Seperti janjinya, Aric datang hampir setiap hari. Dia tidak datang hanya saat ada pekerjaan. Terkadang, malam sudah mau berakhir, Aric masih menyempatkan diri mampir ke kos Sashi. Hubungan mereka berdua semakin mesra, layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
Aric mengetuk pintu kamar kos Sashi. Hari ini rencananya mereka akan jalan-jalan ke mall. Sashi membuka pintu kamarnya dengan sumringah. Mata Aric membulat, penampilan Sashi membuat Aric menatap lekat pada tubuh pacarnya itu. Sashi mengenakan celana jeans dan sepatu flat. Tapi, kenapa top-nya sangat ketat? Bahkan mencetak sedikit garis tali bra-nya. Dengan segera Aric menyeretnya masuk lagi ke dalam kamar.
"Kenapa, Kak?" Sashi bertanya bingung.
"Baju apaan ini? Cepat ganti."
Sashi tersipu, dia sadar sih bajunya sedikit ketat juga mencetak body. Kalau memakai top ini, biasanya dia menggunakan cardigan atau outer. Hanya saja ini kan kencan dengan Aric, yang penampilannya terkenal keren. Dia juga harus memperhatikan gaya berpakaiannya.
"Pake outer aja?" Sashi bertanya.
"Coba mana? Kakak liat dulu," perintah Aric.
Sashi menurut, dia membuka lemari dan mengambil outer bewarna coklat dengan bahan suede dan memakainya. Berputar-putar di depan Aric.
"Oke."
Sashi berkata pelan, "Tapi enggak sexy."
Aric menyisir rambut cepaknya dengan jemari, "Mau sexy? Nanti kita beli baju renang. Tapi pakainya hanya di depan kakak."
Sashi tertawa. "Berangkat?"
Aric menyentil hidungnya, memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Mencium pundaknya. "Wangi."
Sashi menoleh, "Eh, aku enggak pake parfum, Kak."
"Terus kenapa wangi?"
"Itu kan pake pewangi dan pelembut pakaian pas nyuci bajunya kakak."
Aric terkekeh, diusapnya rambut Sashi. "Ada-ada aja sih si pacar ini. Nanti beli parfum yang wanginya enak."
"Kakak suka rambut panjang atau pendek?" Sashi berbalik dan menatap mata Aric.
"Sama aja, semua cantik."
Sashi lagi-lagi tertawa, "Aku itu nanya, lebih suka yang mana?"
Aric mencubit kedua pipi Sashi, "Pokoknya sama aja."
"Ya sudah deh, dari tadi enggak jadi-jadi berangkat." Sashi menarik tangan Aric dan mengunci kamarnya.
Di teras mereka melihat penjaga kos sedang duduk bersantai. Aric menyapanya, melontarkan guyonan sambil tertawa. Aric orang yang berpembawaan supel dan ramah, mudah dekat dengan siapa saja. Sashi suka karena hampir seluruh penghuni kos-nya mengatakan kalau dia sangat perhatian dan baik.
Di mall, Aric terus melingkarkan tangan di pundak Sashi sambil berkeliling. Dia mengajak gadis itu ke outlet pakaian bermerk terkenal.
"Pilih semua yang kamu suka ya sayang."
"Waaa ... asyik." Sashi menjerit kecil. Kemudian dia berkata, "Tapi enggak."
"Lho kenapa gitu?"
Sashi menarik nafasnya, sekalipun tidak pernah membeli pakaian dengan brand ini, dia tahu harga blouse-nya yang biasa saja hampir sejuta. Itu jatah makannya selama dua minggu. Sebagai anak kos, Sashi tidak mau boros.
"Sayang, kamu tau, kakak pengen banget tiap kamu pake barang-barang selalu ingat kakak." Aric beralasan.
"Tanpa perlu begitu juga, aku udah ingat kakak terus."
"Please, jangan menolak. Ini juga uang kakak sendiri, bukan dari orang tua."
"Kak, nanti aku jadi keenakan gimana? Terus mendadak aku pake baju-baju branded. Kalau aku dituduh simpenan om-om gimana?"
"Sekampus juga udah tau, apalagi di kos, kamu itu punyanya kakak. Siapa yang berani bilang kalau kamu simpenan om-om?" Aric menyentil keningnya. Sashi melirik pelayan outlet yang menunggu, sambil tersenyum-senyum simpul melihat tingkah mereka.
Tanpa memperdulikan jawaban Sashi, Aric mengambil rok dan mencobakannya ke Sashi. "Oh no, terlalu pendek."
"Kak Aric jangan pecicilan." Uh ... Sashi jadi tertawa melihatnya sibuk mengambili pakaian-pakaian ukuran Sashi.
"Ini bagus." Sashi menunjukkan kaos pada Aric.
"Biasa saja." Aric melirik sekilas.
"Ini couple."
Aric tertawa, "Oh ... Oke."
"Cepat sekali berubah pikirannya." Sashi mencibir. Aric mencium pipi Sashi saat dilihat tidak ada yang memperhatikan. Ya ampun, nggak bosan menciumi pipi Sashi. Dia sudah mabuk kepayang.
Sashi menghitung ada sepuluh potong pakaian, ditambah kaos couple bersama Aric jadi sebelas. Sashi bahkan tidak mau mengira berapa banyak yang dibayarkan oleh Aric tadi.
Mereka keluar dari outlet pakaian, Sashi melirik Aric yang menenteng kantong-kantong belanjaan, semuanya barang-barang Sashi. Dia mengenakan celana jeans dan kaos hitam juga sendal jepit, tapi penampilannya begitu keren. Bahkan Sashi tau kalau beberapa pasang mata memperhatikan mereka sejak tadi.
"Kita makan di sana." Aric menunjuk restoran korea dengan konsep all you can eat. Sashi mengangguk saja, dia belum pernah pergi ke sana. Waitress mengantar mereka ke meja untuk dua orang. Sashi melihat berkeliling memperhatikan bagaimana pelayan restoran menghidangkan menu.
Sashi dan Aric pergi mengambil sayur-sayur, juga jejamuran yang enak. Untuk dagingnya akan diantar oleh waitress. Mereka kembali ke meja dan mulai meracik bumbu.
"Suka?" Aric bertanya.
Sashi mengangguk, "Kakak bukannya lebih suka yang dipanggang daripada yang direbus dagingnya?"
Aric mengangguk.
"Lho, terus kenapa kita malah ke sini?"
"Karena kakak tau kamu lebih suka yang berkuah."
"Oh ya?" Sashi menyendokkan potongan daging yang sudah direbus ke mangkuk Aric.
"Terima kasih." Aric memandangnya penuh perhatian.
"Sama-sama. Eh yang tadi belum dijawab?"
"Kakak perhatikan di kos, kamu sering masak sup."
Sashi menghentikan gerakan sumpitnya. Aric memperhatikan sampai seperti itu? Sashi memang lebih suka yang berkuah, terasa lebih segar. Misalkan diminta memilih antara mie goreng dan mie rebus, maka dia akan memilih mie rebus. Sedangkan Aric, kebalikannya.
"Makan yang banyak." Aric gantian menyendokkan rebusan ke mangkuk Sashi. Setelah makan Aric masih saja mengajak Sashi berkeliling, untunglah tadi dia memakai sepatu flat.
Tanpa peduli orang, Aric melingkarkan tangan di pinggang Sashi.
Malu sih kalau ketemu orang yang dikenal, pikir Sashi. Tapi Aric selalu tersenyum, dia tak tega melepaskan rangkulannya.
"Mau kemana lagi kak?"
"Ikut aja," sahut Aric cepat.
Mereka masuk ke furniture stores. Rencananya Aric akan memaksa untuk membelikan meja rias yang simple dan cantik untuk Sashi. Kamar Sashi masih terlalu sepi.
Seketika langkah Aric berhenti, seorang wanita muda yang sedang hamil menoleh.
"Aric." Suara wanita itu lembut menyapa.
"Oh hei, Anya," Aric membalas sapaannya.
Sashi seketika terbelalak, dia langsung menduga kalau itu adalah mantan Aric karena bernama Anya.
"Selamat, ya." Aric melirik ke arah perutnya.
"Terima kasih. Siapa ini?" Dia tersenyum menawan, kemudian melihat ke arah Sashi.
"Sashi, Kak." Sashi segera bersalaman dengan wanita itu dan balas tersenyum.
"Dia pacarku." Aric menimpali.
"Wah ...." Anya segera tersenyum. "Kamu terlihat gembira."
Aric tertawa, benar juga. Dengan tangannya melingkar di pinggang Sashi, dia tidak merasa sakit hati lagi saat melihat Anya, seperti dulu. "Makasih, kamu juga."
Mereka berpisah, karena Anya telah mendapatkan barang yang dicari. Aric tidak melihat suaminya, tetapi pria gila dan posesif itu tidak mungkin membiarkan istrinya yang sedang hamil berjalan-jalan sendiri. Hanya saja saat ini, dia tidak peduli.
"Cie yang ketemu mantan." Sashi menggodanya.
"Hei, berani ya kamu mengejek kakak. Cemburu?"
Sashi menggeleng. "Enggak. Soalnya sudah nikah. Tapi, Kak Anya cantik."
"Cantikan kamu."
"Bohong banget," Sashi tertawa.
Tapi, entah kenapa Aric merasa perkataannya tidak bohong. Dibandingkan dengan Anya, saat ini di mata dia, Sashi yang terlihat begitu cantik. Apalagi kalau gadis itu sedang mengedip-ngedipkan matanya. Dia imut banget.
"Eh kak, sebenarnya kita ke sini mau cari apa?"
Aric seketika tertawa mendengar pertanyaannya. Aric langsung menggandeng tangan Sashi menuju bagian meja rias.
***