Wajah Adnan semakin kusut melihat tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Membuat kepalanya semakin sakit, dan rasa mual yang semakin menjadi-jadi. "Kamu harus pelajari ini semua, Nan." Anton mengeluarkan satu buah laptop dari dalam tas yang ia bawa. Membuka laptop tersebut dan mencari beberapa data penting lainnya. "Itu apa, Pak?" tanya Adnan. Dengan wajah yang semakin kusut saja. Ada banyak angka yang sedang berbaris rapi disana. "Ini data keuangan perusahaan. Dan satu hal yang saya harus ku akui kepadamu, Nan. Keuangan perusahaan naik pesat saat dipimpin oleh Marcel." Dahi Adnan mengernyit dalam. "Naik?" "Benar. Bukan hanya itu, harga saham perusahaan juga menyentuh harga tertinggi saat ini." "Berarti Marcel …," "Dia mengambil perusahaan, bukan untuk dijual seperti yang kita

