Aku dan Saşa memutuskan untuk langsung pulang setelah kami selesai makan, aku mengantar Saşa pulang ke apartemennya. meskipun awalnya Saşa meminta untuk menginap di rumahku, tapi ah sekarang statusku sudah berbeda tidak lagi seperti dulu.
“Baiklah sayang, aku langsung pulang. nanti langsung kabari aku ya jika sudah sampai di rumah," Saşa melambaikan tangannya padaku, dan tanpa di duga dia malah mengecup pipi ku.
“emuacchhhhh, bye sayang! "
Aku meraba bekas kecupan itu, Tiba-tiba hati ini kembali bergetar karena teringat akan khumaira. aku langsung membuka handphoneku, dan ah betapa terkejutnya aku saat melihat pesan dari khumaira.
“Mas apakah pekerjaan mu begitu penting, sampai belum pulang selarut ini?"
“Mas, Saka mencarimu. apakah aku boleh menelpon mu sebentar, Saka tidak mau tidur sejak tadi."
“Mas sekarang sudah tengah malam, pulanglah dulu besok lanjutkan lagi pekerjaan mu."
“Mas kamu sudah dimana, aku menunggu mu."
Aku menyenderkan kepalaku ke sandaran mobil, aku menatap ke atas langit-langit mobil sambil menarik nafas ku dalam, khumaira apa yang akan kamu katakan jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aku kemudian mencoba menghubungi khumaira, tapi tak kunjung di angkat. saat aku melihat jam ternyata sudah jam 01.30 malam, ah sepertinya dia sudah tidur. tidak mungkin dia menungguku sampai selarut ini.
Atas segala pertimbangan yang ada, aku langsung pulang untuk beristirahat. tapi bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke kantor pribadi milikku.
Aku tidak mau mengganggu khumaira pasti dia kelelahan menjaga Saka, lagipula perjalanan pulang sangat jauh aku begitu kelelahan sekarang.
Hanya dalam waktu 15 menit aku berkendara akhirnya aku tiba di kantorku, aku lekas membuka gerbang dan memasukkan mobilku ke dalam garasi.
Aku kembali mengecek handphoneku, ternyata pesan dari khumaira tak lagi ada melainkan pesan dari Saşa.
“Sayang, besok aku akan datang ke kantor mu. kita akan makan siang bersama, setelah itu temani aku ke rumah sakit ya."
Aku tersenyum melihat pesan itu, pasti sekarang Saşa sedang tersenyum dan berguling-guling karena membayangkan hari esok.
“Iya sayang, besok aku akan menemanimu."
Setelah membalas pesan itu aku lekas membersihkan diri dan memakai pakaian santai, saat aku ingin tidur aku menatap ke arah meja kecil di samping ranjang.
Kamar ini di desain semirip mungkin dengan kamar yang ada di rumah, sehingga saat ini aku seperti dejavu mengingat khumaira yang biasa meletakkan air minum di meja itu.
"Huh, sudah jangan pikirkan apapun sekarang tidurlah karena khumaira juga sudah tidur. besok langsung pulang agar khumaira tidak curiga."
Aku merebahkan diri ku dan tidur, memasuki mimpi indah di malam ini.
**********************************************
“Saka nak, makanlah dulu mama harus melihat papa sayang!"
Baru saja aku tiba di rumah aku sudah mendengar suara lembut khumaira yang memanggil Saka, tapi yang begitu membuat ku merasa bersalah adalah karena khumaira begitu memikirkan ku.
Ceklek!
Aku membuka pintu dengan pelan, ternyata khumaira tak menyadari kedatangan ku karena sibuk dengan Saka yang sedang aktif-aktifnya.
“Papa papa paaaa!"
Saka memanggilku dengan suara gemas dan cadelnya, sembari mengarahkan tangannya seperti melambai ke arah ku.
Khumaira berbalik dan mendapati diriku yang berdiri di depan pintu, dari wajahnya dapatku lihat sangat kelelahan.
Aku lekas berjalan cepat ke arahnya, dan langsung merangkul tubuhnya.
“Sayang, kamu baik-baik saja?"
Aku begitu khawatir melihat wajahnya yang pucat, aku memegang keningnya dan ternyata sangat panas. khumairaku demam.
Aku langsung mengambil piring yang ada di tangannya, kemudian aku menggendongnya masuk ke dalam kamar.
Aku merebahkan tubuh khumaira di atas ranjang, “Sayang kenapa tidak menghubungiku jika kamu sakit," ujarku padanya.
“Bahkan mas tidak membalas pesanku semalam, sepertinya pekerjaan mu begitu banyak sampai tidak sempat melihat handphone."
Khumaira menatapku dengan tatapan sendu, membuatku merasa bersalah.
"Maaf aku terlalu sibuk semalam," ujarku lembut berusaha untuk membuatnya tidak curiga padaku.
khumaira mengangguk, “Tidak masalah, tapi jaga kesehatanmu. banyak orang membutuhkan mu mas, jadi jangan lupakan istirahatmu."
Oh Tuhan, lihatlah betapa lembutnya hati wanita ini, dia tak menuntut haknya sebagai istri yang harus di perhatikan setiap hari. justru dia mengingat orang-orang yang membutuhkan diri ini.
Aku melepaskan kerudung khumaira, agar bisa merenggangkan sakit di Kepalanya. setelah itu aku mengelus kepala khumaira, menyisir rambutnya dengan jari ku dan Sesekali mengecupnya.
Saat seperti ini, aku kembali merasakan dejavu akan Saşa. dulu aku sering mengelus kepalanya, menyisir rambutnya dengan jari ku, dan juga mengecup keningnya. şering kali Saşa akan bermanja pdaku, bahkan juga merengek jika menginginkan sesuatu.
"Mas, mas, mas!"
“Eh iya sayang," aku terkesikap saat khumaira menepuk pahaku.
“Mas melamun? ada apa mas, apa ada sesuatu? jika memang ada sesuatu ceritakan padaku mas," pintanya dengan nada begutu lembut.
“Tidak ada sayang, sudah sekarang kamu istirahat lah jangan pikirkan apapun," jawabku sambil tersenyum dan mengelus kembali keningnya.
kening khumaira mengkerut mungkin iya kurang percaya padaku, sepeka itu hatinya.
“Mas kamu... .. "
“Sayang, sekarang katakan pada mas kenapa kamu bisa sakit, lihatlah wajahmu pucat sekali. apa Saka membuat kamu susah?"
Khumaira menarik nafas dalam, maaf sayang aku harus berbohong. Mas belum siap jika harus melihatmu bersedih.
“Aku menunggu mas pulang, aku takut mas tiba-tiba pulang dan aku tidak membuka pintu. aku menunggu semalaman di depan pintu, sambil menggendong Saka."
"Menggendong Saka?" ulang ku.
Khumaira Menganganguk, “Yah, karena Saka semalaman tidak mau tidur, jadi aku harus menidurkannya."
Oh ya Tuhan, tak terbayang olehku bagaimana lelahnya istriku bahkan dia masih menungguku, sedangkan aku bahkan berfikir bahwa ia sudah tidur.
“Apa kamu marah pada mas?"
Khumaira menggeleng, kemudian ia meraih tanganku yang ada di keningnya dan mengelusnya.
"Bagaimana aku marah pada suamiku yang sholeh, baik dan juga tampan ini. dia menolong banyak orang, mencari pahala dan juga memuliakan istri dan anaknya."
Terlihat pancaran wajah khumaira begitu bersemangat mengatakan itu, padahal apa yang dia katakan itu terlalu berlebihan.
“Mas jangan khawatirkan aku, tetaplah bantu orang-orang aku bangga padamu. tapi ku mohon jangan lupakan ibadah dan juga waktu istirahatmu."
Aku mencium tangan khumaira yang dingin itu, bahkan disaat seperti ini pun ia masih sopan pada suaminya ini.
Drt drt!
Khumaira dan aku saling pandang dan tatapan kami melirik ke arah handphone ku yang bergetar.
Ah tidak bisakah tidak ada yang mengganggu kami disaat seperti ini?