Renungan Malam

1150 Words
Edgar sudah mendapatkan rincian biaya yang harus dibayarnya. Berkat Adam, Edgar bisa melunasi seluruh biaya perawatan dan pengobatan adiknya Kevin. Kini, adiknya Kevin bisa segera mendapatkan operasi dan kemoterapi.  Dokter menjelaskan tentang kemoterapi pada Kevin. Jadi, adiknya akan mendapatkan Temozolomide. Yaitu salah satu obat kemoterapi yang umum digunakan pada kanker otak seperti glioma dan memberikan hasil yang cukup baik selama ini.  Saat itu, Edgar sedang menemani Kevin di Rumah Sakit. Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping Edgar. Entah apa yang harus dilakukannya untuk membalas semua kebaikan Edgar kepada adik perempuannya. “Terima kasih banyak, Tuan,” ucap Kevin. Dia tidak henti-hentinya terus bersyukur. Semua pemberian Edgar seperti mukjizat yang diberikan Tuhan melalui dirinya.  “Saya tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa, Tuan.” Kevin bimbang. Dia hanya bisa berterima kasih saat ini. Sambil memikirkan balas budi terbaik apa yang akan dilakukannya untuk Edgar.  “Tidak usah. Aku tidak ingin kamu membayar atau balas budi kepadaku,” hibur Edgar. Ucapannya begitu menenangkan Kevin saat ini.  “Benarkah? Tuan tidak sedang bercanda, kan?” Kevin masih belum memercayainya.  “Tidak. Aku serius mengatakannya,” Edgar meyakinkan. Kevin merasa terharu jadinya. “Kamu doakan saja yang terbaik untuk kesembuhan adikmu. Sekarang, kamu tidak usah khawatir lagi soal biaya perawatan dan operasinya. Biar aku saja yang mengurusnya. Kamu juga tidak perlu bekerja lagi. Fokus saja menemani adikmu selama di Rumah Sakit. Kamu mengerti, Kevin?” hibur Edgar lagi.  Kevin semakin mengencangkan tangisannya. Edgar buru-buru memeluk anak itu. Kasihan sekali. Di usia muda seperti itu, Kevin harus menjadi tulang punggung keluarganya. Ayah dan ibunya sudah lama tiada. Kevin membesarkan adiknya yang sakit-sakitan seorang diri.  “Kamu anak yang hebat, Kevin. Aku kagum padamu. Kamu mengingatkanku pada masa lalu temanku,” tutur Edgar bercerita pada Kevin.  Satu jam kemudian, Kevin mulai gelisah menunggu hasil operasi adiknya. Dia kelihatan tegang sekali. Pemuda itu bolak-balik di sekitar ruang tunggu. Edgar masih menemaninya. Di saat itu pulalah, Edgar menerima kabar terbaru dari Mike. Katanya, Adam mengirimkan lagi uang untuk biaya kemoterapi anak itu.  Berjam-jam lamanya, Edgar dan Kevin berada di ruang tunggu. Tidak lama kemudian, penantian panjang pun segera berakhir. Dokter datang memberitahukan pada pihak wali anak itu.  “Dokter, bagaimana keadaan adik saya?” Kevin langsung memburu dokter yang mengoperasi adiknya. Dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui hasil operasinya.  Dokter itu terdiam cukup lama. Agak bingung menyampaikannya. Kevin merasa ada yang aneh dengan ekspresi dokter itu.  “Ada apa dengan adik saya, Dok?” Kevin terlihat frustasi. Tak sabaran mendengar jawaban dari dokter.  “Adikmu…” Kalimat dokter menggantung. Sepertinya agak sulit mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada Kevin.  “Kami mohon maaf, adikmu sudah tiada,” kata dokter memberitahu. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, Tuhan berkehendak lain.”  Adiknya Kevin berpulang ke rumah Tuhan. Saat ini, perasaan Kevin semakin hancur. Tak lama setelah mengetahui penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Edgar merasa iba melihatnya kehilangan sang adik.  Edgar kembali memeluk Kevin, membesarkan hatinya. “Sudahlah. Relakan saja kepergian adikmu. Kini, adikmu sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia sudah tenang di Surga bersama Tuhan,” hibur Edgar.  “Tuan, apa yang harus kulakukan sekarang? Adikku… satu-satunya keluargaku. Kini, dia pergi meninggalkanku,” ucap Kevin sedih. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.  “Aku tahu. Meski berat untukmu, tetapi ini sudah menjadi kuasa Tuhan. Takdir yang harus kamu terima, Kev. Sebagai anak laki-laki, kamu harus kuat dan tabah menjalani cobaan hidup. Kamu paham maksudku?” Edgar menasihati.  Kevin mengangguk walau dalam keadaan terisak. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan Edgar. Berat sekali rasanya melepas sang adik yang telah tiada. Itu yang kini dirasakan oleh bocah malang bernama Kevin.  Usai menceritakan kisahnya panjang lebar pada Kevin, Edgar kini percaya bahwa anak itu akan mampu bangkit dari keterpurukan. Edgar tahu akan hal itu. Karena Kevin sama seperti temannya waktu itu.  “Jangan menyerah, Kev! Hidupmu masih panjang. Lanjutkan perjuanganmu,” Edgar terakhir menasihatinya. Sebelum berpisah dengan Kevin di Rumah Sakit.  Edgar merenungi kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya beberapa waktu lalu. Dia merasa bersalah sekali pada keluarga korban tabrak lari itu. Hal yang sama mereka rasakan saat kehilangan orang yang sangat dicintainya. Edgar berkaca pada diri Kevin.  “Ya Tuhan!” sesal Edgar.  Edgar berjanji akan melakukan yang terbaik untuk keluarga korban setelah dia mendapatkan kembali semua miliknya. Juga nama baiknya. Dia akan menebus semua dosa-dosanya. ***  Edgar menulis curahan hati di buku diarynya. Kejadian hari ini, tak pernah disangka-sangka olehnya. Dia turut berduka atas meninggalnya adik Kevin akibat penyakit kanker otak stadium empat. Semoga gadis kecil itu bisa tenang di Surga, harap Edgar menuliskannya di buku catatan pribadinya. Malam ini, Edgar merenung sendirian di kamarnya. Menurutnya, dia harus introspeksi diri. Dia menyesali perbuatannya. Haruskah dia menyerahkan diri pada polisi dan mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kemudian, dia meminta ampun kepada keluarga korban. Ya, dia merasa itu cara paling mulia yang bisa dia lakukan untuk menebus dosa-dosanya.  Tok-tok-tok!  “Edgar! Kamu ada di dalam?” tanya Siera setelah mengetuk pintu kamarnya.  “Aish! Mengganggu saja,” gerutu Edgar. Dia buru-buru menutup buku hariannya, lalu menyembunyikannya di bawah bantal.  “Ya, tunggu sebentar!” Edgar beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian, dia membukakan pintu kamarnya untuk Siera. “Edgar, aku mau minta tolong sama kamu. Boleh, tidak?” Siera meminta izinnya terlebih dahulu.  “Minta tolong apa?” desak Edgar.  “Aku ada urusan besok di luar. Jadi, aku mau titip anak-anak dulu sama kamu. Kamu tidak ada acara ke mana-mana, kan?” Siera memastikannya. Edgar mengerutkan keningnya hingga berlipat-lipat.  “Kamu mau pergi ke mana memangnya?” Edgar curiga. Dia sampai balik bertanya.  Terang saja curiga. Besok, kan masih hari minggu. Akhir pekan. Dan Siera masih libur di tempat kerjanya. Lalu, untuk apa Siera pergi di hari minggu? Edgar kan jadi semakin curiga.  “Aku tidak bisa. Aku juga ada urusan dengan temanku,” Edgar beralasan.  “Ayolah, Edgar! Tolonglah, sekali ini saja. Bantu aku, ya!” mohon Siera. Dia bilang mau bertemu dengan teman lamanya.  “Kamu mau ke mana? Kenapa kamu tidak pergi saja membawa anak-anakmu jalan-jalan?” Edgar menyarankan.  “Tidak bisa. Karena ini menyangkut urusan pribadi.” Siera keceplosan bicara. Edgar menyetop pembicaraan Siera terakhir.  “Jangan bilang kamu mau pergi berkencan dengan seorang pria,” tebak Edgar.  Siera mesam-mesem. Senyumnya penuh arti dan itu makin menambah rasa curiga Edgar. Sudah dia duga, ibunya si kembar hendak menemui seorang pria. Tidak bisa! Enak saja, ketus Edgar. Dia tidak mengizinkannya.  “Edgar, plis!” Siera memelas. Dia harus merengek di depan Edgar meminta belas kasihannya. “Ayolah! Aku akan memberimu bonus lebih banyak lagi,” janjinya.  “Hah, memangnya gajimu berapa berani memberiku bonus?” cibir Edgar. Dia tahu betul berapa nominal gaji seorang petugas keamanan di perusahaannya.  “Aku bisa memberimu bonus dua kali lipat. Asalkan, izinkan aku sehari besok untuk keluar, ya?” Siera merajuk lagi.  “Wanita ini gigih sekali,” gumam Edgar dalam hati. “Aku akan mempertimbangkannya lagi. Besok pagi!”  “Janji, ya?” Siera memastikannya. ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD