Khumaira menepati ucapannya, iya masuk ke kamar saka yang sudah tidur sendiri. iya mengunci pintu dengan rapat, kemudian berlari ke arah kamar mandi.
"Hiks hiks, apa salahku sampai aku harus menanggung ujian seperti ini? suamiku sendiri sama sekali tidak memikirkan perasaanku, malah iya dengan tega berbohong demi menutupi semua yang telah terjadi."
Khumaira menumpahkan rasa sedihnya dengan air mata, batinnya terguncang karena perbuatan latif beberapa hari ini. bukan, bukan iya bodoh untuk tidak mendesak latif jujur. Tapi iya memikirkan banyak hal dan pertimbangan lainnya, iya berusaha bersikap biasa saja di depan suaminya.
Batinnya hancur, benar-benar hancur. Disaat khumaira membutuhkan latif di sampingnya, latif justru menolak permintaan itu hanya karena seseorang yang kembali hadir di dalam kehidupan mereka.
Salahkah jika khumaira marah? latif sudah menjadi miliknya, tiada hak orang lain untuk itu. tapi yang begitu sangat di sayangkan latif ingkar akan janjinya, iya berselingkuh dan berbohong pada khumaira.
Ingin sekali khumaira berteriak, memukul dan bahkan membuat wanita itu malu seperti wanita pada umumnya. Tapi tidak, khumaira tidak ingin urusan rumah tangganya diketahui orang lain.
khumaira yakin jika suaminya hanya membutuhkan waktu untuk jujur, tapi sayang khumaira sudah lebih dulu tahu tentang apa yang dilakukan suaminya beberapa hari ini.
Sakit? tentu, khumaira menjadi wanita yang ada di samping latif ketika iya terpuruk. menjadi pendorong, support system, dan menjadi rekan kerja yang baik saat latif membutuhkan tempat untuk berdiskusi.
Dimana janji latif yang dulu, yang mengatakan tidak akan ada lagi cinta selain dirinya. pada kenyataannya latif tetap merespon seseorang yang begitu berharga di hatinya.
flashback on.
“Khumaira, bolehkah kamu menemani saya sebentar? saya butuh teman untuk bercerita, mungkin jika kamu tidak sibuk?"
Aku khumaira, seorang gadis yang masih cukup muda yang bekerja menjadi seorang pembantu rumah tangga di salah satu rumah mewah di kota ini.
Aku masih berusia cukup muda saat aku bekerja di rumah mas latif, hari yang ku jalani hanya seperti pembantu pada umumnya. Bahkan aku begitu sangat jarang berkomunikasi dengan mas latif.
Entah apa gerangan hari ini, mas latif memanggilku untuk menjadi teman curhatnya.
“Boleh mas," aku meletakkan nampan di atas meja makan, karena kebetulan baru saja selesai menghidangkan minuman untuk nyonya di kamarnya.
Mas latif terlihat duduk di depan kolam renang, aku berjalan mendekat ke arahnya.
"Duduklah khumaira, jangan sungkan," ujarnya kala itu.
Aku mengangguk, aku lantas duduk di kursi yang ada di samping mas latif. aku melihat wajahnya begitu tampak sedih, entah apa masalahnya.
“Bolehkah saya bercerita?"
Mas latif bertanya sambil menatapku, dengan cepat aku langsung menundukkan pandanganku dan menganggukkan kepala sebagai jawaban iya.
“Saya sedang sedih khumaira, pacar saya Sasa pergi melanjutkan studinya ke luar negeri. Beberapa hari lalu kami masih berkomunikasi, tapi sekarang justru semua sosial mediaku di blokir olehnya."
“Apakah dia sudah tidak mencintaiku, khumaira? sebagai seorang wanita tentu kamu tahu bagaimana, tolong berikan aku jawaban agar membuat hatiku tenang."
Huh, "Mas, jangan khawatir sejauh apapun jarak, dan bagaimanapun kondisinya jika kalian memang berjodoh maka kalian tetap akan bersatu. Mungkin sekarang, kekasih mas latif sedang fokus pada pendidikannya."
“Tapi apakah perlu tidak berkomunikasi seperti ini khumaira? kami sudah menjalani hubungan cukup jauh, apa hanya karena restu dari papa dan mama membuatnya seperti itu? ckk, padahal kami berdua sudah berjanji akan tetap ada dan bertahan sampai restu itu kami dapatkan."
“Bersabarlah mas, mungkin dengan jarak ini akan ada hadiah indah yang kalian dapatkan. Semoga saja, ada kemudahan untuk menghalalkan hubungan kalian."
Sejak saat itu, mas latif sering bercerita banyak hal padaku. yang awalnya hanya masalah mbak Sasa, kini malah merembet pada masalah pekerjaan atau masalah keluarga.
Aku pun tak sungkan bila mas latif meminta tolong padaku, aku sering membantunya untuk mencatat jadwalnya, ikut saat iya bersidang. aku sudah seperti sekertaris pribadinya.
Tuan dan nyonya pun kala itu tidak melarangku untuk membantu mas latif, bahkan mereka terang-terangan membebaskan pekerjaan rumah agar aku lebih fokus membantu mas latif.
Lambat laun, perasaan muncul seiring waktu. aku yang hanya seorang pembantu merasa sadar diri, jika tak pantas bersanding dengannya. terlebih, masa lalu mas latif begitu sempurna. Seorang wanita bergelar yang juga berasal dari keluarga berada.
Saat itu aku berusaha menutupi perasaanku, berusaha biasa saja seperti rekan pada umumnya.
Namun cinta bersambut, mas latif mengutarakan perasannya padaku. entah benar atau tidak waktu itu, aku dengan cepat dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan.
Hanya dalam waktu dua minggu saja setelah iya mengutarakan isi hatinya kami menikah, menikah dengan pesta sederhana yang hanya di hadiri oleh keluarga.
Aku tidak meminta mahar yang besar, karena aku sadar jika aku tak pantas untuk semua itu. Aku hanya meminta emas 10 gram dan uang 15 juta, sebagai mahar dan juga perjanjian pra nikah di antara kami.
Aku meminta mas latif untuk berjanji tidak lagi memikirkan atau membahas masa lalunya, aku ingin rumah tangga kami terbebas dari semua itu.
Mas latif mengiyakan, dia pun tak masalah dengan itu. Sikapnya meyakinkan diriku bahwa mas latif tak lagi memiliki rasa pada mbak sasa.
ternyata aku keliru, perasaan itu masih ada. hanya aku saja yang tidak menyadarinya, mas latif terlalu sempurna menjadi seorang suami dan ayah. Dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai suami sesibuk apapun dirinya.
Dia selalu menyempatkan makan bersama, belanja mingguan bersama, sholat berjamaah, dan juga mengurus anak atau liburan sederhana dengan keluarga kecil kami.
Tapi sekarang berbeda, mas latif bisa berubah sekejap waktu hanya karena kedatangan masa lalunya. Dia tampak menjadi sosok yang berbeda, menjadi pahlawan untuk seorang wanita yang menghancurkannya.
Tuhan, aku sama sekali tak ingin rumah tangga ku usai karena masalah ini. terlalu lemah diri ini jika harus mengalah begitu saja, aku seorang istri aku adalah pemilik şah dari hati mas latif.
Untuk itu aku tidak akan pernah menyerah, kalaupun aku harus menyerah itu artinya aku sudah berada di titik perjuanganku.
Mbak Sasa, mungkin kamu adalah cinta pertamanya. orang yang dia cintai, tapi aku adalah masa depannya orang yang menghiburnya ketika kamu pergi meninggalkannya.
Suamiku adalah milikku, terlepas dari apapun itu, karena ikatan yang paling sakral itu adalah ikatan kami yang sudah ada di depan Tuhan, dan hanya dialah satu-satunya yang dapat memisahkan kami jika itu menjadi takdir sebenarnya.