Sasa mengejar mobilku sambil berteriak memintaku untuk berhenti. sedangkan aku tak menghiraukan hal itu. aku harus melihat keadaan khumaira sekarang.
Setelah cukup jauh dari rumah sakit, aku lantas berhenti untuk menghubungi khumaira. Aku tidak bisa menghubunginya sambil menyetir, itu akan membahayakan keselamatanku.
Tut tut tut
"Tolong angkat sayang, kamu dimana khumaira tolong angkat lah panggilanku."
Aku berkali-kali menghubungi khumaira, baik telpon ataupun pesan tapi tak ada satupun balasan. itu membuatku takut jika seandainya khumaira benar-benar melihat aku bersama sasa tadi.
Drt drt!
Aku membuka handphoneku dengan cepat, berharap khumaira yang membalas pesan. Tapi ternyata tidak, itu pesan dari sasa.
“Sayang kenapa kamu meninggalkanku, tolong jemput aku sayang, aku minta maaf jika membuat mu marah. kita langsung pulang saja, tolong ya jemput aku."
Aku menarik nafas dalam sambil memijit keningku yang begitu sakit sekarang, ah harusnya aku tidak meninggalkan Sasa dia tidak mungkin pulang sendiri.
Akhirnya dengan berat hati aku kembali membelokkan mobil ke arah rumah sakit, aku akan mengantar Sasa pulang dan aku juga akan pulang ke rumah. huh, tidak masalah tenang tenang.
Dari kejauhan di area rumah sakit aku melihat Sasa berdiri sambil menyeka matanya, ah pasti dia menangis. Sasa memang seperti itu, dia selalu menangis ketika kami bertengkar.
Citt!
Aku membuka kaca mobil, “Ayo masuk, kita langsung pulang aku ada pekerjaan penting."
Sasa mengangguk dan berlari ke pintu mobil, kemudian iya masuk ke dalam dengan ekspresi cemberutnya.
Aku lantas menghidupkan mesin mobil dan kami berangkat, aku berusaha agar keadaan tidak canggung dan berusaha menghiburnya."Sudah, jangan menangis aku minta maaf. Aku masih banyak pekerjaan, tolong pahami keadaanku."
Sasa menyeka air matanya, "Aku minta maaf, jangan tinggalkan aku lagi. aku benar-benar takut kalau mas Latif seperti ini karena wanita lain."
Deg!
Tuhan kenapa engkau seperti sedang membuatku terbayang-bayang akan khumaira istriku, aku tahu perbuatanku ini salah. tapi aku butuh waktu untuk menjelaskan semua ini, aku belum siap.
“Sudah jangan bicarakan hal yang tidak penting, sekarang kita akan langsung pulang. maaf tidak bisa menemanimu lebih lama."
Sasa mengangguk, “Berjanjilah untuk tidak mencintai orang lain selain diriku," Sasa mengacungkan jari kelingkingnya padaku. Karena tidak mau Saşa kesal, aku langsung ikut mengaitkan jariku agar iya segera diam.
"Ah sayang maaf aku tidak bermaksud berbohong pada siapapun soal pernikahan kita."
Aku mengantarkan Saşa pulang ke apartemennya, tapi saat tiba disana ternyata Saşa tidur dan aku tak tega untuk membangunkannya.
"Ah bagaimana ini, jika aku bangunkan bisa saja dia tidak akan bisa tidur lagi. Tapi jika aku menggendongnya ke atas, bagaimana jika orang salah paham? "
Aku memikirkan cara bagaimana agar bisa membawa Saşa ke atas tanpa ada yang melihat, bukan apa tapi setelah wanita yang mirip dengan khumaira aku jadi sedikit was-was.
Aku melihat seorang satpam yang berjaga, lantas aku keluar dari sana dan menghampirinya.
"Permisi pak," sapaku dengan sopan.
Satpam itu tersenyum, "Pagi pak ada yang bisa saya bantu?"
"Ah begini pak saya mau minta tolong, apa bisa bapak menggendong teman saya ke kamarnya. karena saya kurang enak jika harus menggendongnya ke atas."
Satpam itu terlihat keheranan mungkin ini adalah hal baru baginya, dan mungkin saja dia merasa aneh.
"Teman bapak siapa? Laki-laki atau perempuan?"
Aku mengarahkan pandangan ku ke arah mobil, “Perempuan pak," jawabku singkat.
"Ah begitu, maaf Pak saya tidak bisa. saya takut malah di kira melecehkan, lagipula sepertinya saya pernah melihat bapak dimana ya?"
Satpam itu pun seperti sedang mengingat soal dimana dia melihat ku, "Ah iya teman bapak mbak Saşa ya? saya ingat sekarang di kamar mbak Saşa ada foto besar, saya pernah masuk kesana untuk mengecek lampu yang sempat rusak."
apa? Saşa mencetak foto besar? astaga.
“Ah begitu ya pak, tapi tolong pak bantu saya untuk membawanya ke atas. saya takut pak," ujarku kembali membujuknya.
“Ah maaf pak, saya benar-benar tidak bisa. apalagi yang saya tahu mbak Saşa itu paling anti berkomunikasi lebih dengan laki-laki, jadi saya takut pak."
huh, percuma sepertinya aku membujuknya karena apa yang bapak satpam ini katakan benar adanya, Saşa bisa mengamuk nanti bila tahu yang membawanya ke kamar adalah seorang satpam.
Akhirnya aku kembali ke mobil, mau tak mau aku harus membawa Saşa ke atas. sebelum itu aku melirik kesana dan kemari. memastikan keadaan, sepertinya aman.
Aku menggendong Saşa ke atas, meskipun menggunakan lift tapi Saşa cukup berat aku sampai sedikit ngos-ngosan membawanya. padahal jika menggendong khumaira aku sanggup.
Saat tiba di pintu kamar Saşa, aku mencari cardlock di pakaian Saşa, karena sedikit kesulitan aku sedikit memasukkan tanganku ke dalam tas kecilnya untuk meraba, ah ketemu.
cekrek!
Aku masuk ke dalam kamar Saşa, langsung merebahkan tubuh Saşa di atas ranjang. Saat dalam posisi Saşa di bawah dan aku di atasnya, Saşa tiba-tiba menarikku hingga tubuhku terjatuh tepat di atas tubuhnya.
Saşa memeluk leher ku dan tiba-tiba mencium keningku, “İ Love You," ujarnya.
Aku sempat terpana dengan wajah cantik itu, mata kami saling tatap sampai bibir kami hampir saling menyatu.
“Saşa lepaskan!"
Aku melepaskan pelukan itu dengan sedikit kasar, Saşa bangkit dari posisi tidurnya dan bersender ke senderan ranjang.
"Mas apa kamu tidak rindu padaku? kita sudah lima tahun tidak bertemu, apa salah aku mencium pacarku?"
Aku memijit pelipis ku, "Tidak ada yang salah, tapi kondisinya sudah berbeda jangan lakukan hal seperti itu lagi. aku tidak mau ada orang yang salah paham dengan semua itu."
"Salah paham?" ucapnya dengan wajah keheranan, "Mas semua orang tahu bagaimana kita, kita adalah pasangan yang akan menikah."
“Tidak Sasa jangan bahas pernikahan, cukup aku harus pulang segera."
Aku berjalan ingin keluar dari sana, "Apa karena wanita bernama khumaira itu mas?"
Langkahku seketika terhenti, aku menutup mataku ya Tuhan apa yang harus kukatakan.
“Jangan bahas dia, dia tak ada sangkut pautnya dengan semua ini."
"Lalu karena apa? apa kamu marah karena aku pergi selama 5 tahun? hatiku sakit saat kamu menolakku seperti tadi."
Aku melirik ke arah samping dimana Saşa berdiri di belakangku, “Ya aku kecewa padamu, kau pergi tanpa memberikan kabar. Dan datang disaat aku sudah berdamai dengan keadaan."
“Mas, itu semua bukan inginku. Aku mencintaimu mas latif, aku menjaga hatiku di perantauan hanya demi untukmu. Bahkan aku semangat untuk sembuh,karena dirimu."