Udara pagi itu bukan sekadar dingin; ia terasa seperti belati yang menyelinap masuk ke pori-pori, mengincar lebam kebiruan yang masih berdenyut di balik blus Amora. Setiap embusan napasnya berubah menjadi kabut tipis yang gemetar. Ia merapatkan blazer hitamnya, satu-satunya pelindung formal yang tersisa dari sisa-sisa harga dirinya—sembari mencengkeram amplop cokelat di pelukannya seolah itu adalah pelampung di tengah badai.
Di sudut amplop itu, sebuah segel lilin merah darah berkilau menantang.
Kevin sendiri yang meneteskan lilin panas itu semalam. Amora masih ingat betul binar ganjil di mata pria itu saat segelnya mengeras, beradu dengan ancaman lirih yang sanggup membekukan aliran darahnya lebih cepat daripada suhu pagi ini. "Buka ini sebelum waktunya," bisikan Kevin kembali terngiang, "dan kau akan tahu sesakit apa rasanya kehilangan sesuatu yang belum sempat kau genggam."
Amora menatap amplop itu dengan campuran ngeri dan penasaran. Di balik kertas kusam tersebut, tersembunyi sebuah rahasia yang mungkin akan membebaskannya—atau justru menjadi surat kematiannya sendiri.
Di depan halte yang masih sepi, Amora memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia menghirup udara yang tidak berbau alkohol atau keputusasaan di dalam kamar pengap. Meski ia tahu ini bukan kebebasan murni, setidaknya langit pagi ini terasa sedikit lebih luas.
Bus yang membawa Amora berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit yang puncaknya seolah menembus awan. Mahendra Group. Nama itu terpatri besar dengan logam dingin di lobi utama, memancarkan aura kekuasaan yang absolut.
Amora melangkah masuk, merasa sangat kecil di tengah lalu lalang orang-orang bersetelan mahal yang berjalan dengan langkah terburu-buru. Ia mendekat ke meja resepsionis dengan tangan yang gemetar hebat.
"S-selamat pagi. Saya Amora... saya diminta menyerahkan surat ini untuk bagian personalia," ucapnya lirih, menyodorkan amplop bersegel itu.
Resepsionis itu tidak segera mengambil amplop tersebut. Ia justru memperhatikan penampilan Amora dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghakimi. Matanya terpaku pada kerah blazer Amora yang sedikit miring, seolah sedang mencari celah dari kemiskinan yang berusaha disembunyikan wanita itu.
"Lantai tiga," jawab resepsionis itu pendek, suaranya terdengar tajam dan tanpa minat. Ia kembali sibuk dengan layar komputernya bahkan sebelum Amora sempat mengucapkan terima kasih.
Amora menelan ludah, mencoba mengabaikan rasa sesak di dadanya. Ia berjalan menuju jajaran lift logam yang mengilat, memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu rapuh di tengah kemegahan lobi Mahendra Group.
Pintu lift terbuka di lantai tiga.
Berbeda dengan lobi yang riuh, lantai ini terasa lebih dingin dan formal. Amora melangkah keluar, mengikuti petunjuk arah menuju sebuah meja panjang di ujung lorong.
"Permisi... saya Amora Serapina Wijaya. Saya diminta menyerahkan surat ini," bisiknya pada seorang pria berkacamata yang duduk di sana.
Pria itu mengambil amplop cokelat tersebut, alisnya bertaut saat melihat segel lilin merah yang masih utuh. Tanpa suara, ia merobek segel itu dan membaca isinya dengan saksama. Ekspresi wajahnya yang semula datar berubah menjadi sedikit terkejut, sebelum akhirnya ia menatap Amora dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan sinis.
Di hadapan Amora ia melemparkan sebuah plastik berisi setelan kain kasar berwarna biru ke atas meja. Bunyinya yang berat menghantam permukaan kayu, seolah-olah menghantam telak harga diri Amora yang sudah retak.
Amora terpaku, matanya membelalak menatap seragam itu dengan binar tidak percaya. "Apa ini?" bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan dinginnya pendingin ruangan.
"Seragammu," jawab pria itu pendek, nada suaranya sedatar dinding beton di sekeliling mereka.
"Tunggu... tapi saya tidak melamar untuk posisi cleaning service," elak Amora dengan napas yang mulai memburu. Jemarinya meremas amplop cokelat di tangannya, berusaha mencari setitik kewarasan. "Saya memiliki ijazah sarjana, saya bisa administrasi, saya..."
Tawa sinis pria itu memotong kalimatnya. Ia menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya, menatap Amora dengan pandangan merendahkan.
"Apa kau buta dengan surat lamaranmu sendiri, Amora Serapina Wijaya?" Pria itu menarik selembar kertas dari dalam amplop yang dibawa Amora tadi, lalu menyentilnya kasar ke arah wanita itu. "Lihat baik-baik. Di sini tertulis jelas posisi Petugas Kebersihan Unit Khusus."
Amora menyambar kertas itu. Benar saja, nama lengkapnya tertera di sana, Kevin tidak berbohong soal "tempat yang tidak terhormat". Pria itu menggunakan jaringannya untuk menempatkan Amora sebagai petugas kebersihan di lantai eksekutif—sebuah posisi yang dirancang khusus untuk menginjak harga diri Amora, seorang sarjana ekonomi yang kini harus menggenggam tongkat pel demi melunasi hutang ayahnya.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, membiarkan sikunya bertumpu pada meja mahoni yang mengilat. Matanya menyipit, menatap Amora dengan binar meremehkan yang seolah menelanjangi semua rasa malu wanita itu.
"Apa kau tidak sayang dengan ijazahmu? Sarjana Ekonomi, lulusan universitas ternama," ia terkekeh hambar, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telinga Amora. "Sangat kontras dengan seragam biru yang ada di depan matamu sekarang. Tapi yah... lihatlah dirimu."
"Di atas kertas ini memang tertulis namamu dengan gelar mentereng, tapi secara nyata? Kau tidak punya pengalaman apa-apa. Kau hanya wanita rumahan yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kerja selama lima tahun terakhir. Kau pikir ijazahmu masih berlaku setelah kau hanya menghabiskan waktumu hanya di rumah?"
Amora meremas ujung blazernya hingga buku-buku jarinya memutih. Hinaan itu terasa lebih panas daripada tamparan Kevin semalam.
"Di Mahendra Group, gelar hanyalah sampah jika kau tidak punya taring. Dan bagiku, kau hanyalah beban tambahan," lanjut pria itu sembari mengetukkan pulpennya ke meja, menciptakan irama yang tajam. "Jadi, simpan ijazahmu itu baik-baik di laci paling bawah, atau bakar saja sekalian. Karena di sini, nilai dirimu hanya sebatas kebersihan lantai yang kau pel."
"Sekarang, cepat ganti pakaianmu. Jangan biarkan Tuan CEO melihatmu masih mengenakan pakaian formal murahan itu. Di gedung ini, kau hanyalah sebutir debu yang bertugas menyeka debu lainnya. Mengerti?"
Amora hanya bisa menunduk dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang memerah padam. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mendesak keluar, namun ia teringat ancaman Kevin. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih seragam biru itu, memeluknya erat di d**a seolah kain itu adalah batu nisan bagi harga dirinya yang baru saja mati.
"Cepat, jangan mematung di sana! Waktumu hanya sepuluh menit untuk berganti pakaian," bentak pria itu lagi, telunjuknya menunjuk kasar ke arah sebuah pintu kecil di sudut ruangan yang pengap.
Amora melangkah dengan langkah kaki seberat timah. Setiap derap langkahnya di atas lantai granit yang dingin terasa seperti pengadilan bagi masa lalunya. Di dalam ruang ganti yang sempit dan hanya diterangi lampu neon yang berkedip redup, Amora menatap pantulan dirinya di cermin retak.
"Sarjana ekonomi," bisiknya lirih, menertawakan takdirnya sendiri. "Empat tahun aku belajar untuk membangun masa depan, tapi dalam satu malam, Kevin meruntuhkannya hingga ke dasar tanah."
Setelah mengenakan seragam itu, Amora mengikat rambutnya dengan kencang dan memakai masker berusaha menyembunyikan wajahnya yang sembap. Ia keluar dari ruangan itu dengan kepala tertunduk memegang ember plastik dan kain pel yang sudah disiapkan.
"Bagus. Sekarang ikut aku," perintah pria berkacamata itu tanpa menoleh.
Di lantai teratas, keheningan menyambutnya. Lantai marmer hitam di sana begitu mengkilap hingga Amora bisa melihat pantulan wajahnya yang kuyu. Ia mulai bekerja, menggosok dinding kaca yang membatasi koridor dengan ruang kerja utama.
Tiba-tiba, derap langkah sepatu pantofel terdengar mendekat. Iramanya tegas, dominan, dan penuh otoritas. Amora refleks bergeser ke pinggir, menunduk semakin dalam hingga poninya menutupi mata.
"Aldo, batalkan semua pertemuan sore ini. Aku ingin sendiri," sebuah suara berat dan dingin menginterupsi kesunyian.
Langkah Amora terhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Suara itu... suara yang selama lima tahun ini hanya berani ia dengar dalam mimpi buruk dan penyesalan. Ia memberanikan diri melirik dari balik bulu matanya.
Di sana, beberapa meter darinya, berdiri seorang pria dengan setelan jas custom-made seharga ratusan juta rupiah. Perawakannya jauh lebih tegap dan matang daripada pemuda yang dulu ia tolak di koridor kampus. Garis wajahnya kini keras, tanpa sisa kelembutan yang dulu selalu ia tawarkan untuk Amora.
Devan.