Bab 11 - Padang Rumput Tak Berujung

2020 Words
"Kau mengerti maksud Tuan Daeron?" tanya Yared padaku. Aku mengangguk. "Dia memberiku perintah untuk membunuh Tequr," jawabku. "Menurut Tuan Daeron, hanya kita bertiga yang sanggup membunuh penyihir itu." "Itu maksudku," timpal Yared sambil menarik tanganku untuk menghentikan langkahku. "Mengapa pemimpin klan Daeron malah memerintahkan aku dan Normen yang bukan berasal dari klannya?" Karena pertanyaan Yared memang benar, maka aku hanya bisa terdiam. Misi dari Tuan Daeron yang diucapkan Eol memang sedikit aneh, karena Tuan Daeron tidak pernah memberi misi kepada orang di luar klannya. Bukan berarti aku tidak percaya dengan Eol. Namun Tuan Daeron pasti memiliki alasan di balik misi yang dia berikan pada kami, dan alasan itu yang harus aku cari. "Daeron mungkin menganggap kita sebagai bagian dari Tekoa," ucap Normen. "Bukankah kita pernah menghabiskan beberapa hari bersama klan Daeron?" Pertanyaan balik dari Normen membuat Yared langsung memelototi pria tua itu, sambil memiringkan kepalanya. Setahuku, Yared memang seorang anak dengan jiwa bebas, sehingga dia paling tidak suka dengan misi. Namun aku yakin, bahwa jiwa bebasnya tidak akan membuat anak itu malah menolak misi dari Tuan Daeron. Dia hanya kesal kepada pemimpin klanku, karena berani memberinya perintah. Karena tanpa perintah dari siapa pun, Yared tetap akan mencari Tequr bersama kami. Karena Yared tidak bisa membalas pertanyaan Normen, maka anak itu hanya merengut dan meneruskan langkahnya yang terhenti. "Kita harus sampai di Rowyn malam ini, seluruh tubuhku sudah tidak kuat jika harus tidur di tanah!" seru Yared yang sudah beberapa langkah di depanku. Normen mengedipkan sebelah matanya padaku, setelah dia berhasil menghentikan rasa penasaran yang dimiliki oleh Yared. Setelah itu, dia berlari kecil untuk mengejar Yared. Pria tua itu tahu tugasnya untuk memimpin perjalanan kami ke Rowyn. Dengan Normen dan Yared berada cukup jauh di depanku, maka perjalanan kami ke Rowyn akan lebih sunyi dan tenang. Aku sudah cukup bosan dengan ocehan mereka. Setiap langkah yang aku ambil dengan harapan lebih dekat ke Rowyn, adalah pemikiran yang aku tanamkan di otakku. Karena jika aku tidak memikirkan sesuatu yang baik, maka aku pasti sudah mati kelelahan di padang rumput ini. Aku merindukan Hunjar yang bisa membawaku melintasi padang rumput ini dalam sekejap. Aku juga sangat yakin kalau Normen Harv sangat merindukan serigala hitamnya, setelah merasakan berjalan kaki melintasi pulau yang tidak kami kenal ini. Meskipun aku sudah sering menyusuri Hutan Hitam dengan berjalan kaki, bukan berarti aku suka untuk bepergian dengan menggunakan kedua kakiku. Menunggangi seekor kuda, terutama Hunjar, adalah metode terbaik untuk melakukan perjalan jauh. Ada hal lain yang lebih menyebalkan ketimbang berjalan kaki. Hal itu adalah padang rumput di sekeliling kami yang seolah tanpa ujung. Menyusuri padang rumput, sama saja dengan menyusuri gurun tandus, meskipun aku tidak pernah ke gurun sama sekali. Di padang rumput, tidak ada makanan atau pohon berbuah yang bisa kau temukan saat berjalan di dalam hutan. Berjalan di atas padang rumput, sama saja memaksa perutmu untuk berpuasa selama perjalanan. Bunga Kanna memang terhampar liar di bawah kaki kami, namun hanya bunga itu tanaman satu-satunya yang tumbuh di sini. Selebihnya, hanya ada rumput hijau sejauh mata memandang. Normen dan Yared yang adalah manusia, pasti merasakan lelah lebih dulu daripada aku yang seorang elf. Aku bisa melihat dari punggung dua orang itu, bahwa energi mereka sudah mulai redup seiring langkah kami yang semakin menjauhi pengunungan Alcyne. Beberapa kali, Normen harus melihat ke belakang untuk memastikan arah yang benar. Jika yang memimpin kami adalah Mamrodou, aku pasti bisa meminta kurcaci itu untuk membawa kami ke tempat yang memiliki banyak makanan. Sayangnya, pemimpin perjalanan ini adalah Normen. Aku tidak meremehkannya, namun raut wajahnya setiap kali menoleh ke belakang, sudah menjelaskan bahwa di tidak yakin sama sekali, dengan arah yang kami ambil. Tapi aku juga tidak bisa mengomentari pria tua itu. Karena jika dia memintaku untuk memimpin jalan, maka aku juga akan membuat kami semua tersesat. Aku hanya perlu percaya kepada oria tua itu. Langit mendung di atas kami, malah menghilang dan menampakkan seberkas cahaya matahari yang berwarna jingga. Hujan tidak jadi turun di Laustrowana, dan sebentar lagi malam hari akan tiba. Untungnya Eol sudah menghubungiku lebih dulu. Karena kalau dia tidak melakukannya, maka pesan Luorr untuk orang-orang di pulau Adon, akan mundur sehari lagi. Sinar matahari yang mulai meredup, tidak hanya menandakan bahwa malam akan tiba. Namun juga memberikan tanda kepada kami, bahwa Normen sudah memimpin kami sekitar empat jam. Yared adalah yang paling terlihat lelah. Dari belakang, punggung anak itu terlihat begitu lesu, dan butuh untuk berbaring. Kami harus segera beristirahat, sebelum salah satu dari kami benar-benar jatuh pingsan. Seharian ini, kami belum makan apa pun, dan malah dua kali bertarung melawan musuh yang sangat berat. Klan Zabash dan Singa raksasa telah menguras tenaga kami. Apalagi aku telah memaksakan diriku untuk dua kali menggunakan kekuatan Zabash, dengan jarak waktu yang sempit. Meskipun aku tidak merasakan lelah yang begitu menyiksa, namun aku harus mengakui bahwa aku sangat kelaparan. Kami bertiga harus mendapatkan makanan secepatnya. "Normen, kita harus mencari makan lebih dulu!" seruku dengan sisa tenaga yang tersisa dalam diriku. Yared menghembuskan napas lega, selagi Normen menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku. Wajah pria tua itu tampak pucat. Aku yang seorang elf saja sudah kelelahan, apalagi dia yang hanya seorang manusia. Untungnya langit masih berwarna jingga, sehingga aku masih bisa melihat semua hal yang ada di sekitar kami. Sejauh mata memandang, memang hanya ada padang rumput yang menyambut kami sejak keluar dari gunung Alcyne. Namun jika memfokuskan ke satu titik di arah timur, aku bisa melihat sebuah siluet berwarna hitam, yang mungkin adalah sebuah rumah. "Kau melihat rumah itu?" tanya Normen sembari ikut memandang siluet yang mencuri perhatianku. "Aku berniat memimpin kalian ke sana. Kita bisa tiba di rumah, atau apa pun itu, sebelum matahari terbenam." "Oke, jadi tujuan kita adalah sesuatu berwarna hitam di kejauhan itu?" Yared menunjuk titik hitam yang menjadi fokusku dan Normen. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Yared. Yang kami lakukan hanyalah kembali berjalan dalam diam, agar kami tidak membuang lebih banyak energi saat berbicara. Perjalanan dengan tujuan, lebih terasa cepat daripada berjalan tanpa tujuan. Kami bertiga tidak mempercepat langkah kami, atau bahkan berlari ke titik hitam itu. Yang kami lakukan hanyalah berjalan dengan mata yang fokus ke arah siluet hitam, yang perlahan mulai menampakkan wujud aslinya. Di bawah cahaya jingga matahari senja, sebuah rumah kecil dengan cerobong asap di atapnya, menyambut kami di tengah padang rumput yang seolah tanpa ujung. Pemandangan yang membuat perutku semakin lapar adalah aku melihat asap keluar dari cerobongnya, saat kami sudah dekat dengan rumah kecil itu. "Mereka pasti memasak sesuatu di dalam sana," batinku. Aku sangat yakin, Normen dan Yared juga memikirkan hal yang sama. Mereka berdua bahkan langsung berlari kecil, setelah melihat asap yang keluar dari cerobong rumah itu. Roti. Ayam bakar. Dan banyak makanan lain yang diolah dengan api besar, berputar di pikiranku. Aku benar-benar sangat kelaparan. Sesampainya di depan pintu rumah itu, aku langsung mengambil inisiatif untuk mengetuk pintu rumah. "Permisi, apa ada orang di dalam?" kataku dengan suara sedikit keras, namun tetap sopan. Rasa lapar sangat menyiksaku, saat asap yang keluar dari cerobong asap mulai masuk ke hidungku. Bau daging sapi yang dibakar, begitu harum dan memaksaku untuk mengetuk pintu rumah ini lebih keras lagi. "Halo! Apa ada orang di dalam?" seruku lagi. Yared juga mulai tidak sabar. Anak itu mulai mengintip dari jendela di sisi kanan rumah, untuk memeriksa apakah seseorang di dalam rumah ini telah mendengar teriakanku. Aku hampir mengetuk pintu rumah dengan sedikit lebih keras, saat pintu rumah ini akhirnya terbuka. Seorang pria dengan rambut acak-acakan, dan mata yang masih setengah tertidur, menyambut kami dengan senyuman. "Halo," sapa pria itu dengan malas. Cara pria ini berbicara hampir seperti Bezur si kurcaci yang selalu mengantuk setiap saat. "Kalian tersesat, dan ingin pergi ke Rowyn?" Jika aku tidak sedang kelaparan, maka aku pasti akan meminta pria ini untuk menjelaskan caranya mengetahui kami sedang tersesat, dan ingin pergi ke Rowyn. Namun aku tidak bisa menanyakan hal itu, karena sekarang yang aku butuhkan adalah makanan. "Kami butuh makanan," jawabku tegas. "Anda bisa berbagi sedikit kepada kami?" Pria itu mengangguk lemah, dan mundur selangkah agar kami bisa masuk ke rumahnya. "Kalian bisa mengambil daging domba yang ada di perapian, aku sudah terlalu kenyang," gumamnya. Persetujuan dari sang pemilik rumah, membuat kami bertiga langsung masuk ke dalam, dan mencari daging panggan yang dia katakan. Rumah ini tidak memiliki perbedaan suasana saat berada di dalam, maupun di luarnya. Rumah yang berdiri di tengah padang rumput yang luas, akan menguarkan suasana sepi dan tenang. Bagian dalam rumah ini juga sama seperti suasan bagian luarnya. Meskipun aku terlalu lapar, aku masih bisa melihat ke sekeliling rumah ini. Sedangkan Normen dan Yared langsung menyerbu ke perapian, untuk segera bertemu dengan daging domba panggang yang masih panas. Yang pertama kali aku lakukan adalah mengambil empat potong daging domba panggang, dan segera mengunyahnya untuk mengembalikan energi di tubuhku. Aku tidak perlu makan terlalu banyak, karena tubuhku sudah terbiasa untuk makan satu kali sehari. Sekarang, aku harus mencari tahu identitas si pemilik rumah. Terutama alasannya membangun tempat tinggal di tengah padang rumput yang sepi ini. Bagian dalam rumah ini tidak menyimpan kejutan. Seperti bagian luarnya, rumah ini memang berukuran kecil. Selain ruangan tempat perapian yang juga terdapat meja makan dan sebuah kursi panjang, rumah ini hanya memiliki satu ruangan lain yang kemungkinan besar adalah kamar sang pemilik. Pintu kamar ini sedikit terbuka, sehingga aku bisa melihat ke dalamnya. Tiba-tiba seseorang memegang pundakku dari belakang. Tubuhku langsung bereaksi cepat, dengan memuntir tangan yang menyentuh pundakku, lalu segera membantingnya. Namun, si pemilik tangan ini malah memutar tubuhnya. Alih-alih jatuh karena bantinganku, kami berdua malah saling berhadapan. Ternyata orang yang mengejutkanku adalah si pemilik rumah. Pria ini tampak sedikit berbeda dari tampilannya saat pertama kali menyambut kami. Padahal, kejadian itu baru terjadi beberama saat yang lalu. Rambut cokelatnya yang tidak teratur, sudah disisir rapi ke belakang. Sedangkan kedua matanya yang tadi mengantuk, sudah terbuka sepenuhnya, dan memperlihatkan bola mata berwarna hijau terang. Orang ini memakai baju berwarna abu-abu dengan kerah tinggi. Baju itu memanjang hingga sampai ke betisnya, sehingga menutupi celana hitamnya yang berbahan tipis. "Halo, kali ini aku sudah sadar," sapa pria itu sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. "Bisakah kau tidak menyerang pemilik rumah yang sudah menyambutmu?" Sindiran pria ini membuatku langsung membungkukkan badan. "Maafkan kelancangan saya," kataku sopan. "Kami sangat kelaparan, sehingga kami melakukan hal yang tidak sopan." Pria itu mengibaskan tangannya dengan cepat. "Aku sudah biasa mendengar itu," gumamnya. Dia menunjuk meja panjang yang berada di deoan perapiannya. "Kau bisa duduk, agar kita lebih santai untuk memulai percakapan." Aku melangkah ke salah satu kursi yang kosong. Di depanku, Yared dan Normen juga memberi salam kepada sang pemilik rumah dengan mulut yang masih penuh daging. Begitulah para manusia. Rasa lapar akan mengubah mereka menjadi ras yang lebih rakus daripada orc. "Ceritakan apa yang kalian lakukan di utara," ucap si pemilik rumah dengan sopan. "Selain itu, katakan alasan kalian ingin pergi ke Rowyn, atau masuk ke wilayah Al-Valayne." Tidak seperti kebanyakan orang yang makanannya baru saja diambil paksa, pria ini tidak menanyakan identitas kami sama sekali. Sebaliknya, dia malah menanyakan sesuatu yang tidak begitu penting, untuk dirinya sendiri. Aku tidak merasakan aura jahat dari orang ini, sehingga aku bisa menjawabnya tanpa perlu pikir panjang. "Kami dibu–" "Perantau!" sela Normen sambil memukul meja dengan pelan. "Kami adalah perantau dari desa di utara. Kami ingin mendapat pekerjaan yang layak, di kerajaan besar seperti Alcyne, atau Valayne." Sorot mata tajam si pemilik rumah mulai melihatku dan Normen secara bergantian. Aku tidak tahu alasan Normen menyembunyikan fakta dibalik kedatangan kami ke Laustrowana. Namun aku benar-benar ingin memukul wajah pria tua itu, karena alasan yang dia buat terdengar sangat palsu. "Kalian yakin itu adalah jawabannya?" tanya si pemilik rumah untuk memastikan kebenaran jawaban Normen. Aku sedikit merasa bersalah karena telah membohongi pria baik ini. Namun aku juga tidak bisa mengesampingkan pilihan Normen, untuk menyembunyikan identitas kami. Jawaban Normen adalah pilihan yang lebih aman. Karena kami bertiga malah mengunci mulut dengan rapat, si pemilik rumah ini beranjak berdiri dari kursinya. "Aku akan mulai berkata jujur lebih dulu," umumnya. "Namaku adalah Aldcera, putra Aleoma," ujar pria itu dengan suara dalam. "Aku adalah petugas Alva, yang memiliki misi untuk menjaga perbatasan utara kerajaan Alcyne." Aldcera tersenyum ramah kepada kami, lalu mengangguk pelan. "Sekarang, giliran kalian," katanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD