Lea dan patah hati jinny

1174 Words
Lea baru saja selesai mandi, wajahnya kini segar dengan dendangan kecil di bibirnya. Ceklek Pintu dorm terbuka, disana ada Jinny yang masuk dengan gontai. Lea pun berniat menyapanya. "Mandilah, kau terlihat seperti zombie jinny-ah" kata Lea sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. "Ne" balas Jinny singkat membuat Lea menatapnya. Lea pun menghampiri Jinny setelah mencabut kabel hair dryer nya. "Kau kenapa eoh, apa ada masalah denganmu" kata Lea bertanya dengan lembut. "Ani, aku tak apa eonni. Aku hanya lelah." Ujar Jinny tapi Lea tak percaya begitu saja. Dia dapat melihat mata Jinny yang memerah seperti habis menangis. "Kau jujurlah padaku, anggaplah aku teman untuk semua curahan hatimu. Mungkin aku bisa memberi mu saran" kata Lea duduk di samping Jinny. Jinny menghela nafasnya lalu menghembuskan nya Perlahan. "Huhfft, eonni.." ucap Jinny lemas. "Ne.." Jinny menatap Lea lalu kembali menunduk. "Apa jatuh cinta itu rasanya sakit seperti ini?" Ucap Jinny dan belum sempat Lea menjawab Jinny kembali berbicara mengeluarkan segala yang ia rasa. Lea diam mendengarkan Jinny sambil tangannya yang mengelus punggung gadis itu. "Kenapa? Apa di dunia ini tak ada yang benar sungguh-sungguh. Apa semua ini hanya lelucon.." "Apa dia tak merasakan sama sekali apa yang ku rasakan eonni hiks.. aku tak tau, kenapa dia marah padaku hiks.. tapi.. hiks.. setidaknya jika ada masalah kita bisa bicara secara baik-baik kan eonni.. hiks.." ujar Jinny yang kini menangis tersedu. "Kenapa dia jahat eonni hiks.. aku ingin.. hiks.. aku ingin melupakannya hiks.." "Bantu aku eonii" ucap Jinny. Lea menarik Jinny ke dekapannya, dia tau perasaan Jinny saat ini. Dia mengangguk lalu mengusap kepala Jinny dengan sayang. "Eonni akan membantumu, karena sudah seharusnya kamu melupakan pria seperti dia.. dia tak pantas untukmu" kata Lea. "Gomawo eonni" ujar Jinny dengan parau. "Tak usah berterima kasih, kau sudah seperti adikku.. semua member secret number sudah ku anggap sebagai saudara" ujar Lea Jinny hanya diam memeluk tubuh Lea. Lea mencoba memberikan motivasi dan ketenangan untuk Jinny. **** Dita saat ingin sedang berada di sebuah kafe dengan gadis cantik di hadapannya. Dia adalah soodam. "Bagaimana hubungan mu dengan lucas-ssi" tanya Dita lalu menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. "Baik, aku senang.. sangat senang karena bisa bertemu dengannya eonni. Dia tampan, baik dan penyayang.. aku sangat mencintainya" kata soodam dengan raut bahagianya membuat Dita tersenyum mendengarnya. "Baguslah, aku doakan semoga hubungan kalian langgeng" kata Dita. "Ne, gomawo eonni ku yang cantik.." kata soodam membuat Dita terkekeh. "Soodam" panggil Dita membuat gadis yang di panggil tadi menatapnya dengan pipi yang mengembung. "Hmm ne.." "Aku ingin cerita.. tapi eonni malu" ujar Dita. "Ceritalah eonni, aku akan mendengarkan" kata soodam. "Menurutmu, jika kita terlalu berharap lebih pada seseorang.. apa itu wajar?" Kata Dita sambil mengaduk-aduk makanannya. "Eonni, memangnya apa yang salah.. kita berhak berharap dan bermimpi, tapi kita juga harus bisa mengontrol diri kita" ucap soodam dan Dita hanya mengangguk. "Memang kadang jika kita terlalu berharap dan ketika harapan itu tak sesuai ekspektasi, itu akan sangat menyakitkan.." kata soodam lagi. "Memangnya eonni kenapa?" Tanya soodam. "Hah.. Ani, aku tak apa.. hanya saja ingin menanyakan hal seperti itu hehe" kata Dita dan soodam hanya ber oh ria. Apa, aku harus berhenti mengharapkan nya.. batin Dita. Mereka pun kembali melanjutkan makan dengan diam. Tak ada percakapan lagi hanya ada suara dentingan sendok yang bertemu dengan piring. Sedangkan di sisi lain, kini ada seorang pria yang sedang kebingungan di tempatnya. Dia menengok kesana kemari mencari sesuatu. "Yak Hyung, kau sedang apa eoh.. kenapa kita terus berdiri disini" ucap jungkook. Ya dia adalah Jungkook dan jin. Jin berjanji pada Jungkook untuk mentraktir nya makan di sebuah restoran hari ini. "Sebenar jungkook-ya, aku sedang memilih tempat makan yang enak" kata jin. "Memangnya kau tau?" Kata Jungkook dan jin menggeleng membuat Jungkook mendengus kesal. "Hyung sudah belum" kata Jungkook yang mulai kesal. Jin mendiamkan Jungkook dengan mata yang masih berkeliling mencari tempat yang cocok hingga aksanya melihat sesuatu yang begitu familiar. "Wahhh" gumamnya. "Hah, apa Hyung" kata Jungkook. "Ani, ayo ikuti aku" kata jin yang berjalan terlebih dahulu lalu Jungkook membuntutinya dengan malas. "Aishh, kenapa aku memintanya untuk mentraktir ku sih" gerutu pria ber marga jeon itu. Mereka pun masuk kedalam sebuah kafe dimana jin menangkap sesuatu yang menariknya untuk masuk ke dalam. "Ini yang Hyung cari, tteboki" kata jin membuat Jungkook mendengus kesal. "Dari tadi kita juga sudah banyak lewatin kedai tteboki kali Hyung" ucap jungkook malas. "Ini beda rasanya, jadi kita harus coba" ujar jin lalu memesan dua porsi tteboki dan minuman. Mereka lalu duduk di salah satu meja kafe menunggu pesanannya. Dan tentunya dengan penyamaran. Beberapa menit kemudian pesanan datang dengan dibungkus karena jin yang memintanya begitu. Lalu pria ber marga Kim itu memberikan beberapa lembar kertas pada si pelayan. "Ayo Hyung, cepatlah aku sudah lapar" kata Jungkook bagai bayi yang belum di susui oleh ibunya. "Ya tuan jeon, hati-hati lah.. kau hampir jatuh tadi" ucap jin yang menarik Jungkook yang hampir terjatuh. Sedangkan sang empu hanya cengengesan. "Tadi kita memarkirkan mobil dimana ya" ucap jin sembari mencari mobilnya yang terparkir dimana. "Tuh disana Hyung" tunjuk Jungkook. Lalu mereka berdua pun pergi menuju mobil. "Aku saja yang menyetir Hyung" pinta Jungkook dan langsung mengambil kunci mobil sebelum jin mengiyakan. "Aishh anak itu" gumam jin pelan lalu masuk ke dalam kursi penumpang di samping Jungkook. Tak lama kemudian mobil pun berjalan membelah jalanan Seoul yang ramai. Jin mengeluarkan handphone nya dan mengirim pesan pada seseorang. Jin Hai.. kau sedang apa? Jin tersenyum sendiri membaca pesannya untuk Dita. Dan tak lama setelah itu Dita pun membalas pesan masuk dari jin. Dita Aku sedang diluar oppa, ada apa? "Mwoo" mata jin membelalak dengan Jungkook yang menggelengkan kepalanya. Jin Kau memangnya sedang dimana? Dita Aku sedang di kafe*** "Jinnja, kenapa aku tadi tak kesana" ujar jin "Ada apa Hyung" "Tak apa" jawab jin tanpa menolehkan kepalanya pada Jungkook. Jungkook hanya bisa mendecak kesal. Jin Aku baru saja melewatinya ketika sedang mencari tteboki.. ah sepertinya kita belum jodoh hehe.. Dita Astaga, benarkah.. Jin Ne.. Dita Mungkin kita tak sedang beruntung oppa.. Jin Hmm benar, apa kau sudah makan? Dita terkekeh membaca pesan dari jin lalu membalasnya. Dita Oppa.. aku sedang di kafe, berarti aku sedang makan bukan sedang berolahraga bukan? Jin merutuki dirinya yang begitu bodoh hari ini. Jin Ah benar, aku lupa? Dita Oppa aku harus pergi, Babay.. Jin Ne.. Jin menyimpan handphone nya ke sakunya dengan senyum yang melekat di wajah tampan miliknya. Jungkook yang melihat Hyung nya itu bergidik ngeri lalu bertanya. "Yak Hyung apa kau gila?" Kata Jungkook dengan frontal. "Iya aku gila" kata jin asal dengan terkekeh. "Aishh benar-benar, ya tuhan salahku apa hingga mempunyai Hyung seperti dia" kata Jungkook membuat jin menjitak kepalanya pelan. Tak "Yak kau, dasar anak durhaka" kata jin membuat Jungkook terkekeh. "Ya lagian Hyung kenapa senyum-senyum sendiri.. sudah seperti-" perkataan Jungkook terpotong. "Kayak apa eoh?" Ucap jin. "Ani, tak jadi" kata Jungkook yang takut karena jin menatapnya horor. Jin terkekeh melihat wajah Jungkook seperti itu. "Wajahmu sudah seperti maling ketangkap basah tau tidak?" Kata jin yang menertawakan maknae nya. "Ya.. ya.. Hyung sangat menyebalkan" ujar Jungkook.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD