Enak saja, pikir Edgar. Masa iya, dia harus mengorbankan akhir pekannya dengan bekerja. Dia juga kan butuh “me time”. Apa Siera tidak tahu aturan mempekerjakan Edgar di hari minggu? Majikan macam apa itu? Rutuknya agak kesal. Itu sih kerja rodi namanya.
“Edgar, gimana?” tanya Siera. Dia menunggu jawaban pasti dari Edgar.
“Kamu kok maksa banget? Memangnya kamu mau ketemu siapa sampai memaksaku seperti ini?” jawab Edgar agak sewot.
“Aku kan sudah bilang barusan. Aku ada urusan dulu,” Siera menutup-nutupi. Dia memang tidak ingin Edgar mengetahuinya. Kalau ketahuan dia pergi menemui seorang pria, mungkin Edgar tidak akan mengizinkannya keluar.
“Kamu tidak bisa bilang ya kalau kamu mau pergi berkencan dengan seorang pria,” tebak Edgar.
“Aku… takut kamu tidak mengizinkannya, Edgar,” sahut Siera malu-malu.
“Hah, apa peduliku? Kamu tinggal bilang saja. Apa susahnya. Aku tidak akan melarang kamu pergi dengan siapa pun,” kata Edgar sok cuek.
“Beneran, kamu tidak akan melarangku?” Siera berubah antusias. Tatapannya penuh harap pada Edgar.
“Ya, sudah. Tapi, jangan lama-lama. Aku tahu, kamu juga butuh hiburan di tengah penatnya kerjaan kamu di kantor,” Edgar sok bijak. Dia tiba-tiba berubah pikiran. Kasihan juga dengan Siera. Ibu dua anak itu juga kan butuh hiburan.
Refleks, Siera memeluk Edgar. “Makasih ya, Edgar. Kamu teman yang baik,” kata Siera memujinya.
Deg!
“Apa-apaan ini? Kenapa dia malah memelukku?” Edgar agak kikuk ketika Siera memeluknya. Dia jadi salah tingkah. Siera selalu bersikap seperti itu kalau lagi bahagia. Lupa diri.
“Maaf, Edgar. Aku terlalu antusias barusan.” Siera menyadarinya.
Siera langsung melepas pelukannya dan buru-buru pergi. Rona wajahnya memerah, saking malu. Dia tak sengaja telah mengekspresikan kebahagiaannya dengan cara memeluk pria lajang itu.
***
Hari minggu yang cerah. Edgar sudah lari pagi di jogging track sekitar komplek perumahaan tempatnya tinggal sekarang. Dia selalu menjaga kebugaran tubuhnya. Berhubung dia masih dalam penyamaran, dia tidak bisa seenaknya pergi ke tempat gym yang biasa sering didatanginya bersama Mike. Perutnya yang kotak-kotak harus terus dijaga biar kelihatan sickpack, katanya.
“Selamat pagi, Edgar!” sapa ibu-ibu komplek. Kompak mereka melihat Edgar berolah raga.
Edgar balas tersenyum sambil melambaikan tangannya pada ibu-ibu komplek tersebut. Tumben, mereka bangun lebih pagi dan mau berolah raga, pikir Edgar agak terheran-heran. Rupanya, ibu-ibu komplek sengaja olah raga pagi karena ingin bertemu dan melihat Edgar.
“Boleh nggak kita ikut olah raga?” tanya ibu agak gemuk. Dia tetangga sebelah Siera.
Edgar mengangguk. “Silakan, Bu! Olah raga baik untuk kesehatan Ibu. Lihat tuh, lemak-lemak yang menggumpal di perut Ibu!” tunjuknya.
Si ibu gemuk tersipu malu. Iya juga sih. Lemak di perut yang melipat-lipat itu tidak enak dipandang, menurutnya. Jadi, dia memutuskan untuk ikut berolah raga dengan Edgar.
“Edgar, kamu nggak melatih kami?” tanya si ibu kurus. “Kan kalau kamu yang melatih kami, kami bisa lebih semangat. Benar, nggak?” sikutnya pada si ibu gemuk.
Edgar tersenyum agak dipaksakan. Apa harus dia melatih olah raga ibu-ibu di komplek ini? pikirnya lagi. Lumayan lho, dia bisa memasang tarif. Bisa nambah pemasukan kalau begitu. Edgar setuju. Dia akan melatih ibu-ibu itu senam aerobik dan lari marathon.
“Aku bisa saja melatih ibu-ibu sekalian. Tapi, tidak gratis. Aku juga kan harus mendapatkan uang dari privat yang kalian ajukan. Gimana, kalian mau?” Edgar negosiasi dulu.
“Setuju. Bagi kami, uang tak masalah. Asalkan kami bisa berolah raga, terus yang ngelatihnya sama kamu, Edgar,” colek si ibu gemuk ke pinggang Edgar dengan genit.
Edgar risih lagi. Kebiasaan tuh ibu-ibu komplek colak-colek dirinya. “Baiklah. Setelah kesepakatan mengenai pembayaran dimuka, aku akan segera melatih kalian.”
“Baik. Nanti beritahukan rekening pribadimu, Edgar.”
“Tidak usah. Aku lebih suka menerima uang cash,” tawar Edgar. Ibu-ibu saling beradu pandang. Kata mereka itu tidak masalah. Baguslah.
Di sela-sela jeda istirahat seusai senam aerobic, ibu-ibu sibuk membicarakan tentang Siera. Edgar yang tak sengaja mendengarnya cukup terkejut dengan pembicaraan ibu-ibu tersebut. Katanya, hari ini Siera akan bertemu dengan mantan kekasihnya.
“Aku pernah melihatnya kemarin sekilas di mini market. Kupikir itu bukan mantan pacarnya Siera. Eh, ternyata tampan juga ya,” bisik si ibu kurus.
“Benar, kan. Pria mana sih yang tidak tertarik dengan janda kembang macam Siera? Kecuali pria itu buta,” si ibu gemuk menimpali.
“Janda kembang maksudnya apa, Bu?” Edgar ikutan nimbrung. Dia menyipitkan mata menyelidikinya.
Itu lho, istilah seorang istri yang ditinggal suaminya. Sama seperti nasib Siera saat ini, jelas ibu-ibu itu pada Edgar. Begitu rupanya, Edgar manggut-manggut mengerti.
“Kamu kan saudaranya Siera, masa sih nggak tahu?”
“Siapa? Aku?” Edgar menunjuk dirinya sendiri. Ah, iya. Dia lupa. Si kembar mengaku-ngaku jika Edgar adalah pamannya.
“Coba kamu cari tahu, Edgar! Apa benar hari ini Siera mau pergi berkencan dengan pria itu? Nanti kabari kami, ya,” kata si ibu gemuk memengaruhi Edgar.
Edgar hanya tersenyum sekilas menanggapinya. Ada-ada saja ulah ibu-ibu di kompleknya. Sampai ingin tahu urusan Siera. Tapi, Edgar jadi penasaran juga dengan cerita Siera. Apa benar, dia akan pergi dengan mantan kekasihnya? Bagaimana jika mantan pacarnya itu pria b******k seperti yang dia dengar dari cerita ibu-ibu komplek? Bahaya!
Edgar buru-buru pergi menemui Siera di rumah. Dengan napas terengah-engah dia menemukan Siera mengendap-endap keluar dari rumahnya.
“Siera!” panggil Edgar.
“Astaga!” Siera terkejut. Hampir saja dia kena serangan jantung mendadak ketika Edgar mengejutkannya.
“Kamu pergi sepagi ini? Kenapa keluar dari rumah mengendap-endap begitu? Kayak maling saja,” cibir Edgar.
Siera langsung meletakkan tangannya di mulut Edgar, membungkamnya. “Sssttt! Jangan keras-keras! Nanti anak-anak bangun,” cegahnya.
Edgar melepas tangan Siera. “Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hendak pergi sepagi ini?” Edgar heran.
“Aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya, Edgar. Orang yang akan kutemui hanya punya waktu jam 6 pagi ini,” Siera beralasan.
“Apa?” Edgar masih belum mengerti. Mana ada kencan di pagi buta begini? Edgar jadi curiga. “Di mana kalian akan bertemu?” tanyanya lagi.
“Kenapa kamu ingin tahu? Kamu menyelidiki aku, ya?” Siera keberatan karena Edgar ikut campur urusan pribadinya.
“Beritahu aku! Di mana kalian akan bertemu?” Edgar sewot.
Edgar khawatir, takut terjadi apa-apa pada Siera. Setelah diberitahu ibu-ibu biang gosip itu, Edgar agak was-was mengizinkan Siera pergi. Jika mantan kekasih Siera adalah pria b******k yang lama diputuskan oleh Siera. Semakin ketakutan Edgar membiarkannya pergi.
“Edgar, kamu kenapa sih? Aku sudah dewasa. Mau bertemu di mana pun, itu bukan urusanmu,” kata Siera membela diri. “Sudahlah! Jangan mencemaskan aku! Aku harus pergi. Titip anak-anakku sebentar, ya!”
“Siera!” panggil Edgar sembari meraih tangannya. “Jangan pergi!” cegahnya.
“Edgar? Ada apa?” Siera heran dengan sikap Edgar.
***