Siera Nekad Pergi

1175 Words
“Pokoknya jangan pergi!” perintah Edgar. Dia memaksa Siera untuk tetap tinggal di rumah. Siera menepis lengan Edgar. “Apa hakmu melarangku, Edgar?” tanyanya agak ketus. “Karena… pria yang akan menemuimu itu b******k,” Edgar beralasan semampunya. Dia termakan omongan ibu-ibu komplek yang julid itu. “Dari mana kamu tahu jika pria itu b******k? Kamu kan tidak mengenalnya sama sekali, Edgar? Jangan menghakimi seseorang tanpa tahu kebenarannya,” kata Siera menasihatinya. Apa Edgar salah bicara? Nada suara Siera terdengar agak ngegas barusan. Siera bersikeras pergi tanpa menghiraukan ucapan Edgar. Dia harus tetap pergi, karena Adam sudah menunggunya. “Aku pergi. Jangan mencurigaiku terus, Edgar! Aku merasa tidak nyaman. Aku janji sama kamu. Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Percayalah!” Siera memastikannya. Edgar masih ragu-ragu dengan keputusan Siera yang ngotot ingin tetap pergi. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa pada Siera. Silakan kalau begitu. Edgar tidak akan mencegahnya lagi. Asalkan, Siera memenuhi syaratnya. Kabari Edgar secepatnya setelah Siera tiba menemui pria itu, kata Edgar mewanti-wanti Siera. “Iya, baiklah,” Siera menyanggupinya. Dia akan memenuhi permintaan Edgar. Siera benar-benar pergi kali ini. Edgar jadi tidak tega melihat kebahagiaannya hancur gara-gara ada rasa khawatir yang berkecamuk di dalam dadanya saat ini. Lebih baik positif thinking saja, kata Edgar. Siera kan petugas satuan keamanan yang bekerja di perusahaannya. Jika pria itu macam-macam, Siera bisa melindungi dirinya sendiri. Bukankah dia juga ahli bela diri? Pikirnya sambil tersenyum sekilas. Kenapa sebelumnya tidak pernah terpikirkan tentang hal itu? *** “Bos, apa yang Anda lakukan di akhir pekan ini?” tanya Mike ketika menghubunginya via telepon. Sepertinya dia merasa bosan. “Aku sedang…” Kalimat Edgar terhenti beberapa saat. Dia agak gengsi mengatakannya pada Mike. Jika sebenarnya, dia sedang mengasuh anak-anak. “Bos, ada apa?” Mike menunggunya melanjutkan pembicaraan. Edgar terdiam cukup lama. “Ah, aku akan pergi memancing hari ini. Mumpung hari sangat cerah,” Edgar asal beralasan. “Apa? Memancing? Di mana, Bos? Boleh saya ikut dengan Anda, Bos?” Mike langsung bersemangat. Hah, padahal Edgar hanya asal bicara. Memancing apaan? Dia bisanya mancing keributan dengan Siera, pikirnya sederhana. “Paman Edgar! Rasakan pembalasanku monster jelek!” kata Austin. Suaranya terdengar di seberang sana. Ketahuan. Mike tertawa terbahak-bahak. Katanya sedang pergi memancing tapi kok malah main perang-perangan sama si kembar? Mike tak bisa menahan ketawa. Ketahuan jika Edgar sedang berbohong di hadapannya. “Kamu puas, Mike? Seenaknya ngetawain aku, hah?” tegur Edgar. “Sorry, Bos! Saya tidak bermaksud menertawakan Anda barusan. Hanya saja, saya tidak bisa mengendalikan diri setelah tahu Anda sedang ada di rumah mengasuh si kembar,” jelas Mike. “Sialan kamu, Mike!” ketus Edgar. “Bos, saya main ke tempat Anda ya. Rasanya saya bosan di rumah terus,” kata Mike. “Serius kamu mau main ke tempatku?” Edgar tersenyum licik mendengar Mike akan pergi ke rumahnya. Baguslah. Dia bisa memanfaatkannya. “Kenapa memangnya Bos? Apa tidak boleh?” Sebelum Mike berubah pikiran, akhirnya Edgar pun mengiyakannya. Dia berpesan untuk membawa mobil. Siang ini, mereka akan pergi piknik membawa anak-anak keluar rumah. Mike setuju. Dia akan segera berangkat menuju rumah kontrakan Edgar. “Ayo, anak-anak! Siapa yang mau ikut Paman pergi memancing di sungai?” tanya Edgar pada Austin dan Audrey. “AKU!” jawab si kembar kompak. Mereka langsung bersorak kegirangan. Berlarian ke sana ke mari saking senangnya. Edgar tersenyum melihat kedua anak kembar itu bersemangat pergi piknik. Edgar akan bersiap-siap dahulu kalau begitu. Dia akan menyiapkan bekal makanan untuk di perjalanan nanti. Austin dan Audrey berkemas-kemas. Dia membawa bekal masing-masing ke dalam tas ranselnya. “Asik kita mau liburan!” kata Audrey. “Jangan lupa bawa peralatan memancingnya!” Austin memastikan. Keduanya bertanya pada Edgar. Kata Edgar, biar temannya saja yang menyiapkan semua keperluan memancing. Austin dan Audrey siapkan saja bekal makanan yang banyak. Karena di sana tidak akan ada mini market yang menjual banyak makanan seperti di kota. Antisipasi saja jika si kembar ingin makan cemilan atau snack nanti di sana. Tidak lama kemudian, mobil sudah siap di depan rumah Edgar. Mike datang menemuinya di rumah. “Semuanya sudah siap, Bos?” tanya Mike. “Sudah,” jawab Edgar. “Ayo, anak-anak! Kita masuk ke mobil,” kata Edgar menggiring si kembar masuk ke dalam mobil. “Hore kita mau pergi piknik!” Austin kegirangan. Dia masuk duluan ke dalam mobil. Melihat betapa antusiasnya anak-anak ketika akan pergi piknik membuat Edgar merasa senang. Mereka layak mendapatkan liburan di akhir pekan. Agar kedua anak itu tidak merasa trauma sepeninggal ayah kandungnya. Itu yang terbersit dalam benak Edgar. Satu jam perjalanan menuju Bridge Waterfall River. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Audrey dan Austin langsung berburu menuju sungai. “Paman! Aku mau berenang, boleh nggak?” tanya Audrey. “Iya, Paman! Aku juga mau berenang, ya,” Austin memelas di depan Edgar. “Tunggu sebentar! Paman harus memastikan dahulu airnya aman tidak untuk berenang,” kata Edgar sembari memeriksa keadaan airnya. Takutnya sungai itu dalam. Bahaya jika si kembar tidak mengetahuinya. “Mike! Turun kamu!” perintah Edgar. Lah, kok Mike yang jadi tumbalnya? “Bos, Anda menyuruh saya masuk ke air sungai itu?” “Iya. Kamu periksa dulu air sungainya. Dangkal atau dalam. Kalau dalam cepat carikan yang paling dangkal. Yang aman digunakan anak-anak berenang,” perintah Edgar lagi pada Mike. “Tapi… airnya kan dingin sekali, Bos,” keluh Mike. Dia beralasan karena tidak ingin masuk ke dalam air tersebut. “Buruan! Tunggu apalagi? Ini perintah,” desak Edgar. Aish sialan! Mike terpaksa harus menuruti perintah Edgar. Terpaksa dia turun ke sungai memenuhi perintah sang bos besar. Mike membuka kaus dan celana panjangnya. Kini, dia tinggal mengenakan celana pendek saja. “Bos, dingin airnya!” keluh Mike. “Buruan!” desak Edgar lagi. “Ah, lama sekali!” Edgar mendorong tubuh Mike hingga kecebur ke sungai. BYUUUURRR! Ah, rupanya sungainya dangkal. Hanya selutut kaki Mike. Berarti aman digunakan berenang untuk si kembar. “Ayo anak-anak, kalian boleh berenang di sungai!” kata Edgar mempersilakan Audrey dan Austin. “HORE!” sorak si kembar. Mereka bergegas turun ke sungai bersama Mike. *** Sementara itu, Siera datang hampir terlambat menemui Adam. Di sebuah restoran dekat Rumah Sakit, Adam sudah menunggu Siera. Dia tertegun melihat kedatangan Siera. Wanita itu berdandan cantik sekali, membuat Adam terpaku dan tak sadarkan diri. “Adam?” Siera melambaikan tangannya tepat di depan wajah Adam. “Oh, Siera! Maaf, aku melamun tadi,” sahut Adam. Lamunannya segera buyar ketika Siera duduk berhadap-hadapan dengannya. Adam menundukkan pandangannya seraya tersenyum manis memandangi kopinya. Siera terheran-heran melihat ekspresi yang ditunjukkan Adam di depannya. “Kok senyum-senyum sendiri. Kamu kenapa, Dam?” tanya Siera ingin tahu. “Kamu cantik, Siera. Cantik sekali,” puji Adam. Raut wajah Siera langsung berubah mendengar kalimat sanjungan yang terlontar dari mulut Adam. Deg! “Oh, iya Siera. Apa kamu sudah punya kekasih sekarang ini?” Adam langsung menembak Siera, tanpa basa-basi lagi. “Apa?” Siera membelalak kaget. Kenapa tiba-tiba Adam bertanya tentang hal itu pada Siera? Apa itu tujuan Adam bertemu dengan Siera di hari minggu pagi ini? ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD