Bab 78

1456 Words

Sambil menunggu kedatangan Jesi, Adara berusaha untuk mengendalikan emosinya. Agar ia tidak bertindak gegabah karena ada nyawa lain yang kini menumpang hidup di rahimnya. Untuk langkah pertama yang kini ia tempuh, Adara akan memilih jalan halus. Agar tidak melukai dirinya. Sekaligus tidak menjatuhkan reputasi Adnan sebagai pemimpin yang bijaksana. "Maaf menunggu lama, Bu. Tadi saya menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Itu sebabnya saya datang agak lama," ucap Jesi. Dengan notasi yang begitu sopan. Layaknya sekretaris lainnya. "Tidak apa-apa. Duduklah!" Adara ikut duduk di atas sofa, yang berhadapan langsung dengan Jesi. "Saya rasa, kita tidak perlu banyak basa-basi. Langsung saja ke inti permasalahan." Jesi mengangguk cepat. Dengan senyuman yang tidak pernah luntur menghiasi bibir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD