Crush

1007 Words
Pagi sekali Aric telah bersiap untuk menjemput pacar tiba-tibanya, enaknya menjadi seorang gamer itu tidak terikat waktu. Aric memiliki banyak waktu luang, paling-paling dia akan membolos dari jadwal latihannya. Setiap memikirkan masalah pekerjaan, Aric akan teringat pada ayahnya di kalimantan sana sudah gelisah ingin Aric membantunya meneruskan usaha dan mengurus perkebunan. Aric sadar, mungkin nanti saat dia sudah dewasa dan berkeluarga, bisa saja dia menuruti keinginan orang tuanya. Tetapi untuk saat ini dia lebih memilih hobby-nya, lagipula hobby-nya saat ini sangat menjanjikan dan mampu memenuhi pundi-pundi kantongnya. Walaupun kiriman dari orang tuanya sejak dulu tetap Aric tabung. Aric memakai kemeja bewarna cream dan juga celana jeans. Dia dan beberapa teman seangkatannya sering nongkrong di kampus, jadi tidak terlalu aneh kalau Aric akan menunggui Sashi selesai kuliah. Dia teringat lagi kejadian kemarin. Saat bajunya ketumpahan s**u panas, sebenarnya sudah tidak terlalu panas, Aric sengaja bersikap 'sedikit' berlebihan. Dan Sashi dengan panik segera mencoba membersihkan pakaiannya. Baguslah, peristiwa itu sedikit mengurangi rasa canggung Sashi kepadanya.  Pukul enam pagi, Aric mampir membelikan sarapan untuk Sashi. Dia membayangkan kamar kos gadis itu kemarin, masih terlalu kosong. Wajar sih, Sashi baru di semester awal. Tapi, tidak apa, ini akan menjadi kesempatan Aric untuk menandai semua barang-barang Sashi nanti, kalau perlu meraka akan membelinya bersama-sama. Bukankah itu menarik? Aric berharap hubungan mereka langgeng. Dengan semangat perjuangan, Aric mampir membeli bubur ayam tiga bungkus. Dia sampai di kos Sashi, memberikan sebungkus bubur ayam untuk penjaga kos, mereka sudah berbincang-bincang kemarin. Penjaga kos Sashi belum terlalu tua, usianya sekitar empat puluhan. Dia dan istrinya menempati kamar bawah di rumah kos Sashi. Mengambil hati penjaga kos pacar jelas sangat perlu dilakukan dalam kamus kehidupan Aric. Kedatangan Aric saat masih pukul tujuh kurang semakin membuat Sashi kaget, dia saja belum sisiran. "K--kakak." Sashi kembali dibuat salah tingkah. "Hai ... sudah sarapan?" Aric tanpa intruksi segera masuk ke dalam kamar Sashi. Karena di kamar itu belum ada meja, Aric kembali duduk di lantai. "Kakak beliin aku sarapan?" Suara Sashi segar dan penuh semangat, Aric menyukainya. "Aduh, minumnya kelupaan," kata Aric. "Aku ambil minum, kak," Sashi menjawab cepat. Dengan segera Sashi pergi ke dapur untuk mengambil gelas. Dadanya masih berdetak kencang tapi tidak separah kemarin. Dia kembali dengan dua gelas kaca berisi air putih. Aric memperhatikan dia, Sashi terlihat manis dalam balutan kemeja putih dan celana jeans. Rambutnya yang bergelombang masih tergerai. Aric mulai membuka bungkusan bubur ayam, Sashi membantunya. Sesekali tangan mereka bersentuhan, membuat Sashi menunduk malu. Aric menyukainya, sangat menyukai ekspresi Sashi. "Kakak, enggak perlu repot." Sashi berkata, sekalipun begitu dia terlihat senang karena Aric datang "Kakak juga belum sarapan, makan sendirian nggak enak." "Makasih," kata Sashi pelan. Mereka mulai memakan bubur ayam yang dibawa oleh Aric. "Enak." Sashi berkata sambil tersenyum. "Tentu saja, ini memang rekomendasi." Sashi mengagguk-anggukkan kepalanya. Melihat Sashi yang makan dengan terburu-buru membuat Aric tertawa geli dalam hatinya. Dia menyeka bibir gadis itu dengan jempol tangan kanannya, membuat Sashi tersentak sedikit kemudian meliriknya dengan ragu. Sashi tak mampu menghabiskan bubur ayamnya. Seketika Aric memakan dan menghabiskannya tanpa ragu. Sashi menatap wujud Aric yang sedang makan, siapa yang akan mengira pria yang dulu hanya dia lihat di layar ponselnya sekarang duduk di lantai kosnya yang dingin, saling berhadapan dan memakan sisa sarapannya? Hidup memang aneh. "Suka bubur ayam?" Sashi mengangguk. "Terus suka apa lagi?" "Nasi goreng." "Wah." "Kalau kakak?" Sashi balas bertanya. "Tidak ada yang spesifik." "Aah curang." Sashi tertawa, dia sudah sedikit berani hari ini. Setelah pertemuan yang ketiga. "Kenapa malah curang, sih?" "Iya curang, bilang aja enggak mau kasih tau." "Lho ... lhoo ... kakak bilang tidak ada yang spesifik, itu jawaban juga." Sashi tertawa menyunggingkan senyumnya yang sangat manis, Aric sampai berdebar dibuatnya. Sashi membereskan sarapan mereka. "Kakak, tunggu sebentar, ya." Dia berkata ragu. "Kakak duduk di sana aja." Sashi menunjuk ranjang mungil dengan seprai bewarna ungu pastel. Aric mengangguk, dia memperhatikan Sashi menyisir rambutnya. Kemudian memakai krim wajah. Selesai. Eh? Kenapa begitu saja? "Kak sudah. Ayo berangkat." Aric menatap wajahnya, padahal kulit wajah Sashi terlihat lembut. Bibirnya tidak diberi lipstik, tapi bewarna merah muda lembut. Warna alaminya. Sashi bergumam, menyadarkan Aric dari lamunannya. "Oh ayo." Aric bergegas keluar. Sashi mengambil tas selempangnya, bewarna kuning pastel. Sepertinya dia menyukai warna-warna pastel. "Nanti pulang jam berapa?" Aric bertanya dalam perjalanan menuju kampus. "Cuma dua matkul kak, jam dua belas sudah selesai." Aric mengangguk, jarak dari kos Sashi ke kampus tidak begitu jauh. "Kamu sudah save nomor kakak, kan?" Aric menginterogasi. Sashi mengangguk, terlihat senyum tipis muncul di wajahnya. "Ya, harus begitu dong. Jangan bikin kakak seperti pacar yang tidak dianggap." Lagi-lagi wajah Sashi memerah mendengar perkataan Aric. "Nanti kabari kalau sudah mau pulang, ya?" Sashi terdiam. "Kenapa?" Aric memandangnya. "Kak, itu ..." Terdengar nafasnya tertahan. "Kenapa kakak melakukan ini?" "Apa?" Aric menoleh melihat Sashi. "Ini?" Sashi menekankan. Aric sebenarnya mengerti apa yang dia maksud. Sejak malam itu, mendadak menjadi kekasihnya. Padahal itu berawal dari game. "Nanti kapan-kapan saja bahasnya." Aric tersenyum simpul, membuat Sashi kembali diam. Mobil Aric memasuki gerbang kampus, parkir di dekar gedung kuliah Sashi. Sashi buru-buru membuka pintu mobil, padahal Aric mau bergaya ala pria romantis yang membukakan pintu untuknya. "Kak,terima kasih." Sashi menoleh ke arahnya. "Sudah tugas seorang pacar." Aric tersenyum, membuat warna merah muncul lagi samar di pipi Sashi. Sashi keluar dari mobil, beberapa langkah kemudian menoleh ke belakang. Melihat Aric belum pergi, Sashi melambaikan tangannya dengan riang. Cantik. Aric bergumam. Dia akan pulang dulu dan nanti menjelang siang kembali ke kampus Sashi, karena sudah diperas oleh Redho untuk traktir satu kantin, sebagai perayaan jadian. Lucu juga. Aric melihat ponselnya, beberapa kali Mey masih mencoba menghubungi dia. Juga wanita-wanita yang ingin mendapat perhatian Aric. Entah kenapa selama ini belum ada yang bisa menarik hatinya, hanya Sashi. Pertemuan mereka bisa dibilang sangat singkat. Tetapi sangat bermakna. Dia kemudian melihat juga panggilan tak terjawab dari ayahnya, ayah Aric menyuruhnya segera pulang karena keluarganya merindukan dia. Aric berkata akan mencari jadwal yang tidak terlalu padat, baru-baru ini klub game mereka tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti turnamen se-Asia. Aric kembali menyetir keluar dari parkiran gedung kuliah Sashi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD