“Khumaira, khumaira dimana kamu sayang. permisi sebentar, khumaira sayang khumaira dimana kamu!"
Aku berlari mengejar wanita yang mirip dengan khumaira itu, aku sampai harus menabrak orang-orang yang berlalu lalang sangking takutnya khumaira pergi.
Orang-orang menatapku dengan tatapan aneh, bahkan mengira aku seperti orang gil* karena berteriak memanggil khumaira.
"Sayang hey, kamu mencari siapa?"
Tiba-tiba Sasa sudah menyusul di sampingku, iya langsung menarik lenganku dengan kuat. “Hey jawab aku mas, siapa yang kamu kejar?"
Sasa menatapku menanti jawaban namun aku tak berani berkata, aku menatap ke arah pintu keluar “Khumaira tunggu aku di rumah sayang, aku akan jelaskan semuanya," ucapku dalam hati.
"Mas.."
“Tidak ada Sasa aku hanya melihat orang yang ku kenal saja, tapi sepertinya aku salah orang," jawabku singkat.
Sasa terlihat tak percaya dengan jawaban ku, "Teman mu seorang wanita? aku dengar mas memanggil nama khumaira, sejak kapan mas berteman dengan wanita?"
Ah kenapa aku sampai teledor, sekarang bagaimana aku menjelaskan padanya?
"Tidak Sasa mungkin kamu salah dengar, sudah ayo kita temui direktur rumah sakit. setelah itu kita akan langsung pulang. "
Aku merangkul Sasa berharap iya melupakan pertanyaan tadi, namun ternyata tidak justru Sasa melepaskan rangkulanku.
“Mas kamu aneh, tadi kamu memanggil seorang wanita sekarang kamu mengatakan akan langsung pulang setelah dari rumah sakit ini, kamu kenapa apa kamu capek nemenin aku?"
“Sasa sudah malu di lihat orang, sudah ayo kita menemui direktur rumah sakit."
Aku masih berbicara lembut pada Saşa, aku mencoba meraih tangannya untuk menariknya pergi dari sana. Karena sekarang kami sudah jadi tontonan orang-orang, aku takut kami akan bertengkar kemudian viral dan khumaira melihat itu.
“Saşa tolong lah mengerti, jangan bahas masalah ini disini. ayo kita selesaikan di luar, kita tidak akan pulang kita akan langsung pergi untuk refreshing."
Saşa melirik ke sekelilingnya, melihat orang-orang yang menatap aneh ke arah kami. Akhirnya Saşa mengalah, iya menarikku dari sana meski dengan wajah cemberutnya.
“Jangan karena aku mencintaimu kamu bisa berbuat seenak mu mas, aku akan cari siapa wanita bernama khumaira itu. Dan lihat Saja, jika kamu selingkuh dariku!"
Aku menelan Salivaku dengan kasar, saat mendengar ucapan Sasa, meskipun iya mengatakan itu dalam keadaan marah namun suara nya terdengar santai.Aku tahu, semua itu bukanlah hanya amarah semata aku yakin Sasa benar-benar akan mencari khumaira.
Sasa melepaskan tanganku dengan kasar, kemudian iya menatap ke sekelilingnya.
“Ayo temani aku masuk ke dalam, aku gak mau ya mas kamu masih kayak tadi."
Aku mengangguk lemah, “Maafkan aku, lupakan yang tadi ya aku benar-benar sedang banyak pekerjaan aku benar-benar pusing. Sudah ya kita lupakan soal tadi, dan soal khumaira."
kening Sasa mengerut, “Memang kenapa soal khumaira? siapa dia?"
“Dia adalah... "
Ceklek
Aku dan Sasa langsung menatap ke arah pintu yang terbuka, sesaat setelahnya Sasa langsung menyapa orang itu dan menyalaminya.
Huh selamat.
“Siang direktur maaf atas keterlambatannya," ujar Sasa pada direktur rumah sakit itu.
Direktur itu tersenyum pada Sasa dan juga aku, aku pun ikut menyalami direktur yang masih tergolong muda itu.
“Mari masuk, kita bicara di dalam."
Aku dan Sasa mengikuti direktur itu masuk ke dalam ruangan pribadinya, kami dipersilahkan untuk duduk dan di suguhi minuman dan cemilan kecil.
Sasa dan direktur bernama Raksa itu terlibat obrolan seru, dari mulai masa kuliah, ucapan selamat atas studi Sasa yang gemilang dan juga kerjasama.
Aku sama sekali tak mendengar atau ikut terlibat obrolan itu, aku hanya banyak diam dan bahkan melamun karena mengingat kejadian tadi.
“Ah bodohnya kenapa aku tidak menelponnya saja," pikirku.
Aku langsung merogoh sakuku, dan mencari kontak khumaira untuk sekarang aku kirim pesan saja. Takut Sasa curiga.
“Jadi tuan Latif ini adalah calon suami mbak Sasa?"
“Iya Pak, iya kan mas?"
Sasa melirik ke arahku dengan memberi kode untuk menjawab pertanyaan direktur tadi, “Ah belum pasti pak," jawabku.
Sasa terlihat terkejut mendengar jawabanku, tapi aku benar-benar tidak mau memberi harapan lebih. Lagipula aku merasa begitu jahat jika mengatakan Sasa adalah calon istriku.
"Ekhem"
“Maaf Pak direktur, mungkin calon suami saya gugup karena kami baru bertemu setelah 5 tahun berpisah," ujar Sasa sambil merubah posisi duduknya agar lebih nyaman.
“Hahahaha begitu," Direktur itu menyenderkan punggungnya ke sandaran kursinya, iya tersenyum sambil menautkan jari-jarinya ke dalam masing-masing sela jari.
“Jangan terlalu lama tuan Latif, bisa saja lo saya yang meminang nona Sasa. secara saya juga sedang mencari calon istri sekarang."
Entah hanya bercanda atau ucapan serius, tapi ucapan direktur itu membuat hatiku sedikit tersentil. Sasa terlihat tersenyum, mungkin iya bangga menjadi rebutan para pria.
“Jika jodoh tidak ada yang tahu tuan."
Jawaban simpleku itu sepertinya berhasil memantik amarah Sasa semakin besar, iya terlihat melebarkan bola matanya dan langsung mengajakku untuk keluar.
"Tuan raksa, saya ada keperluan lain dengan mas Latif mungkin lain kali kita akan bahas mengenai kerjasama tadi. Untuk hari ini saya rasa cukup sampai disini," ujar Sasa berpamitan.
Tuan raksa mengangguk, "Baiklah nona nanti silahkan kabari saya saja jika ingin bertemu, ini kartu nama saya dan usahakan untuk sendiri saja agar kita fokus membahas pekerjaan dan tidak terganggu dengan hal lain."
Tuan raksa seperti sedang menyindirku sekarang, bahkan iya terang - terangan melirik tak suka ke arahku. Apa karena dia menyukai Sasa?
"Baik tuan kami permisi."
Aku langsung keluar begitu saja, meninggalkan Sasa yang masih sibuk meminta maaf karena kurang efektifnya pertemuan mereka hari ini.
**********************************************
“Mas, kamu tu kenapa sih? jelasin mas, aku kesal lihat kamu gini mas."
Aku berbalik sambil menatap Sasa dengan jengah, "Lalu aku harus gimana Sasa? kamu mau aku gimana, jangan gini dong."
Aku benar-benar kesal dengan sikap kekanak-kanakan Sasa, sulitkah iya paham bahwa aku sedang pusing karena dirinya?
Sasa terus mengoceh sambil berusaha berjalan mengejarku, “Harusnya kamu minta maaf karena udah buat aku kesal mas, harusnya kamu bilang dengan dokter raksa bahwa kita mau nikah. Tapi kenapa malah kamu bilang gitu?"
“Jangan bahas soal itu Sasa, aku sedang pusing sekarang. Harusnya kamu mengerti bagaimana situasinya saat ini."
“Situasi apa? situasi kalau kamu sedang memikirkan khumaira itu, iya!"
“Diam Sasa, lebih baik kamu pulang sendiri."
“Mas mas Latif, tunggu aku mas."