Jeda Sebelum Badai

1226 Words
"Kau menantangku? Hah?!" Kevin membentak, matanya berkilat merah melihat ketenangan Amora yang dianggapnya sebagai penghinaan. "Berani-beraninya kau diam dan menatap seperti itu padaku!" Tanpa belas kasihan, Kevin menyeret Amora keluar dari kamar mandi. Tubuh Amora yang lemah terhuyung, kakinya terseret tak berdaya di atas lantai marmer yang keras. Kevin membanting tubuh Amora ke atas ranjang dengan kasar hingga bunyinya berderit tajam. Napas Amora terputus sejenak saat punggungnya menghantam ranjang, dan sebelum ia sempat merangkak menjauh, beban berat tubuh suaminya sudah menindihnya paksa, mengunci kedua tangannya ke atas kepala. ​Wajah Kevin hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Amora, menebarkan aroma alkohol dan amarah yang pekat. Tatapannya yang beringas menusuk tepat ke manik mata Amora yang bergetar ketakutan. "Kau tahu apa yang dilakukan ayahmu semalam?!" Suara Kevin menggelegar, memantul di dinding kamar yang luas dan dingin. Ia mencengkeram rahang Amora dengan tenaga yang seolah ingin meremukkan tulangnya, memaksa wanita itu menatap tepat ke arah matanya yang merah karena amarah. ​Amora menggeleng lemah, air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi bantal satin di bawah kepalanya. "A-aku tidak tahu... aku tidak bicara dengannya sejak..." ​"Dia membawa kabur mobil yang dipinjam dariku!" potong Kevin dengan tawa getir yang terdengar mengerikan. ​"Dia pikir dia bisa lari setelah kalah judi lagi? Dasar pecundang tidak tahu diri! Dia pikir dengan membawa lari barang-barangku, hutangnya akan lunas? Tidak, Amora... tidak semudah itu." ​"Karena dia melarikan diri, maka kau yang harus membayar bunganya hari ini. Kau adalah jaminan yang tertinggal, dan aku akan memastikan kau merasakan setiap tetes kerugian yang disebabkan oleh ayahmu yang menjijikkan itu." Amora memejamkan mata, meratapi nasibnya yang kian terpuruk. Selama lima tahun ini, ia telah menelan semua rasa sakit fisik dan batin, membiarkan tubuhnya hancur demi melunasi dosa sang ayah. ​"Sampai kapan aku harus menjadi tameng bagi kesalahan orang lain?" batin Amora dalam hati, seiring dengan isak tangisnya yang tertahan. "Lima tahun aku memberikan segalanya, tapi baginya aku tetaplah benda mati yang bisa ia hancurkan sesuka hati." ​Ia merasakan perih di bahunya kembali berdenyut, mengingatkannya pada setiap hantaman yang ia terima setiap kali Kevin merasa tidak puas dengan dunianya. Di rumah ini, Amora hanyalah bayangan yang tidak memiliki hak untuk bersuara, hanya seorang tawanan yang dibayar dengan air mata. Pria itu mencengkeram rahang Amora, memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat penuh kebencian. Amora merintih, mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman itu justru mengunci tulangnya. ​Tanpa memedulikan penolakan, Kevin merenggut wajah Amora dan menciumnya secara paksa. Sebuah ciuman kasar tanpa afeksi yang terasa mencekik, menghancurkan sisa martabat Amora di tengah rontaan yang sia-sia. ​"Lepas... kumohon," bisik Amora dengan suara bergetar. ​"Lepas?" Pria itu tertawa mengejek, sebuah suara parau yang terdengar seperti gesekan amplas. "Kau pikir kau siapa, Amora? Kau itu barang jaminan! Ayahmu menyerahkanmu padaku sebagai penebus dosanya, dan sekarang dia malah menambah hutang baru dengan mencuri dariku!" ​Amora mengumpulkan sisa keberaniannya, menatap balik suaminya dengan mata yang memerah. "Aku bukan barang! Kalau ayahku mencuri, laporkan dia ke polisi! Jangan siksa aku untuk kesalahan yang tidak kubuat!" ​Plak! ​Satu tamparan keras mendarat di pipi Amora. Rasa panas menjalar seketika, namun Amora tidak lagi berteriak. Ia hanya terisak pelan, merasakan sisa harga dirinya hancur berantakan. ​"Melapor ke polisi?" Pria itu mendesis, jemarinya kini kembali menjambak rambut Amora agar mereka saling berhadapan lagi. "Hukum tidak berlaku di rumah ini, Amora. Akulah hukumnya. Kau pikir kenapa ayahmu memilih menjualmu padaku daripada masuk penjara? Karena dia tahu aku bisa melakukan hal yang lebih kejam daripada jeruji besi manapun." ​Kevin mendekatkan wajahnya, membiarkan deru napasnya yang panas menerpa kulit Amora. ​"Kau ingin lepas? Silahkan. Kembalikan semua uang yang kupakai untuk melunasi hutang judi ayahmu. Kembalikan mobil itu. Jika tidak bisa, maka jangan harap kau bisa melangkah keluar dari kamar ini tanpa seizinku." Amora menahan napas sejenak, mengumpulkan kepingan keberanian yang tersisa di tengah himpitan tubuh pria itu. "Aku tidak punya uang... Aku tidak bekerja selama ini karena kau melarangku," isaknya dengan suara yang bergetar hebat. "Jika kau mengizinkanku, aku akan bekerja. Aku akan mencari uang untuk membayar semua hutang ayahku." ​Tawa sinis meledak dari bibir suaminya, sebuah suara kering yang tidak mengandung humor sedikit pun. Ia mencengkeram rahang Amora lebih keras, memaksa wajah wanita itu mendongak hingga urat lehernya menegang. ​"Aku mohon... Izinkan aku bekerja," isaknya, suaranya parau tersumbat duka yang menyesak di kerongkongan. "Aku berjanji, Kevin... aku akan tetap patuh padamu. Aku tidak akan membangkang." ​Amora meremas jemarinya sendiri hingga memutih, mencoba meyakinkan pria di hadapannya bahwa tawaran ini menguntungkan. ​"Aku bisa membayar sendiri semua utang ayahku sedikit demi sedikit. Kau tidak perlu lagi mengeluarkan sepeser pun untukku... kau tidak perlu menafkahiku. Anggap saja aku bukan bebanmu lagi," lanjutnya dengan nada putus asa yang menyayat hati. ​"Aku hanya butuh ruang untuk bernapas," monolognya dalam batin yang menjerit. "Satu celah saja untuk keluar dari tembok-tembok berdarah ini, meskipun aku harus merangkak di atas duri." ​Kevin terdiam sejenak. Keheningan yang tercipta di kamar itu terasa begitu mencekam, hanya diinterupsi oleh deru napas Amora yang tersengal. Tatapan beringas pria itu perlahan berubah, meredup menjadi kilatan licik yang jauh lebih mengerikan. Ia melepaskan cengkeramannya pada rahang Amora dengan sentakan kasar, lalu bangkit berdiri di sisi ranjang. Diperhatikannya sosok istrinya yang gemetar hebat dengan pakaian yang kusut masai, tampak seperti burung dengan sayap yang patah. ​"Bekerja?" tanyanya ulang, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun sedingin es yang menusuk tulang. Ia merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya pelan, membiarkan asapnya mengepul di depan wajah Amora. "Kau benar-benar ingin keluar dari rumah ini untuk mencari uang demi melunasi dosa ayahmu yang tidak berguna itu?" ​Amora mengangguk cepat sambil terus terisak, tangannya yang gemetar berusaha menutupi memar kebiruan di bahunya yang tersingkap. "Apa pun... aku akan melakukan pekerjaan apa pun. Tolong, beri aku kesempatan untuk membayar semuanya." ​Asap rokok mengepul tipis di antara mereka, mengaburkan raut wajah Kevin yang kini menyeringai licik. Sebuah rencana jahat mendadak melintasi benaknya—sebuah cara untuk menyiksa Amora lebih dalam daripada sekadar pukulan fisik. ​"Baiklah," ucapnya tiba-tiba, membuat Amora tertegun tak percaya. "Aku setuju. Kau boleh bekerja." ​Amora mendongak, matanya yang sembab memancarkan secercah harapan yang rapuh. Namun, kalimat berikutnya dari mulut Kevin langsung menghantamnya telak, memadamkan binar itu dalam sekejap. ​"Tapi jangan harap kau bisa bekerja di tempat terhormat. Aku akan mencarikanmu posisi di mana kau akan menyadari betapa rendahnya harga dirimu," Kevin menyeringai, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau ingin membayar utang? Maka bersiaplah untuk menjual harga dirimu setiap detik di bawah telapak kaki orang lain. Aku ingin lihat, sampai kapan kau bisa bertahan sebelum akhirnya berlutut dan memohon padaku untuk kembali ke tempat ini." ​Amora terdiam, nafasnya tercekat. Ia tahu ini bukan sebuah kebebasan, melainkan babak baru dari neraka yang sudah ia jalani selama lima tahun ini. Namun bagi Amora, apa pun lebih baik daripada terus-menerus menjadi samsak tinju di balik pintu tertutup ini. ​"Terima kasih," bisik Amora lirih, meski hatinya mencelos ketakutan. ​"Tuhan, kuatkan aku," monolognya di dalam gelapnya pikiran."Mungkin ini satu-satunya jalan untukku melarikan diri. Biarlah aku dipermalukan di luar sana, asalkan aku bisa menjauh darimu." ​Tanpa ia sadari, roda takdir sedang berputar menuju sebuah pertemuan yang tak terelakkan. Seorang pria yang menyimpan dendam selama lima tahun sedang menanti, tanpa tahu bahwa wanita yang ia cari akan segera masuk ke dalam jangkauannya dalam keadaan yang paling hancur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD