Aku menyuapi Sasa makan dengan senang, entah kenapa aku merasa bahagia dekat dengan Sasa.
“Mas apa kamu tidak bekerja? atau mungkin mama dan papa mu apa tidak marah jika kamu bertemu denganku?"
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Sasa, aku tersenyum kemudian lantas menyeka sudut bibir wanita itu dengan tisu.
"Mama dan papa Sudah almarhum dua tahun yang lalu," jawabku dengan sendu.
“Ah maafkan aku, aku sungguh benar-benar tidak tahu. maafkan aku ya mas," Sasa meraih tanganku kemudian menciumnya.
Aku mengelus kepala Sasa, “Tidak masalah, fokuslah dengan kesehatan mu jangan pikirkan hal lain."
Sasa mengangguk, "Aku akan semangat untuk sembuh demi kamu mas, kamu mau kan kalau kita menikah setelah aku sembuh?"
"Ah Sasa, jangan dulu pikirkan itu kita jalani saja dulu seperti ini dan fokuslah dulu pada kesehatan mu."
Sasa tampak cemberut mendengar jawaban itu, iya merasa bahwa pria yang iya cintai itu tak lagi serius padanya. Padahal iya sudah rela kembali dari luar negeri demi hubungan mereka.
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku?"
Sasa kembali menudingku dengan pertanyaan itu, padahal iya pun tahu betapa cintanya aku padanya. Tapi aku belum mampu menyanggupi ajakannya.
Sasa melepaskan genggaman tangannya, membuatku sadar iya benar-benar marah, “Sudahlah kamu memang tidak mencintaiku. Maaf jika aku membuat mu pusing dengan permintaanku."
Sasa Langsung membelakangiku begitu saja, membuatku menarik nafas dalam karena melihat tingkahnya. Memang sasa sejak dulu seperti ini, dia adalah gadis manja. jadi wajar saja jika dia seperti itu.
“Sasa maaf ya, jika untuk menikah aku belum siap. Aku masih nyaman dengan situasi seperti ini, kamu mau mengerti kan?"
Sasa langsung bangkit dan kembali menghadapku, aku tersenyum menatapnya.
“Kenapa, apa kamu takut kita menikah? apa karena aku penyakitan, atau karena papa dan mama mas tidak setuju dengan hubungan kita? tapi mereka sudah meninggal mas, harusnya penghalang hubungan kita sudah tidak ada jadi apa yang harus kita tunggu."
Sasa benar-benar kesal dan protes atas penolakan ku itu, “Sasa tidak seperti itu," Aku menyeka sudut matanya yang mulai berair, "Sudah ya aku hanya belum siap hanya itu bukan karena alasan tertentu sabar ya."
"Tapi aku ingin........ " Ucapan sasa terhenti tat kala mendengar suara handphoneku yang berbunyi, aku lantas memberi kode padanya untuk diam.
Drt Drt Tringgggggggg!
“Mas, bolehkah pulang dulu? Dadaku benar-benar sakit mas, kepalaku sangat pusing, bahkan aku sejak tadi mual mas."
Aku menyipitkan mataku, kemudian membalas pesannya, “Sayang sepertinya kamu sedang masuk angin, gosokkan minyak angin ke tubuh mu dan segera lah beristirahat."
“Tapi ini benar-benar sakit mas, tidak bisakah kamu pulang untuk merawatku?"
Aku melirik ke arah Sasa yang tengah menatap ku curiga, "Ada apa mas,?" ujarnya.
Aku merasa tak enak mengatakan nya pada sasa, "Bolehkah aku pulang dulu? Ada sesuatu yang terjadi di rumah."
"Tapi kamu sudah berjanji tidak akan kemanapun dan akan menjagaku disini, mas aku butuh kamu disini," Rengeknya sambil menarik lenganku.
"Tapi Sasa begini dengarkan aku, aku benar-benar harus pulang. Karena ini darurat, aku akan datang nanti malam, ya?".
“Tidak, Jika memang harus pergi tidak perlu lagi kembali kesini. Silahkan pergi saja."
Sasa benar-benar tidak bisa memahami kondisiku, padahal Khumaira butuh aku sekarang. tapi jika aku pergi sasa benar-benar akan marah, lalu bagaimana ini Khumaira juga memintaku untuk pulang.
Huh, "Baiklah aku tidak akan pulang."
Sasa tersenyum mendengar hal itu, iya langsung memelukku dengan erat. aku pun ikut membelai rambut panjangnya, dan mencium keningnya.
Khumaira, maaf untuk kali ini mas harus menemani Sasa dia butuh mas. Mas yakin kamu akan baik-baik saja sayang, berbeda dengan Sasa yang benar-benar membutuhkan kehadiran mas disini.
“Aku hubungi teman ku dulu ya sayang?" Ujarku pada Sasa.
Sasa mengangguk kemudian aku langsung mengirim pesan pada Khumaira.
“Maaf sayang aku tidak bisa pulang, ada pekerjaan yang benar-benar harus kutangani segera , istirahat dulu ya? nanti aku akan pulang jika pekerjaanku telah selesai."
Khumaira tak lagi membalas pesanku, aku pun tak ambil pusing. mungkin iya sudah paham jika aku sibuk sekarang, lagipula dia hanya masuk angin. Besok aku akan pulang.
"Mas aku ingin tidur, temani ya?" Rengek sasa.
"Iya akan aku temani, tidurlah," ujarku sambil mengelus kepalanya dengan sayang.
Sasa menggeleng, "Tidak mau, aku mau mas juga naik ke atas kasurnya, kita tidur bersama boleh kan? aku ingin di peluk mas, boleh kan?"
Ah aku jadi tidak enak, ingin menolak juga tak mampu akhirnya dengan sedikit malu-malu aku ikut naik ke atas ranjang, sasa sangat antusias. Iya memelukku sambil bersender di dadaku.
Sasa dengan cepat langsung tertidur pulas, sedangkan aku hanya sibuk memainkan rambut panjangnya. Melihatnya tenang seperti ini, membuatku ikut tenang.
Aku tak tahu jika seandainya dia mengetahui fakta sebenarnya dia justru akan pergi meninggalkanku, aku tak mau itu tapi aku pun tak mau jika khumaira tersakiti karena ulahku.
Maaf jika aku belum mampu menjadi pria yang memegang prinsipnya, mama papa pasti begitu kecewa jika tahu aku membuat khumaira kecewa.
Maaf pa ma, tapi perasaan latif masih ada untuk sasa. Ini salah latif, harusnya dulu latif tidak buru-buru berpaling dari sasa. Dan harusnya latif terus mencari kabar tentang sasa, tapi latif justru mencari kenyamanan lain pada khumaira.
Sekarang, Latif tidak tahu harus berbuat apa. Cinta ini sama besarnya pada mereka. Semoga saja masalah ini segera usai. Dan semoga tidak ada yang pergi ataupun tersakiti dengan semua ini.
*******
Di sisi lain, Khumaira menatap handphonenya dengan tangan bergetar. Pelupuk matanya mulai meneteskan air mata.
“Mas, aku benar-benar membutuhkan mu sekarang, apa kamu tidak khawatir padaku?"
Khumaira menangis sambil duduk di sudut pintu menunggu kepulangan latif, iya begitu merindukan suaminya itu. Yang beberapa hari ini sudah mulai semakin sibuk entah karena apa, iya menyeka sudut matanya kemudian meraih secarik kertas yang tergeletak di sampingnya.
"Mas aku ingin menunjukkan ini padamu, apakah jika kamu tau yang sebenarnya kamu akan khawatir padaku mas? aku merindukanmu, tak biasanya kamu akan mengirim pesan penolakan seperti itu."
“Hiks hiks, ya Tuhan sakit sekali. mas latif tolong mas hiks."
*********************************************
Ceklek, ting!!!
“Khumaira, kamu belum tidur sayang? ini sudah larut, apa saka membuat kamu lelah hari ini?"
"Kenapa kamu baru pulang hari ini mas, apa ada sesuatu di luar sana?"