Setelah pertengkaranku di apartemen dengan Sasa aku saat itu juga langsung pulang, Sasa bahkan sama sekali tak lagi menghubungi ku setelah dua hari berlalu.
Awalnya aku tak ingin memikirkannya, tapi tiba-tiba rasa khawatir menyeruak begitu saja. Aku takut Sasa kesal dan melakukan suatu hal yang tidak baik.
Pagi ini khumaira sudah sehat seperti sebelumnya, sempat aku bertanya padanya adakah dia pergi ke rumah sakit Bangsa yang saat itu aku kunjungi bersama Saşa. khumaira menjawab tidak ada, lagipula dengan apa dia bisa kesana karena tidak ada kendaraan pribadi di rumah selain mobil yangku pakai.
Aku sangat paham betul, khumaira tidak akan pernah pergi tanpa di temani muhrimnya.
“Mas kenapa kamu melamun seperti itu?"
Teguran khumaira membuatku tersadar, “Tidak ada sayang, aku hanya mengingat temanku saja," jawabku singkat.
Khumaira mengangguk, “Makanlah dulu setelah itu temui temanmu dan selesai kan urusan kalian."
“Ma maksudnya bagaimana sayang?" jawabku gugup.
Khumaira meletakkan piring berisi menu sehat bergizi untuk sarapanku pagi ini di depanku, “Ya selesaikan urusan kalian mas, agar itu tidak mengganggu."
Aku menelan salivaku yang terasa pahit ini, “Apa kamu terganggu sayang?"
Khumaira duduk kemudian meraih saka yang ada di gendonganku, “Kenapa aku harus terganggu jika itu memang teman, bukan teman rasa pasangan."
Deg!
Seperti di tusuk sembilu, perkataan khumaira langsung menghunus ke jantungku. dia hanya berbicara dengan lembut seperti itu, bisa membuat hatiku merasa tidak baik-baik saja.
“Eumm sudah sudah ayo kita makan, kamu pegangi saka saja ya sayang biar aku yang menyuapimu."
Aku meraih sendok dan lekas menyuap nasi yang ada di piring, berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang karena sindiran halus tadi.
Aku menyuapi khumaira namun dengan cepat iya menghindar, "Makanlah mas, kamu perlu banyak tenaga untuk menyelesaikan semua masalah yang akan terjadi. Aku tidurkan saka dulu."
Khumaira langsung bangkit setelah mengatakan itu, wajahku langsung berubah merah padam mendengar ucapannya. aku menatap kepergian nya dengan penuh tanya, mungkin kah iya sudah tahu? dan hanya menunggu untuk aku jujur padanya?
Ah tidak-tidak itu hanya perasaanku saja, tidak mungkin khumaira tau sedangkan dia sama sekali tidak ada di rumah sakit itu.
Sudah, aku yakin aku saja yang terlalu takut. ya benar aku terlalu takut.
aku mencoba menenangkan diriku, sarapan pagi ini membuatku tak lagi berselera untuk menghabiskan makanan yang telah di siapkan khumaira.
Drt drt!
Aku meraih handphoneku yang ada di meja, saat aku mengecek ternyata ada nomor baru disana.
“Pak tolong angkat panggilan ini, ini darurat pak bu Sasa sedang dalam kondisi kritis."
Deg!
aku langsung menelpon nomor itu, hanya berselang berapa detik panggilan langsung tersambung.
“Tolong jelaskan pada saya, ada apa ini? siapa kamu," ujarku yang mulai panik.
“Saya petugas kebersihan di apartemen pak, saya menemukan bu Sasa tergeletak lemas di kamarnya sepertinya keracunan."
“Apa! sekarang dimana Sasa, apa dia baik-baik saja, siapa yang menjaganya sekarang?"
"Bu Sasa sudah ada di rumah sakit pak dan senang di tangani."
Tut!
Aku langsung mematikan panggilan itu dengan segera, dan berlari ke atas menuju kamar untuk mencari kunci mobil.
“Mas kenapa kamu lari seperti itu mas?" Khumaira menegurku saat aku melintasi kamar saka, tapi aku sama sekali tidak menjawab.
Aku mencari kunci mobilku tapi sama sekali tidak ada, di dalam tas, di atas ranjang bahkan di atas meja yang bisa menjadi tempat nya juga tidak ada.
“Khumaira, khumaira sini kamu cepat!"
Aku berteriak memanggil khumaira, hingga iya datang dengan berlari tergopoh-gopoh sambil menggendong saka.
“Ada apa ini mas, kenapa kamu teriak dan mengacak-acak kamar."
Aku memegang kepalaku, “Akhhh jangan banyak tanya, dimana kunci mobil. cepat cari kunci mobil!"
“Aku tidak tahu mas, biasanya kamu yang memegangnya."
“akhh bantu aku mencarinya khumaira," aku langsung berteriak di depan wajahnya sampai membuatnya menutup mata, "Aku butuh kunci itu!" teriakku lagi.
Khumaira langsung berjalan ke arah lemari sambil membuka laci, dia ikut mencari.
"Ada atau tidak!"
Khumaira menggeleng, “Tidak ada mas!"
“Hakhhh," aku mengacak rambutku karena frustasi, sampai aku melempar Selimut ke lantai.
“Sudah, mencari itu saja tidak bisa!"
Khumaira terlihat terdiam, “Maaf mas, aku benar-benar tidak tahu!" ucapnya terlihat menyesal.
Aku tak lagi menanggapi ucapannya, lekas saja aku keluar dari kamar menuju garasi. Jeketku ada disana, aku akan mengambilnya dan berangkat menggunakan taxi saja.
Aku meraih jaket yang tersangkut di pintu garasi yang terhubung dengan pintu samping rumah, aku lekas saja memakainya agar bisa langsung berangkat.
Khumaira tak lagi mengejarku, mungkin saat ini wanita itu sedang menangis. ah entahlah, harusnya dia tahu dimana kunci mobil itu.
Aku berlari ke arah jalan, menunggu taxi yang biasa lewat. Lama aku menunggu, sama sekali tak ada taxi yang datang.
Aku merogoh saku untuk berinisiatif memesan gojek, tapi alangkah terkejutnya aku ketika menemukan sesuatu di kantong ku.
"Kunci mobil," Tanganku sampai bergetar memegang nya, ah latif betapa pelupanya kau sampai tak tahu kalau kunci itu ada di sakumu.
Aku melirik ke arah rumah, ternyata khumaira memandangiku dari jendela yang ada di atas.
Rasa kembali bersalah menghinggapi, atas perbuatanku tadi. Aku mengelus dadaku untuk menetralkan degub jantung ku, dan berucap istighfar.
Aku kembali melirik ke atas, sekedar ingin menunjukkan pada khumaira kunci yangku cari telah kutemukan. Tapi ternyata dia sudah tidak ada disana, kemana dia? menidurkan saka kah?
Huh, oke latif jangan pikirkan itu, fokus sekarang yang terpenting keadaan Saşa.
Aku kembali berlari masuk ke dalam, masuk ke dalam mobil dan lekas berangkat.
Sepanjang jalan aku hanya memikirkan keadaan Sasa, jika khumaira aku yakin dia paham dengan keadaanku tadi. Dan pasti dia tidak akan marah hanya karena masalah sepele seperti tadi, nanti aku akan mencoba berbicara padanya.
Aku tiba di rumah sakit, ternyata ada beberapa orang dokter yang berbincang di depan pintu IGD lekas saja aku bertanya soal sasa.
"Permisi dok, saya ingin mencari teman saya."
"Anda tuan latif kan?" jawab seorang dokter sambil menunjuk ku dengan jari jempol nya.
"Iya dok saya latif, ada apa ya dok?" ucapku keheranan.
"Pas sekali, mari tuan ada yang ingin kami bicarakan dengan anda."
********************************************
"Mas kamu temenin aku disini yah, aku mau kamu jagain aku. boleh ya mas."
"Iya sayang mas temenin kamu disini ya."