"Kalau kau masih memiliki rahasia lain, cepat katakan!" desis Normen sambil mengcengkeram kerahku.
Begitulah reaksi Normen setelah aku menceritakan kepadanya, bahwa aku telah memberi pesan dua arah kepada Lass, di malam hari saat kami berada di Hutan Utara.
Selagi Normen dan Yared tertidur, aku menyempatkan diri untuk menghubungi Lass dengan pesan Luorr, karena hujan turun sebentar di hutan itu.
Aku hanya bisa mengatakan kepada Lass bahwa kami ada di Laustrowana. Namun aku bisa melihat bahwa Lass dan Eol tampak sedang bersantai di malam hari. Yang artinya, perang sudah selesai.
"Aku titip satu pukulan ke wajahnya yang sok tampan itu," timpal Yared. "Elf ini jauh lebih buruk ketimbang prajurit tua dari Donater yang menyembunyikan fakta soal tombaknya."
Normen malah menatap Yared dengan tajam. "Kau menyindirku, anak muda?" sergahnya.
"Aku tidak memberi tahu kalian, karena aku memang tidak percaya kalian," akuku. "Dan sekarang, aku sudah mengubah sudut pandangku akan kalian berdua."
Kalimatku membuat Normen melepaskan tangannya yanh mencengkeram jubahku. Pria tua itu malah mengangguk sendiri, seolah sedang menimbang sesuatu.
"Apalagi?" gerutu Yared saat melihat Normen mulai mengerutkan keningnya.
"Mereka memang pasti menang," gumam pria tua itu. "Namun membunuh Tequr adalah perkara lain. Penyihir itu tidak bisa dikalahkan dengan mudah."
Sebelum kami memutuskan tidur di tanah lembab Hutan Utara, Normen juga mengatakan hal yang tidak jauh berbeda. Dia sangat percaya diri akan kemenangan pasukan Halingga, meskipun kami kalah dalam hal jumlah.
Apa alasan Normen seyakin ini dengan kemenangan pasukan kami? Padahal sebelum kami dilempar ke Laustrowana, pasukan Halingga dipaksa mundur hingga ke mulut jembatan besar yang menghubungkan Adijaya dan pulau Adon.
"Kau juga mengatakannya malam itu," balas Yared. Pemuda itu juga ingat dengan perkataan Normen. "Seingatku, kita sangat terpojok, dan kemungkinan menang sangat kecil. Mengapa kau mengatakan kalau kami pasti menang?"
Normen menatapku dan Yared yang sedang kebingungan secara bergantian. Lalu, pria tua itu mengangkat alisnya sambil tersenyum.
"Aku dan Gala berhasil mengumpulkan pasukan," tegasnya. "Seluruh pasukan Donater, bahkan Raja Hartash ikut bertempur. Ditambah para warga Votlior yang ganas, pimpinan Wasita."
"Dua pasukan itu sudah pasti akan mengunci kemenangan kita, kan?" imbuhnya bangga.
"Tapi seingatku, kau datang sendirian?" tanyaku masih dengan rasa penasaran bercampur bingung.
"Aku mendahului mereka untuk melihat keadaan," papar Normen. "Sedangkan Wasita, Gala, dan Raja Hartash sudah lebih dari cukup untuk memimpin ribuan pasukan aliansi Adon."
Raut wajah Normen menunjukkan bahwa dia sedang tidak bercanda. Inilah alasannya begitu yakin dengan kemenangan pihak kami, karena dia mengetahui fakta soal iring-iringan pasukan bantuan yang akan datang cepat atau lambat.
Di sisi lain, aku dan Yared hanya mengingat perang Adijaya sebagai pertempuran yang mustahil kami menangkan. Malahan, kami dibuang ke Laustrowana di saat kami benar-benar dibutuhkan di medan perang.
Kedatangan warga Votlior di bawah pimpinan Wasita, memang harus terjadi. Wanita itu sudah berjanji untuk datang bersama seluruh penjahat di desa itu, untuk membantu kami berperang, setelah seluruh pasukan di Adon sudah terkumpul.
Fakta yang mengejutkan adalah Raja Hartash dan pasukan Donater Selatan yang mau berjalan jauh hingga ke Adijaya untuk membantu kami. Padahal, ada hubungan yang rumit antara Ratu Sima dari Halingga, dan Raja Donater di masa lalu, yang akhirnya membuat hubungan dua kerajaan itu menjadi cukup dingin.
Seandainya aku ada di Adijaya, maka aku berani membayar berapa pun, untuk melihat interaksi antara dua pemimpin kerajaan besar di Adon itu.
"Kau masih belum boleh mengunci mulutmu." Normen menunjuk wajahku yang sedang merenung. "Aku juga masih memiliki pertanyaan soal caramu menghubungi Lass. Jelaskan pada kami, apa itu pesan Luorr?"
Rahasia lain yang terpaksa aku buka, karena aku tidak memiliki alasan untuk menyembunyikannya. Mereka berdua layak untuk diberi informasi soal hal penting ini.
"Kalian tahu Elas, yang menghadang kita di jembatan Simadhor?" balasku dengan pertanyaan mendadak.
Normen dan Yared mengangguk pelan, meskipun mereka tampak bingung dengan pertanyaanku yang jauh dari pembahasan soal pesan Luorr. Namun, aku memiliki alasan untuk menanyakan hal itu kepada mereka berdua.
"Bukankah Elas adalah penguasa air, atau apa pun itu?" tebak Yared. "Jika mengacu pada ritual di Tekoa, berarti Elas adalah bangsa Xenia."
"Minean," timpal Normen. "Ras yang diangkat oleh para Xenia, untuk menjadi penguasa bagi beberapa aspek yang lebih kecil. Kenapa kau membahas soal Elas?"
"Berapa banyak Minean yang kalian tahu?" tanyaku.
Yared mengangkat bahunya dengan wajah bangga. "Jangan tanyakan soal sejarah, atau makhluk yang berkuasa seperti itu padaku. Aku tidak peduli," katanya.
Aku langsung beralih kepada Normen. Prajurit tua itu mengangkat alisnya dengan santai. "Elas, Parkadouni, dan Kudite. Tiga Minean yang paling terkenal," jawabnya.
"Luorr adalah salah satu dari Minean," paparku. "Dia dipilih oleh Nyonya Vasyl, Xenia penguasa langit, untuk mengawasi salah satu aspek penting di langit. Hujan."
"Meskipun Luorr baru menjadi Minean sekitar dua hingga tiga ribu tahun, namun dia sudah membuat inovasi baru yang sangat memudahkan untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Namanya pesan Luorr."
"Pesan Luorr hanya bisa digunakan oleh pribadi yang sudah mendapat izin langsung dari Luorr, setelah melakukan berbagai syarat yang dia minta. Dan di pulau Adon, hanya ada empat orang yang bisa memakai pesan Luorr," imbuhku.
"Lalu, kenapa kau tidak memakai pesan itu untuk memberi kabar kepada orang lain? Kenapa hanya Lass?" tanya Yared.
"Hujan," sela Normen lirih. Dia menatapku sambil mengangguk pelan. "Karena Luorr menguasai hujan, maka hujan juga dibutuhkan untuk menggunakan pesannya. Begitulah cara Minean untuk menarik banyak orang menyembah mereka."
"Sedikit benar," kataku. "Pesan Luorr memang membutuhkan hujan, namun Luorr sendiri tidak mencari penyembah seperti kebanyakan Minean. Dia hanya mencari solusi, atas masalah di Ueter."
"Pesan Luorr adalah solusi yang dia berikan untuk mengabarkan hal penting, dengan jarak yang cukup jauh. Begitulah cara Luorr menjadi Minean yang disegani," imbuhku.
"Jadi, kita sudah mengetahui bahwa perang di Adijaya sudah selesai, lewat pesan Luorr yang diteruskan ke Lass," rangkum Yared sembari tersenyum kepadaku.
Pemuda itu lalu beralih kepada Normen. "Namun, kita masih belum bisa memastikan kematian Tequr. Penyihir itu terlalu kuat untuk bisa dikalahkan oleh pasukan Halingga," ujarnya.
"Menurutku, Tequr akan mundur dari Halingga untuk sementara," ucap Normen. "Tequr mungkin terlihat seperti pribadi yang sembrono dan tidak tahu aturan. Namun pria itu sebenarnya sangat cerdik dan licik."
Deskripsi Normen tentang Tequr membuatku cukup penasaran, akan cerita dibalik perkenalannya dengan Tequr. Aku sangat yakin kalau orang tua ini sempat bersama Tequr selama beberapa waktu sepertiku. Karena tidak mungkin seseorang mengenal karakter Tequr dengan baik, jika tidak menghabiskan banyak waktu bersama penyihir itu.
Dugaan bahwa Tequr mundur jauh setelah kalah perang, bukanlah dugaan kosong. Tequr memang sangat membenci kekalahan, namun dia lebih membenci dipermalukan setelah kalah. Karena itu, dia selalu memilih lari, sebelum dia dikalahkan.
Pertimbangannya akan pertempuran yang ada di depannya, memang jarang meleset. Dia tidak akan maju dalam pertempuran, jika dia tahu bahwa kemenangan akan dimiliki pihak musuhnya. Namun Tequr juga tidak memiliki kemampuan prediksi yang akurat. Kadang kala, saat tebakannya meleset, dia akan selalu lari sebelum dia kalah.
"Mungkin dia tidak hanya mundur dari Halingga," ucapku yang menbuat Normen dan Yared langsung mengarahkan pandangan mereka kepadaku.
"Nona Wasita pasti akan memimpin warga Votlior untuk menghancurkan Mazrog. Meskipun desa mengerikan itu mungkin hanya berisi sedikit Ogrotso."
"Eroa dan kota-kota di bawah kuasa Donater Selatan, terlampau kuat untuk ditaklukkan olehnya. Sedangkan Sonadhor juga memiliki pertahanan kuat, karena para Orc Barat yang masih bertahan untuk menolak menjadi sekutu Tequr."
"Tuan Daeron pasti sudah memerintahkan para elf untuk menjaga desa-desa kecil yang berada di sekitar Tekoa. Meskipun Tequr berhasil menguasai salah satu desa itu, tetap saja yang bisa dia hasilkan hanya Ogrotso kelas rendah."
"Praktis, hanya desa-desa kecil di Selatan Adon, yang bisa ditargetkan oleh Tequr. Itu pun, jika dia berniat membangun pasukan dari awal," sambungku.
Normen menggelengkan kepalanya cepat. "Desa di selatan Adon, ada dalam perlindungan Donuemont, setelah Rebeliand dihancurkan. Jadi, Tequr memang tidak memiliki tempat di seluruh Adon," sambung Normen.
"Kalau begitu, dia pasti akan keluar dari Adon?" tebak Yared. Pemuda itu tiba-tiba menggigit bibirnya, setelah dia sadar akan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di hadapannya.
"Tebakanmu benar," ujarku sambil menepuk pundak Yared. "Tequr mungkin sedang berada di Laustrowana. Semua kerajaan di pulau ini, tidak menyadari teror yang dibuat oleh Tequr di pulau Adon. Sebuah sasaran yang empuk, untuk penyihir dengan metode manipulatif seperti Tequr."
Normen tidak mengatakan apa pun, atau membantah dugaanku. Artinya dia setuju dengan kemungkinan Tequr berada di pulau yang sama dengan kami, dan sedang mengincar invasi seperti yang dia lakukan di pulau Adon.
Mungkin hanya kami bertiga yang bisa menghentikan Tequr, sebelum penyihir itu sanggup mengubah banyak orang di Laustrowana menjadi Ogrotsonya. Tequr tidak akan bisa berperang, jika tidak memiliki pasukan yang cukup.
Dengan gerakan pelan, Normen tiba-tiba menunjuk ke langit di atas kami. Aku dan Yared langsung mengarahkan pandangan kami ke arah yang ditunjuk oleh Normen.
Di atas kami, langit pagi Laustrowana yang cerah, telah ditutupi awan gelap dalam sekejap. Cahaya matahari yang beberapa saat lalu masih menyengat ke kulit kami, sekarang hanya bisa mengintip di sela-sela awan gelap.
"Sebentar lagi akan turun hujan," gumam Normen. Pria itu mengalihkan pandangannya kepadaku. "Bukankah kau harus memikirkan siapa yang harus kau hubungi dengan pesan Luorr?"
Pemikiran cepat dari Normen, membuatku tersadar akan sesuatu yang memang harus aku lakukan. Aku terlalu terbiasa berada di Adon yang jarang turun hujan, sehingga pesan Luorr bukanlah solusi yang bisa diharapkan selama aku hidup di Adon.
Keadaan di Laustrowana jauh berbeda. Di pulau ini, hujan hampir selalu turun setiap harinya. Pesan Luorr bisa menjadi salah satu solusi yang efektif, untuk menghubungi pihak kami yang berada di Adon sesering mungkin.
Seperti kata Normen, aku harus segera menetapkan target pesan Luorrku, sebelum hujan turun. Dan kali ini, aku harus memakai kebijakanku.
Beberapa pilihan ada di pikiranku. Aku bisa memberi kabar kepada Wasita, agar dia mengirim salah satu dari anggota kelompoknya untuk menyusul kami di Adon, sekaligus mengabarkan kemungkinan soal pelarian Tequr ke pulau ini.
Tuan Daeron atau Briaron juga pilihan yang tidak terlalu buruk. Mereka berdua pasti akan mengirim beberapa elf untuk menjaga kami di pulau ini. Lebih banyak orang dalam kelompok kami, akan semakin memudahkan untuk mencari Tequr.
Aku juga bisa menghubungi Lass atau Eol. Dengan kekuatan mereka yang berpindah lewat bayangan, perjalanan kami menyusuri Laustrowana untuk mencari Tequr akan jauh lebih mudah.
Di antara semua pilihan itu, aku harus menentukan sosok paling tepat yang bisa menerima pesanku. Penerima pesan kali ini, akan memegang peranan penting untuk perjalanan kami, karena hujan mungkin tidak turun di Laustrowana saat kami sedang mengharapkannya.
"Bagaimana dengan Ratu Sima?" usul Yared. "Bukankah dia bisa mengumpulkan para pemimpin yang lain, dengan kuasanya sebagai pemimpin Halingga?"
Yared adalah pribadi yang sangat sulit ditebak. Usulnya barusan, adalah bukti dari kepribadian anak ini. Saat aku memikirkan untuk menghubungi orang terdekat kami, dia malah berpikir untuk menghubungi orang yang bisa menyatukan seluruh Adon di bawah satu panji. Harus kuakui, usulnya adalah sesuatu yang brilian.
Sekarang yang kami perlu lakukan, hanya menunggu hujan. Selagi kami terus berjalan ke arah kota besar bernama Rowyn, dengan pimpinan Normen, sebagai kota untuk tempat kami menginap.
"Eleandil!" seru seseorang dari belakang kami.
Kami bertiga langsung menoleh ke sumber suara, dan yang ada di hadapan kami adalah wajah elf bernama Eol, yang mengapung di atas tanah hijau Laustrowana.
Baru beberapa detik yang lalu kami menunggu hujan untuk bersiap menggunakan pesan Luorr. Dan sekarang, Eol sudah memberi kabar kepada kami menggunakan pesan Luorr.
"Dengarkan pesanku baik-baik!" perintah elf itu dengan tegas. "Aku, Lass, dan Ryan akan ke Laustrowana beberapa hari lagi, jadi tunggu kami di sana, karena Tequr tidak ada di pulau Adon."
"Aku juga sudah memberi tahu klanmu bahwa kau baik-baik saja di Laustrowana. Tuan Daeron bahkan menitipkan pesan kepadamu lewat aku."
"Pesannya adalah cari Tequr dengan sekuat tenaga di setiap jengkal Laustrowana, karena yang bisa membunuh Tequr hanya kalian bertiga," imbuh Eol sebelum wajahnya menghilang menjadi air.
Yared menunjuk udara kosong yang tadinya terdapat wajah Eol. "Itu adalah pesan Luorr?" tanyanya sambil melirik tajam kepadaku.