Menjemput Sasa

1000 Words
Tring! engghhh Tring! Tring! Dengan mata yang masih sedikit terpejam, aku meraba meja kecil di sampingku. ah, urusan pekerjaan memang tidak ada habisnya, selalu mengganggu bahkan di saat jam istirahat sekalipun. Biasanya jika ada yang seperti ini, khumaira yang selalu membaca, bahkan menuliskan setiap jadwalku di buku. Aku bangun dari posisi tidurku, sambil bersender ke sisi ranjang. aku membuka handphone, dan membaca pesan yang baru saja masuk. “Sayang tolong jemput aku, sekarang aku sudah tiba di bandara." Deg! Mendadak jantungku bertalu-talu membaca pesan singkat itu, pesan yang di ikuti pesan lainnya. “Aku menunggu mu sayang, İ Love You!"❤ Ceklek Mataku langsung teralih pada pintu yang terbuka, ternyata ada khumairaku disana. Ia tersenyum manis sambil membawa air hangat di atas nampan. “Mas nyenyak sekali, tadi ada telpon masuk," ucapnya. “Telpon masuk?" tanyaku memastikan sambil menatapnya berjalan ke arahku. “Yah," Khumaira meletakkan air itu di atas meja, “Aku tidak berani mengangkat nya mas, takut itu sesuatu yang penting dan privasi kamu." Aku langsung mengecek dari siapa kah telpon masuk itu, saat aku melihat riwayat panggilan ternyata itu dari Sasa. ya Tuhan, apakah khumaira melihatnya? “Sayang, kamu melihat handphone ini?" tanyaku lembut. Khumaira kembali tersenyum dengan senyuman manisnya, bahkan tidak terpancar dari matanya kesedihan apapun atau kemarahan yang mungkin sedang iya tahan. “Tidak mas, tenanglah." Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya untuk saat ini khumaira belum mengetahui soal Sasa. entah kapan aku bisa jujur padanya. tring! Mataku kembali menatap ke arah handphone, ternyata pesan dari Sasa kembali masuk, “Sayang, kamu sudah dimana? aku lelah menunggu mu disini." Aku melirik ke arah khumaira, “Sayang bolehkah mas keluar sebentar? ada urusan mendadak yang harus mas selesaikan segera." “Iya mas, pergilah. Jangan terlalu larut ya, pastikan langsung selesai pekerjaannya." Aku mengangguk dan lekas bangkit dari atas ranjang, aku meninggalkan khumaira disana. sambil terus mengamankan handphoneku bahkan aku membawanya ke dalam kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, aku merasa bersalah terhadap khumaira. kenapa aku tidak bisa jujur padanya? kenapa aku harus kembali meladeni Sasa. Tapi di sisi lain, ketika aku mendapatkan kabar soal Sasa hati ini kembali seperti seorang pria yang baru di mabuk cinta. aku bahagia, tapi aku juga cemas. Aku segera menyelesaikan ritual mandi ku, padahal ini sudah jam 10 malam. Harusnya khumaira tak lagi memberiku izin untuk keluar, tapi entahlah hari ini dia begitu mudah memberiku izin. Aku hanya memakai pakaian santai, setelahnya aku keluar dari kamar mencari khumaira untuk berpamitan. Rumah ini begitu sepi jika malam begini, khumaira tak mau bila ada pembantu disini. dia mengatakan bisa mengurusnya sendiri, bahkan selama hampir 4 tahun dia tidak pernah mengeluh akan kelelahan mengurus suami, anak dan juga rumah. Benar-benar wanita luar biasa. Aku mengecek semua ruangan yang biasa khumaira datangi, ah tapi tidak ada kemana istriku itu. Akhirnya karena tidak mau terlalu lama membuat Sasa menunggu, tanpa berpamitan lebih dulu aku langsung pergi begitu saja. Saat aku mengeluarkan mobil dari dalam garasi, tak sengaja mata ini melirik ke arah rumah tepatnya ke lantai atas. “Khumaira," gumamku saat melihat wanita cantik itu menatapku, dan entah benar atau tidak khumaira seperti menyeka sudut matanya. Apa khumaira menangis? apa dia tahu aku akan menjemput Sasa? tapi ah tidak aku harus berbicara dengannya. Aku yang hendak keluar dari dalam mobil untuk melihat keadaan khumaira, kembali urung. karena handphoneku kembali terdengar berbunyi, bukan lagi pesan tapi telpon. Karena tak ingin khumaira mendengar meskipun dia ada di lantai atas, aku segera kembali masuk ke dalam mobil dan mengangkat telpon. “Sayang kenapa kamu lama, apa kamu tidak merindukan ku? sudah 5 tahun kita tidak bertemu, kamu sedang tidak bersidang kan malam ini bapak pengacara yang terhormat?" Aku tersenyum mendengar celotehan Sasa, tidak ada yang berubah darinya masih dengan gaya manja dan centilnya. “Aku sedang berada di jalan, tunggulah sebentar lagi. Jangan kemanapun aku akan segera tiba disana." "Baik sayang, setelah itu aku ingin kita pergi makan. perutku lapar!" "Ah jadi Sasa ku ini masih sering melupakan makan nya? baiklah setelah ini kita akan pergi makan bersama ya?" "iya sayang I love you!" tut Aku langsung mematikan panggilan telpon itu, entah kenapa mendengar Sasa mengatakan I love you, perasaan ini mendadak berubah. seketika bayangan khumaira yang juga kerap mengatakan I love you kembali teringat di benak ku. Aku perlahan mencoba menepis perasaan ku untuk khumaira, aku harus fokus menjemput Sasa. Hanya berselang 30 menit dari rumah, akhirnya aku tiba di bandara. Aku lekas keluar dari mobil dan mencari keberadaan Sasa. "Sayang!" Teriakan keras itu membuat ku berbalik arah, Terlihat dari kejauhan Sasa berlari dengan kencang menuju ke arahku. Dan aku dengan sigap merentangkan tanganku untuk menyambutnya. Hap! Sasa memelukku dengan erat begitu juga denganku, perasaan rindu yang sudah lama tertanam akhirnya bisa terbayar kan dengan kepulangannya sekarang. Sasa meregangkan pelukan nya, “Aku rindu," ucapnya sambil mendongakkan wajahnya menatapku. Aku kembali memeluk nya dan juga mencium pucuk kepala wanita itu, "Aku juga merindukanmu." Sasa tersenyum senang mendengar itu, kemudian ia mengapit tanganku dan kami keluar bersama-sama dari sana menuju ke parkiran mobil. Sasa tak henti-hentinya mengatakan bahwa dia merindukanku, tampak wajahnya yang merona membuatku kembali terkagum-kagum pada wanita itu. “Sasa kamu ingin makan dimana?" tanyaku karena khawatir jika iya benar-benar belum makan apapun. "Kamu? kok kamu, hanya 5 tahun kita pisah tapi aku udah di panggil kamu? huh dasar benar-benar pria yang tidak setia," Sasa cemberut karena panggilan itu. “Jadi aku harus memanggil apa?" "Sayang, honey, tuan putri, Seperti dulu. apa mas lupa? huh padahal aku selalu mengingatnya." Aku mengacak-acak rambut panjang nya itu dengan gemas, “Kita bukan lagi anak remaja Sasa." "Tapi aku tetap ingin di panggil itu," protesnya. “Bagaimana jika panggilan nama saja?" tawarku. "Tidak, mas sudah tidak menyayangiku. Atau, sudah ada penggantiku?" tudingnya. Mendadak lidahku kelu untuk menjawab, apa aku harus jujur padanya jika aku sudah menikah? tapi jika dia kecewa bagaimana? "Mas jawab aku," desaknya sambil menarik-narik tubuhku, membuat ku sulit untuk mengemudi. "Tidak ada, tidak ada selain dirimu sayang." ********************************************** “Mas kenapa kamu belum pulang, saka mencari mu mas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD