Ceklek, ting!!!
Saat aku membuka pintu, Tiba-tiba lampu juga ikut menyala. Khumaira berdiri di dekat saklar lampu, dan menatapku dengan sendu.
“Khumaira, kamu belum tidur sayang? ini sudah larut, apa saka membuat kamu lelah hari ini?"
"Kenapa kamu baru pulang hari ini mas, apa ada sesuatu di luar sana?"
Aku lekas berjalan cepat ke arahnya, “Maaf sayang pekerjaanku begitu banyak, membuatku benar-benar tidak dapat pulang selama dua hari ini."
Aku berusaha merangkul tubuh khumaira namun dengan cepat dia menghindar, dan malah membalikkan tubuhnya hingga membuat kami saling berhadapan.
“Kemarin juga hari ini, aku datang melihatmu di kantor mas. Tapi, kamu tidak ada disana, apa kamu sedang keluar atau sedang ada hal?"
“Kamu datang ke kantor sayang? untuk apa, kenapa tidak telpon atau kirim pesan padaku jika memang kamu butuh sesuatu."
Khumaira tersenyum miring sambil mengelus sebelah lengannya, “Bahkan saat aku meminta mas untuk pulang. Mas menolaknya," ujarnya dengan suara yang mulai melemah.
Khumaira mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari kontak mata denganku.
“Sayang mas bisa jelaskan, ayo kita duduk dulu," aku berusaha meraih tangan khumaira namun iya tetap menghindar.
"Maaf mas, mungkin pekerjaan mu lebih penting dibandingkan dengan apapun, aku tahu itu. Tapi kemarin aku benar-benar membutuhkan mas di sampingku, bahkan saka terus menanyakan mas yang dua hari tidak pulang."
Huh, aku bukan tidak ingin pulang. Tapi aku harus menjaga Sasa di rumah sakit. Tidak ada siapapun yang menjaganya disana, Sasa terus merengek memintaku untuk tetap disana sampai hasil pemeriksaan keluar.
Dan hari ini hasil itu sudah keluar, Sasa diharuskan untuk kemoterapi. karena penyakitnya masih ada harapan untuk sembuh seperti dulu, entah apa penyebabnya sampai kanker itu kembali tumbuh di tubuhnya. Tapi apapun itu, Sasa menginginkan aku untuk tetap berada di sampingnya.
Sungguh ini bukan inginku, aku tak tega bila harus mengatakan soal keadaan sejujurnya kepada Sasa. Aku takut itu membuat mentalnya down, terlebih harusnya aku menjadi support system terbaik untuknya.
"Mas kamu mendengarku?"
"Ah iya," Aku terkesikap mendengar panggilan khumaira itu, padahal dia hanya memanggilku dengan pelan tidak berteriak sama sekali.
"Sepertinya mas terlalu banyak pikiran, kalau begitu makanlah dulu aku sudah menyiapkan makan malam untuk mas."
Aku tersenyum penuh cinta, semarah apapun khumaira tetap melayaniku dengan baik. hal itu membuatku semakin mencintainya, karena begitu jarang wanita di dunia ini yang tetap bisa mengontrol emosinya ketika marah.
Aku dan khumaira duduk berdua di meja makan sederhana rumah kami, khumaira menyajikan makanan kesukaanku di atas meja.
“Makanlah mas," ujarnya dan ikut duduk di seberangku.
Aku mengangguk, kemudian meraih piring Dan mengambil nasi juga beberapa lauk.
Satu suapan, dua suapan, aku terus memperhatikan wajah khumaira yang tampak pucat. dan khumaira tampak melamun, ah apakah dia masih memikirkan kemana aku pergi selama dua hari ini?
Aku harus menjelaskan padanya, aku takut dia akan salah paham.
“Sayang"
Khumaira menatapku, "Iya mas," jawabnya dengan lembut.
“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu? Dari tadi mas perhatikan kamu melamun, ada apa ceritakan pada mas."
Khumaira tampak menghela nafas, iya menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi kemudian menatap langit-langit rumah.
“Tidak ada mas, entah kenapa perasaanku mendadak khawatir memikirkanmu selama dua hari ini. terlebih saat mas marah hanya karena kunci mobil, aku merasa benar-benar khawatir dan aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi."
"Soal kunci mobil, maafkan mas sayang. Mas benar-benar panik saat itu, salah satu teman mas masuk rumah sakit. Dan dia butuh pertolongan mas."
Khumaira melirik ke arahku, iya menegakkan tubuhnya kemudian berkata, "Apakah dia seorang wanita?"
Aku terdiam cukup lama, mendengar pertanyaan itu karena tak mau khumaira semakin curiga aku lantas menggeleng.
Huh, "Mungkin ini hanya perasaanku saja, aku khawatir ada yang mengganggu rumah tangga kita. Semoga saja, di antara kita tidak ada yang menutupi sesuatu dengan kebohongan."
GLEK!
“Apa kamu benar-benar marah atas kejadian beberapa hari yang lalu?" tanyaku padanya.
Khumaira tersenyum, kemudian iya menopang dagunya di atas permukaan meja. “Aku tidak marah mas, aku hanya kaget atas respon seperti itu. Selama kita berumah tangga belum pernah aku mendengar mas membentakku, ataupun mengabaikan pesanku."
Aku mengelus tangan khumaira, dan menatapnya dengan penuh sesal, "Mas benar-benar minta maaf sayang, itu akan jadi kesalahan pertama dan terakhir yang mas lakukan. kamu mau kan memaafkan mas?" tanyaku dengan penuh harap.
Khumaira menarik tangannya membuatku tak enak, “Khumaira maafkan mas, mungkin mas memang tidak sengaja melakukan itu. lagipula kita sudah memiliki perjanjian, bahwa kesalahan yang benar-benar paling fatal itu adalah perselingkuhan."
Ya allah, apakah sebenarnya istriku ini sudah tahu soal Sasa dan dia mencoba membuatku mengakui semuanya? kenapa di setiap perkataannya mengandung makna. Dan ini kali pertama khumaira membahas perjanjian kami. Padahal aku sama sekali tidak lagi mengingat perjanjian itu.
"Aku langsung naik ke atas ya mas, saka seharian rewel mungkin untuk malam ini aku akan tidur bersamanya."
Aku ikut bangkit dari dudukku, “Sayang apa tidak boleh saka saja yang tidur bersama kita? mas rindu, sudah dua hari kita tidak tidur bersama."
Khumaira tersenyum, “Mungkin tidak mas, saka sepertinya sedang demam sejak dua hari yang lalu iya terus menangis, aku takut jika tidur bersama malah membuat mas tertular."
Huh, sepertinya khumaira sedang menghindariku. biasanya bagaimanapun iya tidak pernah tidur bersama saka, tapi malam ini dia begitu aneh. huh yasudah tidak masalah, yang penting khumaira tenang.
"Yasudah sayang, langsung istirahat biar mas saja yang membereskan semua ini."
Khumaira langsung pergi begitu saja, apakah dia lupa mengecup pipiku? kami hanya dua hari berpisah, kenapa dia seperti orang yang berbeda?
Tak ingin ambil pusing aku segera menyelesaikan makan malamku, setelah selesai aku langsung membereskan meja makan dan mencuci piring.
Saat sedang fokus mencuci tak sengaja mata ini menatap sesuatu, tepat di atas lemari kaca tempat biasa menyimpan obat untuk persediaan apabila ada tamu. aku melihat sesuatu yang baru, obat aneh yang sama sekali belum pernah kulihat.
Karena curiga, aku lantas mengambil obat itu. Dan menatapnya cukup lama, "Obat apa ini? apa ini obat saka? tapi apa mungkin seorang anak kecil minum obat pil seperti ini?" Gumamku.
Tak mau menduga-duga, aku mengambil beberapa buah obat dengan jenis yang berbeda, aku memasukkan obat itu pada plastik untuk aku bawa besok.