“Freddy?” ulang Siera bergumam bingung.
Sepertinya di komplek ini tidak ada yang namanya Freddy. Ya, Siera sudah memastikannya sendiri. Dia hapal kok nama-nama tetangga sekitar bahkan nama penduduk di komplek sebelah pun dia tahu semuanya. Itu kelebihan Siera. Ingatannya tajam dan panjang.
“Apa mungkin aku salah alamat? Atau jangan-jangan alamat yang diberikan Mike, palsu,” gumam Adam.
“Adam, ada apa?” tegur Siera.
“Ya sudah. Tidak apa-apa. Nanti, aku akan mencarinya lagi.” Adam tersenyum manis di depan Siera. Hal itu membuat rona wajah Siera memerah karena malu diperhatikan Adam dari dekat.
Adam mengajak Siera duduk-duduk santai di depan mini market. Dia ingin sekali mengobrol dengan Siera. Sudah lama mereka tidak bertemu. Jadi, untuk melepas rasa rindunya mereka berdua berbincang-bincang dahulu di sana.
“Bagaimana kabar keluargamu? Maksudku, suami dan kedua anak kembarmu,” tanya Adam mengalihkan perhatian Siera.
“Ah, itu…” Siera canggung sekali mengatakannya. Bagaimana caranya dia memberitahu Adam tentang keadaannya sekarang?
Siera menjelaskan tentang keadaan keluarganya, apa adanya. Tanpa ada yang disembunyikan. Dia bilang, kalau suaminya telah tiada. Tewas dalam kecelakaan lalu lintas beberapa waktu lalu. Saat ini, Siera sendiri yang mengurus kedua buah hatinya, Audrey dan Austin.
Mendengar status Siera yang kini telah menjanda dan posisinya teramat sulit dalam menjalani kehidupan rumah tangga sendirian sambil mengurus kedua anaknya, membuat Adam merasa iba kepadanya. Spontan, Adam meraih tangannya.
“Kamu seorang ibu yang kuat, tegar dan tangguh, Siera. Dari dulu kamu selalu terlihat seperti ini. Mandiri dan aku suka,” kata Adam menghiburnya.
Siera menggaris bawahi kata-kata terakhir yang tak sengaja dilontarkan Adam di hadapannya. “Aku suka”. Apa itu berarti Adam masih sangat menyukai Siera hingga saat ini? pikirnya hampir kepedean. Hatinya nyaris berbunga-bunga saat Adam mengatakannya.
“Siera, ada apa? Kenapa kamu diam saja?” Adam membuyarkan lamunannya.
“Ah, tidak apa-apa, Dam,”sangkal Siera.
“Oh, iya. Berikan ponselmu!” kata Adam sembari mengambil paksa ponsel Siera yang sedari tadi digenggamnya.
“Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?” tanya Siera. Dia terkejut melihat sikap Adam.
Dengan cepat, Adam menuliskan nomor teleponnya di ponsel Siera. Kemudian, dia menyuruh Siera untuk segera menghubunginya. Kapan pun dan di mana pun, kata Adam.
Tetapi, untuk apa? Siera masih tidak peka dengan sikap Adam. Itu dilakukannya karena Adam masih ingin berkomunikasi dengan Siera.
"Aku ingin kita bertemu lagi. Bisa, kan?" tanya Adam to the point.
"Hah? Maksud kamu?" Siera kegeeran. "Memangnya kamu tidak punya kekasih? Aku takut kekasihmu marah kamu menemuiku," tanyanya secara hati-hati.
"Tidak. Aku tidak punya kekasih. Tenang saja," jawab Adam enteng saat memberitahunya. Adam menampilkan senyum di depan Siera. Dia selalu bisa membuat Siera salah tingkah di depannya.
Siera merasa lega. "Syukurlah kalau begitu."
"Eh, apa?" Adam menanggapinya.
"Maksudku, syukur kalau tidak ada yang marah," kata Siera gelagapan.
Astaga! Kenapa Siera harus kikuk begitu di depan Adam? Biasa saja harusnya. Namun, entah kenapa mendengar Adam yang masih melajang membuat Siera berharap sesuatu kepadanya.
"Siera, aku harus pergi. Aku akan kembali ke Rumah Sakit," Adam pamit.
"Oh, begitu ya. Pekerjaanmu pasti sangat berat sampai-sampai akhir pekan pun kamu masih bekerja." Siera perhatian sekali. Itu yang membuat Adam senang kepadanya. Siera masih peduli. Sifatnya masih sama seperti Siera yang dulu.
“Iya. Nanti, aku akan menghubungimu di waktu senggang. Kita bisa ngopi bareng, kan?” tawarnya. Siera mengangguk, mengiyakannya. Pasti. Dengan senang hati, Siera akan menerima tawaran itu.
Sebenarnya, Siera masih ingin berbincang-bincang santai dengannya lagi. Sayang sekali, waktunya sangat terbatas dan sempit. Adam harus buru-buru pergi karena ada jadwal pemeriksaan pasiennya. Tidak hanya itu, dia juga akan mencari keberadaan kakaknya lagi.
Adam pamit pergi duluan. Dia melambaikan tangannya ke arah Siera. Lantas, wanita itu membalas lambaian tangannya. Setelah melihat punggung Adam menjauh, Siera membalikkan tubuh dan segera pulang ke rumah.
“Dia masih sangat tampan seperti dulu,” lamun Siera dalam perjalanan pulang. Dia senyum-senyum sendiri seperti seorang remaja labil yang baru jatuh cinta.
***
“Kakak, aku tadi pergi mencari rumahmu. Sebenarnya, di mana sih kamu tinggal, Kak?” Adam sewot ketika menerima panggilan telepon dari Edgar.
Edgar mengerutkan kening mendengar adiknya sewot duluan di telepon. “Suruh siapa kamu mencari alamat rumahku? Aku tidak pernah menyuruhmu mencarinya.”
“Aku kan penasaran ingin tahu. Apa Kakakku hidup nyaman dan berada di tempat tinggal yang layak atau tidak.”
“Sialan!” Edgar mendengus kesal. “Sudah. Aku tidak mau membahas tentang hal itu. Bagaimana dengan uangnya? Apa kamu sudah mengirimkan uangnya ke rekening Mike?” tanyanya langsung.
“Aku akan mengirimkannya nanti. Setelah aku tahu alamat rumahmu, Kak,” jawab Adam. Dia terlalu bertele-tele dan Edgar jadi geram menghadapinya.
“Astaga! Aku berbuat kesalahan. Rupanya aku salah meminjam uang pada orang yang tidak tulus menolong orang lain,” sesal Edgar sembari menyindirnya.
“Aku? Tidak. Aku tulus membantunya. Justru Kakaklah yang tidak tulus menganggap kebaikanku. Kakak malah menyuruh Mike mengirimkan alamat palsu padaku,” ketus Adam.
“Terus, ngapain kamu sampai mencari alamat rumahku? Kurang kerjaan saja. Bukankah kamu dokter yang sangat sibuk? Kenapa bisa sempat-sempatnya mencari hal-hal yang tidak berguna seperti itu?” cibir Edgar.
“Sudah. Tidak perlu membahas tentang hal itu lagi, Kak. Aku menyesal sudah mencarinya ke mana-mana. Tapi, aku sangat beruntung hari ini. Karena aku bertemu dengan mantan kekasihku lagi,” cerita Adam. “Dia masih sangat cantik seperti dulu. Dan aku…”
“Stop! Aku tidak mau dengar lagi cerita cintamu. Aku tidak tertarik mendengarnya. Masa bodoh dengan mantan kekasihmu itu,” sela Edgar memotong pembicaraan Adam.
Edgar hanya tertarik dengan kiriman uang yang akan ditransfer ke rekening pribadi Mike untuk biaya pengobatan adiknya Kevin. Setelah Adam mengirimkannya, Edgar akan segera memberitahu Kevin di Rumah Sakit.
“Tolong lakukan dengan cepat! Kasihan anak itu jika dibiarkan terlalu lama menunggu,” desak Edgar.
“Iya, Kak. Aku tahu hal itu.” Adam sangat mengerti.
Edgar tidak perlu menjelaskannya lagi. Apalagi sampai mendesaknya seperti itu. Adam merasa tersinggung sebagai seorang dokter. Mana mungkin dia mengabaikan kesehatan seorang pasien yang hampir sekarat?
Satu jam kemudian, uang yang ditransfer Adam sudah masuk ke rekening Mike. Setelah mendapat notifikasi dari bank, Mike segera memberitahu Edgar dan mengirimkan bukti transferannya. Bagus. Edgar bergegas menemui Kevin di Rumah Sakit untuk mengabarkan jika adiknya akan segera dioperasi.
Edgar berlari secepat kilat. Sesampainya di Rumah Sakit, dia melihat Kevin sedang berdoa dengan kyusuk di depan adiknya yang terbaring sakit di ruang rawat inap.
“Tuhan, tolong selamatkan nyawa adikku! Aku mohon kepadaMu,” doa Kevin. Edgar menghampirinya.
“Tuhan sudah mendengar doamu. Sekarang, adikmu sudah bisa dioperasi. Aku sudah bicara dengan dokter. Mereka akan mengoperasinya besok,” Edgar memberitahunya.
“Sungguh?” Kevin masih belum memercayainya.
Kevin antusias sekali karena harapannya menemukan titik terang. Doanya pun dikabulkan Tuhan. Dia bersyukur sekali karena ada orang baik seperti Edgar mau membantunya.
Di sisi lain, Edgar mendapatkan pelajaran berharga atas semua kejadian yang terlanjur melibatkan dirinya itu. Dia juga terharu melihat Kevin begitu optimis dan yakin akan kesembuhan adiknya usai operasi nanti.
***