“Bicara soal apa ya dok? apa ini soal Saşa atau ada hal lain?"
Mereka semua saling pandang, dan kemudian mengajakku untuk masuk ke dalam ruangan khusus dimana Saşa berada.
Aku melihat Saşa sudah menggunakan alat bantu pernapasan. hal itu membuatku berfikir apakah separah itu keadaannya?
“Begini tuan latif, ini menyangkut soal penyakit dokter Saşa yaitu kanker. Sepertinya, kanker itu masih ada dan mulai menyebar pak."
"Apa? anda tidak sedang bercandakan dok?"
Dokter itu menghela nafasnya berat, “Itu hanya asumsi awal kami saja, melihat riwayat kesehatannya selama ini. nanti kami akan melakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui iya atau tidaknya.
Lemas sudah rasanya tubuhku mendengar jawaban itu, seorang dokter tidak mungkin mendiagnosa seseorang sembarangan terlebih Saşa adalah rekan mereka.
Aku menghampiri Saşa yang sedang tertidur itu, ah maafkan aku yang sempat menolakmu beberapa hari lalu.
Aku duduk di sampingnya, mengelus rambut dan juga tangannya. memintanya untuk lekas bangun, dan mengucapkan kata cinta lainnya.
“Saşa, maafkan aku. Aku berjanji akan melakukan apapun demi kesembuhanmu."
Entah benar atau tidak doaku itu, tapi aku benar-benar takut jika Saşa benar-benar sakit. Aku akan kehilangannya untuk kedua kalinya, aku tidak mau. aku tidak mengatakan akan menikahinya, tapi sungguh melihatnya seperti ini hatiku sakit.
Aku terus mencoba membuat Saşa sadar sampai entah berapa lama, akhirnya aku tertidur di sampingnya, aku merasakan begitu nyaman seperti ada yang mengelus kepalaku. Sangking nyamannya dengan itu Aku tak lagi ingat apapun, bahkan sampai ada yang menepuk pundakku.
“Pak, pak latif pak bangunlah."
Aku terbangun dan melihat sekelilingku yang sudah di penuhi banyak orang, saat aku melirik ke arah Saşa alhamdulillah ternyata dia sudah sadar.
“Saşa, kamu bangun," ujarku kegirangan karena melihatnya sudah lebih baik dari sebelumnya.
“Iya sayang aku sudah bangun," lirihnya.
Aku segera meraih jari jemarinya, dan menciumnya dengan lembut.
“Kumohon jangan sakit lagi, aku takut jika melihatmu seperti ini."
Saşa ikut meraba tanganku dengan tangannya yang terbalut infus, “Aku tidak akan sakit selama orang yang paling aku sayang berada di şampingku, kumohon jangan tinggalkan aku ya?"
Aku mengangguk, "Iya iya sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. maaf jika tempo hari aku membuatmu sakit dengan perlakuanku."
Saşa menepuk tanganku, “Tidak masalah, aku juga minta maaf tak seharusnya aku melakukan itu."
ehem!
Aku dan Saşa saling tatap ke arah suara, “Bisakah kita langsung mengecek keadaan mbak Saşa? saya takut akan terlalu lama."
“Ah iya dokter," aku merasa tidak enak dengan ucapan dokter itu, ah harusnya kami paham kondisi.
Para perawat itu lekas mendorong hospital Bad Saşa, aku pun ikut mendampingi Saşa untuk pergi ke ruang CT scan.
Sasa menjalani pemeriksaan dengan tenang, beda dengan aku yang sejak tadi keluar masuk ke dalam hanya untuk melihat Sasa.
Setelah CT scan selesai sasa memilih menggunakan kursi roda, dan dia meminta untuk biar aku saja yang mengantarnya ke kamar. Sasa ingin membicarakan sesuatu.
Aku menuruti kemauan Sasa, Sasa meminta di bawa ke taman rumah sakit. tidak banyak orang disana, membuat kami lebih leluasa untuk bercerita.
“Ada apa sasa kamu ingin bicara apa?"
Sasa terlihat menarik nafasnya berat, kemudian iya menatapku.
“Mas apa kamu mencintaiku?"
Kali ini aku tak dapat berbohong dengan jawaban ku lagi, aku menunduk kemudian mengangguk dengan cepat. İni bukan semata hanya membuat Sasa senang, tapi aku menyadari perasaanku belum selesai dengannya. Aku khawatir padanya, bahkan aku takut jika dia sakit seperti sekarang.
“Apa mas serius? aku hanya ingin kejujuran, jika memang di hati mas sudah ada wanita lain aku ikhlas mas."
“Jangan katakan itu Sasa,"aku langsung memotong ucapan sasa, nada ku sedikit bergetar karena rasanya d**a ini begitu sesak dan ingin menangis saat itu juga.
“Kumohon jangan katakan itu, aku benar-benar masih mencintaimu. apa kamu rela jika aku bersama orang lain? "
Sasa menggeleng, “Aku benar-benar tidak rela mas, hiks bahkan jika kamu sudah bersama orang lain mungkin aku akan tetap mencintaimu. aku benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah lebih lama lagi seperti dulu."
Aku memeluk Sasa dengan erat, aku menenangkannya agar iya berhenti menangis. Aku benar-benar sedih melihat nya seperti ini.
Cekrek!
“Sudah ya, jangan menangis lagi," aku menghapus air mata Sasa dan mengelus rambutnya dengan sayang, “Aku benar-benar menyayangimu sasa, aku mencintaimu jangan takut aku tidak akan meninggalkan mu."
Sasa mendongak menatap ku dengan mata sembab nya “Berjanjilah mas, untuk selalu berada di sampingku. aku tak masalah jika harus menunggu mu siap beberapa puluh tahun pun, tapi jika mengikhlaskan mu untuk wanita lain aku tak mampu."
Aku kembali memeluk sasa, dan ikut menangis mendengar ucapannya. rasa sedih bercampur kesal pada diriku sendiri. membuat dadaku sesak, kenapa takdir harus mempermainkanku seperti ini? aku telah menyakiti dua orang wanita karena hubungan ini.
Aku tak pernah bermimpi akan mencintai dua orang wanita sekaligus di dalam hidupku, masa lalu yang hadir membuatku tak mampu untuk memilih antara dirinya dan juga istriku.
Mungkin di fase ini orang-orang akan mengatakan aku sebagai laki-laki pengecut, Laki-laki yang tidak sayang istri, atau lebih parah lagi mengatakan aku sebagai laki-laki pecinta selangkan*an.Tapi sungguh, jika harus memilih aku benar-benar tidak bisa.
“Cup, sudah ya ayo kita masuk ke dalam. kamu harus istirahat, semoga saja keadaan mu baik-baik saja. Ayo," aku mendorong kursi roda sasa untuk kembali ke igd, karena mungkin sebentar lagi sasa akan di rawat inap untuk mengetahui kondisi lebih lanjutnya.
Sebelum sampai di ruang IGD sasa kembali berujar, “Mas kamu jagain aku yah, aku gak mau sendiri. nginap saja disini ya mas, kamu gapapa kan?"
Aku mengangguk, “Iya sayang, aku akan menginap disini untuk menjagamu. Sudah tidak perlu khawatir ya, sekarang fokus pada kesehatan mu."
“Aku senang, mas tidak berubah tidak sia-sia aku berjuang untuk sembuh dulu, walaupun sekarang aku sakit lagi, setidaknya aku dipertemukan dengan laki-laki bertanggungjawab seperti kamu."
Aku tersenyum mendengarnya, Sasa wanita sholehah begitu pandai membuat laki-laki merasa di hargai dan di butuhkan kehadirannya.
Aku merasa seperti seorang pahlawan bagi sasa, meskipun aku mengakui jika dengan khumaira pun diriku begitu berperan sebagai suami. Ah rasanya jika seperti ini aku merasa mampu jika harus bersikap adil.
Setibanya di IGD, aku lekas menggendong Sasa untuk naik kembali ke atas badnya.