi ... pastilah mimpi ... Bagaimana ini?
Sashi teringat lagi kejadian di pesta kakak tingkatnya Redho tadi, saat dia dengan bodoh berkata kalau memimpikan Aric sebagai pria idamannya. Memalukan ... sangat memalukan.
Terus pria itu? Kenapa malah mengatakan hal yang aneh, seketika malah menembaknya. Di kampus semua tau kalau sejak berpisah dengan pacarnya dulu, Aric tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Katanya lelaki itu masih belum move on, tidak ada yang tau kenapa mereka berpisah mungkin hanya perbedaan prinsip.
Dengan lincah jari jemari Sashi membuka youtube dan menonton vlog tentang Aric. Mungkin saja ... mungkin Aric melakukan itu agar sashi tidak terlalu malu. Seandainya dia merasa tidak suka dengan kelakuan Sashi tadi, tidak terbayangkan bagaimana jadinya. Sashi pastilah berharap tanah di bawah kakinya membelah dan segera menelannya.
Ya, Sashi mengidolakan Aric sejak dia masuk kuliah, Sashi menempuh pendidikan di ibukota. Di tempat yang padat, sangat berbeda dari kota asalnya.
Sebulan setelah menjadi anak kos dia merasa sangat homesick. Hampir menangis karena perasaan rindu, bahkan melakukan video call dengan keluarganya tidak bisa mengobati kesedihan menjadi anak rantau.
Sashi kemudian melihat-lihat video trending di youtube. Di sana dia melihat tim Aric sedang live, seketika Sashi terpesona pada suara dan senyumannya. Setelah itu Sashi mengetahui kalau Aric adalah senior di kampus, membuat Sashi semakin penasaran. Bahkan setiap malam dia akan menyempatkan diri untuk stalking akun media sosial club-nya atau mencari-cari chanel yang menayangkan sosok Aric.
Sashi mem-pause video karena melihat ada pesan yang masuk.
"Halo. Sudah tidur?"
Pesan yang cukup singkat.
Aric bahkan pulang mengantarnya tadi, semua teman-teman Sashi menggodanya habis-habisan. Dia sampai harus diseret untuk masuk ke mobil Aric. Di perjalanan pulang ke kos, Sashi hanya diam dan meminta maaf. Tapi, Aric tenang sekali. Bahkan terus menerus tersenyum.
Sashi mengingat lagi moment itu, dia bersebelahan, begitu dekat dengan sosok Aric yang memakai kaos gelap lengan pendek. Menyetir memperlihatkan tangannya yang liat, wangi tubuhnya juga telak menyapa hidung Sashi. Membuatnya ingin pingsan karena gemetar. Sepanjang jalan Aric mengajaknya berbincang, mulai dari daerah asalnya, kegiatan di kampus dan hal lain, seakan dia tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Sedang dia begitu gugup. Duh bodohnya, jelas terlihat kalau dia grogi. Sashi kerap berdebat dengan siapapun di kampus, tidak pernah dalam sejarah dia merasa gentar saat berhadapan dengan orang lain. Tetapi di depan Aric, nyalinya menciut. Bibirnya membeku dan lidahnya kelu. Ah!
Sashi melihat pesan itu bingung, siapa ya? Memutuskan untuk membalasnya, di awal masuk kuliah dulu dia sering mengabaikan chat yang masuk, akhirnya dia dicap sombong oleh para senior. Mana Sashi tau itu pesan-pesan dari senior kalau mereka tidak menyebutkannya?
"Siapa ya?"
"Pacar kamu. Kenapa nggak disimpan nomornya? Sedih nih."
Tubuh Sashi bergetar, Aric? Oh ... serius? Wajah Sashi sudah tak karuan bentuknya.
Sashi mengetik, menghapusnya, mengetik, menghapus lagi. Seluruh tubuhnya panas melayang. Pria impiannya menjadi kekasihnya. Apa ini nyata? Sashi menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali.
"Belum. Kalau sudah tidur enggak bisa balas pesan."
Sashi mengirimnya, apa pesan itu terlalu aneh?
"Nice dream."
Begitu pendek dan biasa balasan pesan selanjutnya, tetapi membuat Sashi melayang setinggi-tingginya. Mimpi ... ini pasti mimpi ... Berkali-kali Sashi berucap. Sashi mengucap kata 'mimpi' seperti menghitung domba, berulang kali. Akhirnya dia terlelap dalam buaian malam.
Aric melompat ke atas ranjang, gila! Kenapa perasaannya tak karuan begini? Dia sejak tadi tersenyum dan seperti berbunga-bunga. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia melihat-lihat ponselnya, membayangkan wajah Sashi yang memerah malu. Bahkan ketika tadi dia mengantarnya sampai kos. Dengan wajah gugup mengajak Aric masuk, tetapi segera menyadari kalau malam sudah terlalu larut, membuatnya menunduk dalam keremangan.
Wajah gadis itu manis tidak bosan-bosan melihatnya, sejak mata mereka bertemu Aric merasa getaran. Memang sih, Aric bukanlah tipe orang yang mudah mengalami cinta pada pandangan pertama yang didominasi ketertarikan fisik. Tetapi dia yakin kalau menemukan perempuan yang tepat pastilah ada percikan, seperti yang dia rasakan malam ini.
Aric mendapatkan nomor Sashi dari Redho. Redho telah memaksa Aric ke kampus mereka dan mentraktir satu kantin untuk perayaan jadian. Dia berkata kalau dia adalah orang yang paling berjasa, karena menemukan pasangan bagi Aric yang terkenal jomblo sudah hampir lima tahun. Jomblo? Memang tidak ada pacar tetapi ... Aric tak ingin memikirkan itu.
Lima tahun? Aric mengerutkan kening, sudah sangat lama ternyata. Waktu berjalan begitu cepat. Aric mengirim pesan pada Sashi. Lama sekali menunggu balasan, apa dia sudah tertidur? Sudah nyaris pagi.
Ternyata Sashi membalasnya membuat senyum Aric tak putus-putus, setelah mengucapkan selamat mimpi indah. Aric segera mengetikkan nama Sashi di pencarian google. Berusaha mengetahui setiap informasi mengenai gadis itu. Dia telah meminta pertemanan pada akun media sosial Sashi yang di private, tetapi belum diterima. Dia memiliki akun rahasia hanya untuk melihat-lihat perkembangan media sosial saja, Aric sejak lama sudah tidaj suka meng-ekspose dirinya ke publik.
Sampai bel berdentang pukul lima pagi, Aric masih membayangkan wajah Sashi yang menyebutnya dengan wajah malu. Hmm...dia menatap langit kamarnya. Apakah Sashi jawaban dari pertanyaannya bertahun-tahun ini? Sosok yang akan mengisi hatinya lagi dengan cinta?
Pukul satu siang, Sashi baru saja selesai makan dan ini hari minggu. Jadi dia memutuskan untuk berberes kamar, tidak banyak yang perlu di benahi. Kamarnya mungil hanya berukuran 3x4 meter. Dengan kasur single, keseluruhan karena Sashi masih baru menjadi mahasiswi, kamarnya hampir terlihat kosong.
Sashi membuka pintunya untuk membuang bungkus nasi ketika melihat sosok Aric muncul, dia mengedipkan matanya. Seperti tak percaya.
"K--Kak Aric?" Nyaris tercekat Sashi berkata. Senyum menawan menghias wajah pria tampan itu.
"Halo? Sudah makan siang, ya?"
Sashi mengangguk. Apa Kak Aric serius? Dia sangat seriuskah sampai datang hari ini? Sashi terus bertanya di dalam hatinya. Dia kemudian tersadar hanya memakai celana pendek dan kaos kedodoran, Sashi bahkan belum banyak memiliki piyama. Oh Tuhan? Penampilannya? Sashi merasa shock.
"Tidak mengajak masuk nih?" Suara Aric hangat menggoda.
"Ohh i-iya ..." Masuk? Tunggu dia belum selesai berberes?
Aric langsung melangkah masuk ke kamar Sashi, itu sangat membuatnya kaget. Sashi segera membuang bungkusan makanan ke tong sampah dan kembali ke kamar. Canggung. Dia menyadari kalau Aric sedang menyapu seluruh ruangan kamarnya. Apa yang dia pikirkan, ya?
"Betah tidak jadi anak kos?" Dia bertanya kemudian duduk lesehan di lantai. Sashi menganga, tetapi bingung, dia bahkan belum memiliki kursi. Kalau memintanya duduk di atas tempat tidur bagaimana? Tapi ... itu terlalu berbahaya.
"Dibetah- betahin kak. Kakak, aku bikinkan minuman dulu, ya." Sashi berkata terburu, Aric mengangguk.
Sashi mengambil s**u sachet-an di mejanya dan menghidupkan dispenser. s**u? Mau bagaimana lagi, Sashi tidak minum kopi dan dia tidak punya stock kopi. Ah sudahlah, bersikap apa adanya saja.
Segelas s**u putih dia hidangkan di depan Aric, kemudian dia ikut duduk lesehan di lantai.
"Maaf, kak, cuma ada ini."
"Nggak apa. Join aja?" Aric tertawa. Kenapa Kak Aric tidak gugup sama sekali? Padahal mereka baru saling mengenal tadi malam. Walaupun sepertinya Sashi sudah mengenal dia dari info-info yang beredar, tetap saja dia merasa frustasi.
"Ah kakak." Sashi hanya berkata lirih dan melipat tangan di atas pangkuannya.
"Besok kuliah jam berapa?"
"Masuk pagi, jam delapan."
"Kakak anterin, ya?"
Sashi merasa kaget lagi, tapi dia hanya mengangguk. "Kakak enggak sibuk?"
"Tidak. Mengantar pacar mana ada istilah sibuk." Aric tertawa geli.
Padahal ucapan Aric tampak seperti penggombal, hanya saja Sashi yang mengetahui track record Aric sebagai pria tanpa wanita dari cerita kakak-kakak tingkatnya merasa sangat tersanjung. Dia melirik diam-diam pada sepasang mata jernih Aric.
Aric meminum susunya, "Aduh panas."
Sashi langsung panik dan berdiri mengambil tisu. Itukan gelas kaca wajar saja sedikit panas, walau air dispenser tidak sepanas air mendidih. Sashi segera menjulurkan tangan untuk mengelap bibir Aric dengan tisu.
"Eh!" Aric terkejut melihat sikap spontan Sashi itu, s**u di dalam cangkir tumpah. Membasahi kaosnya. Sashi menjerit.
"M--maaf kak." Wajah Sashi begitu malu dan gugup. Aric kemudian tertawa. Dia memegang pergelangan tangan Sashi dan mengarahkannya mengelapi bagian dadanya yang basah. Wajah Sashi merah ... semerah merahnya.