Amran mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang bisa ia lihat bahwa ada Serli, istrinya itu di ambang pintu.
Lama Amran menatap, sampai ia tersadar akan sesuatu. "Ah, masuklah," Ucap Amran.
Merasa diberi ijin, Serli pun masuk ke dalam kamar itu dengan rasa canggung yang masih terasa. Langkahnya tak banyak, mungkin hanya bergeser sedikit dari ambang pintu. Yang membedakan sekarang adalah jika tadi Serli terlihat sedikit mengintip dari balik pintu, kini wajahnya dapat terlihat jelas oleh Amran.
"M-mas, maaf soal tadi. Aku... Aku-"
"Gak apa-apa. Lagian, mungkin aku yang lupa kalau kamu punya alergi sama bunga itu." Ucap Amran mencoba menenangkan sang Istri.
Serli pun mengangguk, lalu ia kembali tertunduk dengan kedua tangan yang jari jemarinya ia mainkan di bawah sana.
Apakah Amran melihat hal itu? Tentu saja.
Amran berjalan mendekati istrinya itu lalu memeluk tubuh dingin itu dengan penuh kasih.
"Gak apa-apa, sayang. Semua butuh proses, dan... Aku tak mau lagi melihat wajah sedih ini!" Ucap Amran dengan mengacak lembut pucuk kepala Serli hingga Serli tersenyum.
Serli mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah suaminya itu dari bawah. "Mas, apa yang aku suka?"
Awalnya Amran terlihat berpikir keras, terlihat dari bibirnya yang mengerucut. Lucu.
"Aku," Jawab Amran singkat dengan menampilkan wajahnya yang tanpa dosa.
Lalu bagaimana reaksi Serli? Lama ia menatap Amran setelah jawaban tersebut, sampai di mana Amran sendiri merasa kikuk karena merasa candaannya barusan garing.
Tapi, ketika Amran mulai tersenyum getir, ia melihat Serli yang mulai tersenyum. Bukan sebuah senyuman geli atas kepercayaan diri Amran barusan memang, tapi itu cukup bagi Amran.
"Iya, kalau itu aku tau." Jawab Serli kemudian.
Sebuah jawaban di luar nalar bagi telinga Amran.
Karena, selama ia berumah tangga dengan Serli, setiap kali Amran memperlihatkan jokes garingnya, Serli hanya akan tertawa dan mulai mengoceh banyak hal. Serli yang dulu akan selalu tak terima dengan apa yang Amran katakan. Pasti selalu banyak sangkalan dan bantahan di mulut Serli.
Tapi kali ini berbeda. Amran tak menyangka jika Serli yang amnesia akan bersikap manis dan membuat dirinya tersipu seperti sekarang ini.
Sederhana, namun itu sangat membuat hati Amran bahagia.
Amran sepintas berpikir, mungkin saja dengan amnesianya Serli akan memperlihatkan sifatnya yang lain yang selama ini tak pernah diperlihatkan padanya.
Apakah aku harus bersyukur atas hal ini?
Hal itulah yang tengah Amran pikirkan saat itu.
"Yang lainnya apa?" Tanya Serli yang sekaligus menyadarkan Amran dari lamunannya.
"Emh, kamu suka aku, aku, dan aku." Ucap Amran yang mencoba mendapatkan kebahagiaannya lagi.
Namun, kali ini Serli hanya berdecak lalu berusaha melepaskan pelukan Amran.
Tapi, tentu saja hal itu tak mudah. Badan kekar Amran terlampau kuat untuk Serli meregangkan tubuhnya.
"Mau ke mana?" Tanya Amran yang merasa geli melihat bagaimana reaksi kesal istrinya itu.
Menguji kesabaran istrinya, adalah hal paling terindah bagi Amran.
"Lepas ah, aku kesel." Jawab Serli dengan bibir yang manyun.
Namun, Amran hanya tertawa renyah dan melepaskan pelukan eratnya itu.
"Lain kali, jika mau masuk ke kamar, masuklah." Ucap Amran kemudian.
Serli menatap suaminya itu tak mengerti. Dan Amran memahami hal itu.
"Gak usah ketuk pintu dan meminta ijin Mas dahulu seperti tadi. Ini kamar kamu juga, kamar kita." Terang Amran.
Serli pun mengangguk lemah. Jadi, ia sendiri baru menyadari hal itu. Menyadari atas sikapnya sendiri.
Amran pun meraih lengan Serli dan mulai menariknya kembali dalam dekapannya. Amran tatap wajahnya istrinya yang masih pucat pasi itu, dan mulai mengangkat dagu istrinya itu hingga wajah Serli terangkat ke atas sepenuhnya.
Amran ucap pipi Serli yang dingin, dan mulai mengecup kedua pipi itu secara bergantian. Lalu kembali menarik tubuh Serli yang sempat terkejut atas perbuatannya barusan.
"I Miss u, Sayang. I love u." Ucap Amran pelan.
Sepintas, Serli dapat mendengar suara Amran yang bergetar hebat saat mengucapkan hal tersebut. Dan hal itu membuat Serli berpikir keras, apakah Amran sedang bersedih?
Tapi, ketika Serli yang masih terkejut dan masih terbawa suasana dalam lamunannya, tiba-tiba saja ia yang kembali dikejutkan atas aksi Amran selanjutnya.
Serli yang belum siap, Amran tarik kembali tubuh sekal itu hingga semakin menempel dengan tubuhnya, lalu mengecup bibir Serli beberapa kali sampai Serli pun dibuat melongo bukan main.
Kebingungan atas apa yang terjadi, tak bisa ia tutupi sama sekali dari Amran, suaminya itu. Dan reaksi itu tak pernah Amran bayangkan sebelumnya. Amran sendiri jadi merasa bersalah akan hal itu.
Apakah Amran kecewa? Tentu saja. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan Serli. Bayangan bagaimana kecupannya akan disambut baik oleh Serli, membuatnya lupa akan kesehatan Serli yang belum pulih sepenuhnya.
"M-aaf," Ucap Amran terbata. "Aku hanya-"
"A-ku yang minta maaf, Mas. Aku... Aku... " Ucap Serli tertahan. Seperti ada sesuatu yang menghalangi kerongkongannya.
"Lain kali, aku akan meminta ijinmu terlebih dahulu." Sela Amran, seakan ia tahu di mana letak kesalahannya.
"Mas,"
"Ingatanmu hilang, jadi sudah pasti kamu akan bingung dengan apa yang aku lakukan barusan. Hal itu wajar jika kamu belum siap, dan..." Ucap Amran tertahan. "Dan, pasti kamu juga belum terbiasa akan kehadiranku sebagai suamimu."
Serli mengangguk lemah. Ia setuju dengan apa yang Amran katakan barusan. Semua hal tentang Amran, bahkan dirinya sendiri pun ia merasa asing.
Wajar jika Serli merasa begitu kebingungan.
"Engh, lain kali mung-kin, Mas." Ucap Serli ragu.
Dan karena jawaban itulah Amran tertawa terbahak-bahak. Ia tak menyangka jika Serli akan berkata demikian.
Sungguh, Amran merasa Serli yang sekarang begitu menggemaskan dan... Polos.
"Tapi jangan lama-lama ya, sayang. Mas udah kangen banget!"
****
Amran ke luar dari kamarnya dengan wajah yang panik. Tapi, wajah bantalnya menunjukkan bahwa ia baru saja bangun dari tidur siangnya, hal itu semakin diperjelas dari rambutnya yang acak-acakan.
"Kenapa Nak?" Tanya Ibu yang ikutan panik melihat sikap anaknya.
"Bu, Serli." Ucap Amran kebingungan.
"Kenapa dengan istrimu?" Tanya Ibu yang semakin panik nama itu disebut.
"Dia hilang Bu. Aku tadi tidur siang dengannya di dalam kamar, tapi ketika aku bangun, dia sudah hilang. Please Bu, katakan jika kepulangan Serli bukanlah mimpi!" Ucap Amran dengan nada suara yang bergetar. Setakut itu Amran untuk kehilangan istrinya kembali.
Dan mendengar hal itu, Ibu hanya menghela napas dengan kedua tangan yang mengusap dadanya sendiri.
"Ibu pikir kenapa." Cetus Ibu dengan nada yang datar.
Tapi, sikap Ibu yang demikian malah menambah kepanikan dari wajah anaknya, Amran.
"Bu, Serli. Dia menantu Ibu loh, kenapa Ibu cuma bilang kenapa?" Protes Amran.
Namun, kali ini Ibu hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai respon, lalu kembali menatap televisi.
"Bu!!" Teriak Amran,
"Aduh berisik!" Ibu balik berteriak. "Istrimu tidak hilang. Ia sedang memasak di dapur." Ucap Ibu dengan telunjuk yang mengarah ke arah dapur namun dengan wajah yang masih menatap televisi.
Mendengar hal itu, Amran yang wajahnya masih panik setengah menangis pun mengikuti ke mana jari telunjuk Ibu terarah. Dan benar saja, di ujung sana, di ruangan dapur sana ia bisa melihat bagaimana Serli tengah sibuk memasak dengan rambut yang terikat.
Begitu terlihat manis.
Dengan langkah yang pelan, Amran mulai mendekati Serli dan menatap tubuh sekal itu dari belakang.
Ada pemandangan asing nan mustahil yang baru saja Amran lihat.
"Sayang," Panggil Amran, ragu.
Dan Serli pun memutar tubuhnya ketika mendengar suara Amran dari belakang tubuhnya.
Mata Amran sedikit terbelalak ketika orang yang sedang ia lihat saat ini memang benar-benar istrinya.
"Mas, kebetulan banget. Aku lagi masak telur balado, kesukaanmu. Kata Ibu, kamu suka telur balado." Ucap Serli antusias.
Saking antusiasnya, Serli bahkan tak memperdulikan wajah Amran yang seperti terkejut bukan main.
Serli meraih lengan Amran dan menariknya untuk duduk di salah satu kursi makan yang ada di dapur.
"Aaa," Ucap Serli menyodorkan sebuah sendok yang sudah terisi bumbu balado ke arah mulut Amran persis.
"Bagaimana? Kurang apa?" Tanya Serli, penasaran.
Amran yang ditanya tak lantas menjawab. Bibirnya mengunyah, asik mencicipi masakan Serli, sementara matanya masih tertuju lurus ke arah Serli yang terlihat antusias, dan... Asing.
"Enak." Ucap Amran pelan.
Mendengar jawaban itu, Serli pun tersenyum bahagia.
Tapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Karena tepat setelah Serli kembali memutar tubuhnya untuk melanjutkan masakannya...
"Sejak kapan kamu bisa masak, 'Ser?"