Amran memijit keningnya kuat-kuat. Di ruangan kerja yang sunyi, Amran banyak sekali memikirkan kemungkinan apapun yang ada.
Salah satunya kejadian menakjubkan tadi siang. Di mana ia mendapati Serli, istrinya itu bisa masak.
Bagi sebagian orang pasti berpikir, istrinya bisa masak. Lantas apa salahnya? Tak ada yang aneh, 'bukan?
Tapi tentu saja hal itu sangat aneh bagi Amran. Tak semudah itu baginya bisa menerima fakta tersebut.
Ia menikah dengan istrinya, Serli sudah empat tahun. Ia tahu betul bagaimana istrinya yang tak pernah sekalipun memegang spatula, bahkan celemek sedikitpun.
Setiap hari pun, selama empat tahun, Amran lah yang selalu memasak. Amran yang selalu menyiapkan dan menghidangkan makanan di atas meja makan di rumah itu. Hanya Amran.
Tapi, kenapa hanya dengan kehilangan ingatannya saja, sikap dan sifat Serli berubah terlalu drastis seperti sekarang ini?
Ok, begini. Semua orang pasti bisa memasak, jika belajar. Tekhnologi jaman sekarang bahkan sangat canggih hanya untuk belajar memasak. Di aplikasi YouTu*e pun sekarang sangatlah mudah menemukan resep bahkan cara untuk memasak. Tapi, pelajaran apa yang bisa menyerap seluruhnya hanya dalam kurun waktu kurang dari sehari?
Kenapa Amran berpikir demikian? Karena masakan Serli yang ia cicipi tadi, jauh, bahkn sangat jauh dari kata orang yang sedang belajar.
Semua bumbu dan rasanya sangatlah pas, dan lezat bagi lidah Amran. Tak masuk akal!
Amran usap surainya dengan kasar ke belakang. Ingin rasanya ia mengenyahkan semua pikiran buruk tentang istrinya itu. Karena mau dipikir beberapa kali pun itu sangatlah mustahil, tapi ia juga sama sekali tak bisa berpikir jernih dengan segala kemungkinan yang ada.
Semua pikiran buruknya terhadap istrinya itu sama sekali di luar nalar.
Amran beberapa kali menggelengkan kepalanya. "Tak mungkin istriku titisan alien, 'kan?"
Ia lantas kembali memijit keningnya. "Ah, anggap saja jika selama ini Serli hanya berpura-pura tak bisa masak," Ucap Amran berusaha untuk meyakinkan dirinya tentang apa yang ia pikirkan. "Iya, pasti karena itu. Dan karena sekarang Serli amnesia, ia jadi lupa jika selama ini ia hanya pura-pura tak bisa masak." Angguk Amran lagi.
Setelah ia benar-benar yakin dengan pikirannya sendiri, ia alihkan pandangannya pada jam.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Amran sempat tersentak, lalu langsung beranjak dari kursi kerjanya untuk pergi ke kamar.
Amran hanya takut jika Serli akan merasa diasingkan.
Namun, ketika ia baru saja membuka pintu, Amran langsung bisa melihat jika istrinya itu sedang tertidur pulas di atas tempat tidur.
Dan ternyata Amran sendiri baru menyadari jika ada sesuatu yang unik tentang istrinya tersebut.
Terlihat di sana bahwa Serli tengah tidur dengan meringkuk seperti orang yang sedang kedinginan. Padahal, suhu AC di kamar itu bisa di katakan tidaklah dingin.
Amran dekati istrinya itu, ia amati lekat-lekat wajah istrinya itu, dan mulai merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
Di sana lah baru tesadar, bahwa ternyata selama ini, ini lah kali pertama ia menatap wajah istrinya yang tengah terlelap dengan sangat dekat.
Jika selama ini ia selalu tidur dengan istrinya itu hanya sekedar tidur, tapi mereka berdua sama sekali tak pernah deep talk, dan saling memandang satu sama lain jika sudah berada di atas ranjang. Lain halnya dengan malam ini.
Amran merangkak masuk ke atas tempat tidur, lalu meraih selimut dan menyelimuti dirinya serta istrinya dengan perlahan.
Dengan posisi tidur yang miring, Amran dapat melihat dengan jelas bagaimana lekuk wajah Serli dengan jarak yang begitu dekat.
Lama Amran menatap wajah istrinya itu sampai di mana ia terkejut ketika mendapati kedua mata Serli terbuka dengan perlahan dan akhirnya berakhir dengan mereka yang beradu pandang.
"Mas belum tidur?" Tanya Serli dengan suara seraknya, suara khas ketika baru bangun tidur.
Amran pun menggelengkan kepalanya pelan, lalu mulai mengusap lembut pipi Serli. "Belum. Mas baru ... Saja beres mengerjakan berkas-berkas." Ucap Amran, lembut.
Mendengar itu, Serli lantas mengangguk dengan kedua Mata yang terlihat mengantuk.
Dan pemandangan seperti itu sangatlah langka dijumpai Amran. Amran tersenyum lebar, karena lucu di matanya melihat istrinya itu manja seperti sekarang ini.
Amran kecup kening Serli, istrinya itu dengan sangat lembut lalu mulai turun ke kedua pipinya yang dingin, hingga kecupan itu berhenti di bibir Serli yang terlihat begitu merona.
Amran amati bibir merona itu cukup lama, lalu beralih menatap mata istrinya yang nyatanya masih terpejam. Amran sempat berpikir, apakah istrinya itu sedang berpura-pura tidur atau memang dia benar-benar kelelahan hingga Serli tak bangun meski ia kecupi setiap jengkal yang ada di wajahnya?
Namun, baru saja pikiran itu terlintas di benaknya, Amran terkejut dengan kedua mata Serli yang terbuka begitu saja, hingga berakhir dengan mata mereka yang saling beradu.
Awalnya canggung, dan Amran benar-benar merasa kikuk dibuatnya. Selama empat tahun pernikahan mereka, baru kali ini lah Amran merasakan perasaan seperti itu pada istrinya.
Aneh, tapi... Entahlah.
"Maaf," Ucap Amran dengan kedua mata yang masih menatap Serli.
"Untuk?" Tanya Serli dengan suara yang masih serak. Namun cukup membuat Amran semakin salah tingkah.
Pertanyaan Serli memang tak salah. Itu hanya jenis pertanyaan yang bisa dikategorikan biasa saja. Ayolah, wajar sekali jika Serli bertanya demikian, toh ketika ia baru saja membuka katanya tiba-tiba saja Amran mengucap kata maaf yang ia sendiri tak tahu letak kesalahan suaminya itu di mana.
Tapi, pertanyaan itu anehnya malah membuat jantung Amran berdebar, seolah ia yang memang baru saja melakukan kesalahan fatal.
"Maaf karena aku tak bisa menahannya lebih lama lagi,"
Dan belum sempat Serli menanyakan perihal apa itu, Amran sudah lebih dulu mengecup bibir Serli.
Pertama, Serli tak bereaksi apapun. Kecupan kedua, Amran malah hampir saja tertawa ketika melihat reaksi Serli yang begitu lucu menurutnya.
Kenapa?
Karena kecupan Amran yang kedua itu malah membuat kedua mata Serli mengerjap-ngerjap dan cosplay menjadi boneka barby.
Tapi, Amran tak berhenti begitu saja. Rasa rindu yang begitu besar terhadap istrinya, membuat Amran tak bisa berhenti.
Amran mulai mengecup lagi bibir Serli, dan kali ini tak hanya kecupan semata. Ada hisapan lembut di bibir Serli yang akhirnya membuat keduanya terlena.
Serli yang sedari tadi hanya memaku, kini kedua tangannya mulai beralih pada tengkuk Amran. Beberapa kali bahkan Serli sempat meremas dan menjambak rambut belakang Amran karena rasa nikmat yang Amran berikanberikan padanya.
Melihat reaksi itu, tentu saja Amran tak menyia-nyiakannya. Ia semakin memainkan lidahnya di dalam mulut Serli, dan membuatnya semakin di mabuk kepayang hingga seisi ruangan tersebut berisik dengan suara khas ciuman.
Sampai di mana Amran mulai melepas ciuman panasnya itu, dan menyisakan deru napas di keduanya.
Amran menatap Serli lagi dengan tatapan yang sudah dikabuti gairah luar biasa, dan dirasa tak ada penolakan pada istrinya itu, Amran lantas mulai kembali menghujani Serli dengan ciumannya lagi, tapi kali ini pada leher Serli.