Him and Her

1266 Words
Sashi masuk ke dalam kelas, kemudian beberapa temannya menyoraki dia. Wajah Sashi sudah seperti kepiting rebus. Memerah. Malu sekali! Kenapa kabar tentang dia dan Aric begitu cepat tersebar, sih? "Cieee ...." Bahkan Tita menggodanya saat dia duduk di kursi. Mirna melihat dengan cemberut, dia tidak ikut di party Redho saat itu. Membuatnya tidak mengetahui dengan jelas kronogi sampai akhirnya Sashi berpacaran dengan Aric. "Aku enggak tau, pokoknya semua begitu cepat." Sashi melambai-lambaikan tangan di hadapan mereka. "Jadi, tadi pagi kamu dijemput sama Kak Aric?" Tita menerornya, bahkan beberapa teman sekelas seperti menguping karena ingin tahu. Sashi diam karena malu, astaga semua mengerumuninya seakan dia gula saja. Kerumunan itu bubar saat dosen masuk, tetapi Sashi dan kedua temannya masih berbisik-bisik. "Sashi, pokoknya habis ini. Kamu harus ikut aku ke kos dan ceritain semua yang terjadi sama kamu dan Kak Aric." Tita mengguncang-guncang lengan Sashi. "Mmh ... siang ini nggak bisa." "Kenapa?" "Itu---Kak Aric mau mentraktir seluruh isi kantin." "Ya ampuuunn. So sweeetttt ... ish aku iri bangeettt." Tita tertawa. "Begitu?" Sashi menggigit bibirnya, sebenarnya dia cukup malu karena hal itu. Mau bagaikan lagi? Kak Redho yang memproklamirkan diri sebagai pak comblang yang memaksa Aric. "Trus, aku sama Mirna boleh ikutan nggak?" "Aku saja nggak mau ke kantin, malu ah, nanti diejek. Lagian aku mau mempersiapkan kegiatan pelatihan organisasi." "Terus alasan kamu tadi nggak mau ke kos aku, karena Kak Aric mau traktir satu kantin apa hubungannya?" "Tita, sudah ih. Aku malu tau." Mirna yang sejak tadi menyimak, mengibaskan rambut kecoklatannya. "Jadi sekarang kamu nggak single lagi, ya?" "Aku enggak tau, beneran, semuanya terjadi sangat cepat juga tiba-tiba. Lagian Tita liat sendiri kejadian malam minggu kemarin. Menurut kamu apa Kak Aric serius?" Sashi selalu bertanya-tanya dengan peristiwa yang begitu cepat ini, sebenarnya status dia dan Aric bagaimana? "Eh menurutku, ini pasti jodoh." Tita tertawa. "Liat Kak Aric mau serius sama kamu, jangan-jangan dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ciee ...." "Tita, kamu enggak bosan mengangguku? Ayooo fokus." Padahal sudah sejak tadi dosen memulai materinya, tetapi mereka bertiga masih kasak kusuk tentang hubungan tiba-tiba antara Sashi dan Aric. Sashi melihat gulungan kertas terlempar ke arahnya, dia menggigit ujung pena, membuka kertas itu. Pesan dari Heru. Pria itu sudah beberapa kali menembaknya, sebenarnya dia cukup manis, tetapi desas desus mengatakan kalau dia playboy. Lagian Sashi juga tidak tertarik padanya. Heru mengajak dia berbicara setelah kelas usai. *** Redho memukul bahu Aric, dia sudah setengah jam nongkrong di kantin universitas, seperti seorang pengangguran. "Bang. Eeaaah." Redho jadi cengengesan. "Kelakuanmu Dho, kayak anak kecil." "Jadi, setelah aku pikirkan. Memang pas sekali saat itu aku ajak abang ke acaraku. Boom! Seketika abang melepas masa lajang." "Woi. Melepas lajang apa? Ini cuma pacaran bukan kawin." Aric tertawa. "Intinya sama saja, Bang. Jadi abang kemarin sudah samperin Sashi ke kosnya dan hari ini mengantar dia ke kampus? Ruar biasa!" "Doakan ya, biar langgeng." Aric tertawa lagi, es teh manisnya sudah habis dan dia berniat memesan lagi. "Oh tentu saja. Cuma selain traktiran di kantin ini, aku harus memeras abang untuk sesuatu yang lain." Aric tertawa lagi, terhadap teman-temannya pria itu terkenal royal. "Kenapa lama sekali, ya?" Aric mulai gelisah. "Bang, Sashi itu anak baru yang sangat hiperaktif. Dia nggak bisa diam, kalau abang mau tau dia sering aktif menjadi panitia kegiatan kampus." "Mulai nanti harus dikurang-kurangi, abang nggak mau diduakan." Redho terkikik, "Alah! Bilang aja pengen lebih banyak waktu buat mesra-mesraan." "Nah itu tau, jadi Dho. Berhubung abang jarang memantau dia di kampus. Kamu harus jadi mata-mata abang." "Waduh mulai posesif ini." Itu harus, Aric sudah punya pengalaman ditikung dengan pedih. Tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. "Itu mereka." Aric melambai dengan sumringah, Sashi bersama teman-temannya. Sashi berjalan dengan cepat, melintasi kantin. Dia sangat malu. "Eh? Kemana dia?" Aric melihat mereka dengan heran, dia pikir Sashi dan teman-temannya akan masuk ke kantin ternyata cuma melintas. "Aku kejar, Bang." Redho seketika melompat bangun dan dia berhasil menyeret Sashi paksa. "Kak---" Sashi menunduk memandangi sepatunya. Sashi akhirnya duduk di hadapan Aric diikuti Tita dan Mirna. "Ini temen-temen kamu?" Aric menyapa Tita dan Mirna, mereka memperkenalkan diri. "Aku salah satu saksi juga lho, Kak." Tita menggoda Sashi lagi, membuat kepala Sashi hampir menyentuh meja karena terlalu menunduk. "Kalau begitu kamu boleh pesan dua porsi." Mereka tertawa. Ya ampun, malu sekali. Rasanya seisi kantin melihatnya seperti menelanjanginya saja. "Kamu mau apa?" Aric berbisik padanya. "Apa aja." Aric membenarkan poni Sashi tanpa malu, membuat Redho berdehem-dehem. "Kakakkk." Sashi menegurnya, tapi suaranya seperti suara semut. Nyaris tak terdengar. "Sash, kalau lagi ditraktir begini. Kita harus manfaatkan sebaik-baiknya, sebagai anak kos." Tita berkata disambut gelak tawa Redho. Tita dan Redho masih ada hubungan saudara, makanya Redho mengenal Sashi dari Tita. "Tita, kamu malah ikut-ikutan," rutuk Sashi. Diam-diam Sashi mencuri pandang ke arah Aric, dia sedang asyik berbincang dengan Redho. Tetapi sepertinya Aric mengetahui kalau dia diperhatikan, pandangan Aric dengan cepat beralih ke Sashi lagi. Dia segera tersenyum, kemudian tangannya meraih tangan Sashi. "Pleasseee, jiwa kejomloanku meronta." Redho terkekeh. Sashi sangat malu. *** Masuk ke kamar kosnya, Aric mengikuti dia. Sashi masih merasa canggung dengan kehadiran pria itu di kamarnya. Tapi Aric malah sangat santai dan terlihat nyaman, dia segera merebahkan tubuhnya ke kasur single Sashi dan melihat-lihat ponsel. "Kak, aku--ganti baju dulu." Sashi mengambil kaos dan celana pendek di lemari dan menuju kamar mandi. Dia kembali, melihat Aric tertidur. Sashi menaikkan volume AC dan menyelimuti pria itu. Kemudian duduk di sampingnya. Memandangi wajah rupawan Aric, begitu dekat. Hidungnya sangat menarik, dan ada bayang gelap di bagian kumisnya. Aric adalah pria dewasa. Sashi menghitung jarak usia mereka sekitar enam tahun. Menunggu Aric bangun, Sashi mulai membaca novel-novel yang dia miliki. Sashi sekalipun aktif dalam kegiatan, biasanya lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Tetapi entah kenapa kehadiran Aric bersamanya saat ini sangat dia sukai, dia tak ingin hari ini berakhir. "Serius sekali bacanya." Suara Aric sangat dalam, suara seorang laki-laki. Suara itulah yang pertama kali menarik perhatiannya. "Kakak sudah bangun." Sashi menutup novelnya. Aric memandangi dia dengan pose berbaring menyamping. "Wah, kasurnya kakak kuasai.". Sashi tertawa, "Iya. Aku sampai duduk di lantai." "Kenapa nggak duduk di atas? Kan masih muat." Sashi terdiam dengan canggung, hubungan mereka masih sangat baru. Mana bisa secepat itu menghilangkan jarak. "Kakak mau minum?" "Boleh." Sashi menuangkan air putih dari dispenser. Aric beringsut bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Menyisir rambutnya dengan tangan. Setelah meletakkan gelas di meja, Sashi mau duduk di lantai lagi. Tapi Aric menarik tangannya dengan cepat membuat Sashi duduk di sebelahnya. "Eh kakak." Sashi berujar. Kemudian mereka terdiam lagi. "Kakak, enggak ada kegiatan hari ini?" "Kenapa? Kamu ngusir kakak?" "Bukaaan. Hem males kalo begitu," keluh Sashi. Aric meraih tangannya, jari-jari Sashi terlihat mungil dan ramping di genggamannya. "Kak, aku masih merasa bingung. Sebenernya sih." Sashi merasakan tangannya berkeringat. "Bingung?" "Kakak, kenapa tiba-tiba mau pacaran sama aku?" "Oh. Bukankah kakak beruntung memiliki kekasih seperti Sashi." Mendengar jawaban Aric, kening Sashi berkerut. "Apa tidak salah?" "Salah di mananya? Sashi cantik, cerdas, juga ceria. Jadi kurang apalagi?" "Kakak terlalu berlebihan menilai. Maksudnya---apa tidak terlalu cepat begitu?" "Kenapa? Kamu kecewa berpacaran dengan kakak?" "I--itu nggak mungkin." Sashi menjawab cepat. Aric tersenyum, "Jadi tidak apa-apa. Sekarang kita usahakan, agar hubungan kita semakin dekat. Bagaimana?" Seketika wajah Sashi memerah, hubungan semakin dekat? Tapi dia jelas menginginkan itu juga. "Tiap hari kakak akan datang, kecuali memang benar-benar tidak bisa." "Serius?" "Tentu. Kenapa harus berbohong?" Sashi terdiam. Tangannya masih digenggam oleh Aric. Pria itu melanjutkan. "Tapi Sashi mau nggak, kalau kakak datang setiap hari?" "Sudah pasti mau." Sashi menjawab dengan spontan, kemudian dia merasa pipinya dua kali lebih panas. "Terima kasih." Terdengar suara tawa kecil dari ucapan Aric itu. Sashi terpesona pada senyumnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD