Tidak di akui

1034 Words
"Ah aku benar-benar mencintaimu, tidak sia-sia aku tetap sendiri di perantauan. Terimakasih sayang karena kamu masih menjaga hatimu untukku, dari wanita lain." uhuk uhuk! Aku tersedak dengan air ludahku sendiri, ah benar-benar sulit sekali. Sasa bahkan sekarang memelukku dengan erat, menceritakan semua kegiatannya selama di luar negeri. “Kenapa kamu meninggalkanku, apa kamu tidak mencintaiku?" Aku spontan bertanya begitu saja, karena bagaimanapun Saşa sudah meninggalkan ku cukup lama. Dan itu harus memiliki alasan yang logis. Sasa melepaskan pelukannya di lengan ku, seketika dia menunduk. “Maaf" Hanya itu yang keluar dari bibir tipis itu, “Maaf soal apa Saşa? jelaskan padaku, ini sedikit tidak adil bagiku." “Aku meninggalkan mu karena tidak ada restu di antara kita." Aku benar-benar tidak percaya dengan jawabannya itu, hanya karena restu? bukankah kami sudah saling berjanji akan saling mencari solusi dan berjuang untuk hal itu? “Lalu kenapa kamu menghilang, memblokir semua sosial media dan juga tanpa kabar selama 5 tahun?" “Aku fokus untuk pendidikan dan pemulihan kesehatanku." Saşa membuang pandangan ke arah jendela mobil, aku tahu di sedang menangis sekarang. “Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari ku?" tanyaku dengan lembut. “Aku menderita kanker, papa dan mama memintaku untuk berobat di luar negeri sambil meneruskan studiku. aku mengira aku tidak akan sembuh, bahkan harapan untuk hidup pun aku sudah tidak memilikinya." Aku begitu syok mendengar Jawaban itu, kanker? benarkah, lalu sejak kapan wanita yang ku cintai ini mengidap penyakit itu. Aku menghentikan mobil, rasanya tak sanggup jika dalam keadaan seperti ini aku mengemudi pasti akan membahayakan. “Sejak kapan?" tanyaku sambil menyenderkan kepala ku pada bangku kemudi. “Sejak dua tahun lalu, waktu itu aku sudah berfikir akan menemuimu untuk menyelesaikan semua persoalan di antara kita. Tapi takdir berkata lain, aku mengidap penyakit itu, membuatku urung kembali ke negeri ini. Tapi setelah perjuangan 5 tahun akhirnya aku bisa sembuh meski dengan perjuangan yang cukup berat." Aku turut bersedih atas apa yang di alami oleh Saşa, terlebih sebagai seorang kekasih aku tak ada di sampingnya saat dia berjuang dengan penyakit itu. bahkan aku tak ada untuk sekedar memberikan semangat, dan jahatnya aku malah menikah dengan wanita lain sekarang. Aku memiringkan tubuhku menatap ke arah Saşa, “Apa kamu kembali ingin mengakhiri hubungan kita?" tanyaku dengan suara sedikit tertahan. Sasa menggeleng, “Tidak, aku tidak bisa meninggalkan mu, aku sudah tidak memiliki siapapun selain dirimu. Papa dan mama sudah tiada," Sasa meraih kedua tangan ku, “AKu mohon, jangan tinggalkan aku hanya kamu satu-satunya harapan ku untuk hidup." Mata Sasa tampak berkaca-kaca, dan terlihat harapan besar yang tergambar disana. membuatku mau tak mau hanya mengiyakan karena tak tega bila melihatnya bersedih. Aku memeluk Saşa dengan erat untuk bisa membuatnya menumpahkan rasa sedihnya padaku. pelukan dan perasaan yang sudah tidak ada selama 5 tahun. Sasa menangis tergugu, membuatku semakin erat memeluknya. Tring, tring! Aku dan Saşa sama sama terkejut mendengar suara notif pesan itu, Saşa meregangkan pelukannya dan melirik ke arah handphoneku. Aku dengan cepat langsung meraih handphoneku, takut bila itu pesan dari khumaira. “Dari siapa mas? kenapa harus di tutup seperti itu,?" protes Saşa karena melihatku langsung memasukkan handphone begitu saja ke dalam saku, tanpa melihat siapa yang mengirim pesan itu serta apa isinya. “Ah tidak ada, mungkin hanya klien saja sudah ya tidak perlu di bahas kita langsung pergi ke restoran saja." Sasa tersenyum sambil mengangguk, “Iya sayang,"ujarnya. Aku menghembuskan nafas kasar dan kembali menghidupkan mesin mobil. pikiranku mulai tak tenang soal pesan tadi, ah semoga saja itu bukan khumaira. “Maafkan mas sayang," ucapku dalam hati." Aku mengajak Sasa makan malam berdua, kami keluar dari dalam mobil dan bergandengan masuk ke dalam restoran. Kami makan di restoran penuh kenangan yang dulu menjadi tempat favorit kami saat berpacaran. “Tuan latif, apa kabar!" Aku dan Saşa menghentikan langkah saat ada seorang teman yang menyapa kami, dia adalah wiliam pria yang bekerja di pengadilan. Aku langsung melepaskan genggaman tangan Saşa, membuat wanita itu sedikit terheran-heran karena prilakuku. “Apa kabar tuan Latif, sedang bersama klien ternyata." Aku langsung menjabat uluran tangan tuan wiliam, “Saya baik tuan wiliam, bagaimana dengan anda?" “Ah saya sangat baik tuan, saya tadi sudah melihat anda dari saat keluar dari mobil tapi karena bersama mbak ini saya mengira salah orang." Saşa melirik ke arahku, tapi tidak Aku perdulikan. “Ah iya tuan, tuan hanya sendiri atau bersama siapa?" “Saya bersama istri dan juga anak saya tuan latif," Tuan wiliam melirik ke arah restoran dan melambai ke salah satu arah, membuatku melirik ke arah sana. Ternyata ada istri dan juga putranya disana, melihat itu aku jadi kembali teringat khumaira. “Kalau begitu saya permisi tuan, anak dan istri sudah menunggu lain kali kita akan berbincang santai dengan istri dan juga anak." Deg! Tuan wiliam pergi begitu saja setelah mengatakan itu, kenapa momen ini seperti aneh bagiku. seakan semua hal yang terjadi akan mengingatkan ku pada khumaira, ah ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Saşa menatapku dengan tatapan penuh tanya, kemudian ia menarikku masuk ke dalam restoran. kami duduk di salah satu meja yang berada di dekat pojokan. “Mas jelaskan padaku, apa maksud tuan tadi, anak dan istri? apa kamu sudah menikah mas?" Aku terdiam sambil menghindari kontak mata dengan Saşa, aku memegang kedua lututku yang mulai gemetar karena pertanyaan itu. Ah latif, jujurlah ayo jujur agar semua ini tidak memberatkanmu. “Mas jawab aku!" “Tidak Saşa, aku belum menikah aku hanya mencintaimu." Jawabanku itu lolos begitu saja, membuat Saşa tersenyum senang. Tak lama berselang seorang pelayan datang menghampiri, iya memberikan buku menu pada Saşa. “Sayang kamu mau pesan apa?" ujar sasa sambil melihat buku menu itu. “Apa saja, yang penting bukan makanan terlalu pedas." Saşa mengangguk, sedetik kemudian ia melirik ke arahku dengan wajah heran. “Kamu serius mas? bukannya kamu pecinta pedas?" Ah lagi-lagi semua terlihat begitu aneh, aku memang sudah tidak makan makanan terlalu pedas. Karena khumaira sudah tidak mengijinkan sejak tahu aku terkena asam lambung. “Eumm sudah tidak," Aku meraih buku menu yang lain, “Aku takut sakit jika makan terlalu pedas." Sasa menopang dagunya dan menatapku dengan wajah cantiknya, “Ternyata semenjak aku meninggal mas sendiri, banyak perubahan yang terjadi ya?" Iya Sasa karena perubahan itu terjadi karena khumaira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD