Marcel menyandarkan kembali punggungnya ke kepala ranjang. Sebelum ia benar-benar terkena serangan jantung. "Lupakan saja. Kalau kamu tidak mau," gumam Rere. Semakin menekuk wajahnya. "Eh, ini … apanya yang mau dilupain?" tanya Marcel heran. Baru juga mau mikirin yang tadi, ini sudah diminta buat lupain. "Iya. Keinginanku untuk mengajak kamu menikah tadi," gerutu Rere. "Re, kamu …." Mulut Marcel kembali tertutup saat Rere mengangkat satu tangannya. "Tidak perlu memberikan penjelasan ataupun pembelaan. Aku sudah tau apa jawabannya. Kamu saja tidak mau menikah denganku, apalagi pria sempurna seperti Ryan." Rere menempelkan pipinya pada kasur yang ditempati oleh Marcel. Kedua mata gadis itu juga mengerjap secara dramatis. "Bukan begitu, Re. Bukannya aku tidak ingin menikah denga

