Permintaan Aisya

1590 Words
Aisya menatap kedalam ruangan, terlihat sosok perempuan sedang terbaring disana. Beberapa waktu lalu Warna sudah siuman dan bisa dibesuk oleh kerabatnya, termasuk Aisya dan Syarif yang menjadi orang pertama tau kabar dan membawanya ke rumah sakit. Tapi setelah sadarkan diri, Warna hanya diam dan tatapannya kosong memperhatikan ke langit-langit ruangan tersebut. Kejadian yang menimpa perempuan itu, membuat mentalnya terguncang dan mengalami trauma, polisi pun kesulitan mendapatkan keterangan darinya. Sedangkan kedua orang tua Warna begitu sedih melihat kondisi putri semata wayangnya itu, yang hanya diam dan memilih menangis. Apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu? Jika memang hanya dibegal, kenapa dia bisa setrauma ini? Syarif pun mengajak Aisya untuk pamit pulang karena sudah larut malam, besok juga mereka harus kembali dengan aktivitasnya mengajar, apalagi Aisya piket pagi untuk mengecek kerapian para murid sebelum masuk ke lingkungan sekolah. “Tapi Mas, apa nggak sebaiknya kita menemani keluarga Warna disini?” ucap Aisya yang masih mengkhawatirkan kondisi Warna, yang sudah dianggapnya seperti teman sendiri. “Bukannya aku tidak membolehkan, tapi juga harus ingat dengan kondisimu, kamu baru saja membaik. Besok sepulang sekolah kita kesini lagi. Oke?” Syarif coba memberi pengertian pada istrinya agar lebih menurut dan tidak mendebatnya. Aisya yang merasa Syarif juga sedang lelah, akhirnya menuruti saran dari suaminya tersebut. Keduanya berpamitan pada kedua orang tua Warna, ternyata sejarah keluarga perempuan itu berprofesi sebagai dokter semua. Ayahnya dokter ahli bedah, sedangkan ibunya dokter ahli gigi, dan sekarang Warna menjadi dokter kandungan. Dalam perjalanan pulang, Aisya melamun. Tidak biasanya perempuan itu diam saat di mobil, apalagi jam-jam rawan Syarif mengantuk, ia pasti akan banyak bicara dan menggoda laki-laki itu. Agar Syarif tetap fokus menyetir dan tidak merasakan kantuknya. "Sudah Sya, polisi sedang mengusutnya. Kita serahkan pada tim penyidik.." Ucap Syarif yang tau apa isi dari fikiran istrinya, pasti Aisya masih menerka-nerka apa yang terjadi pada Warna. "Tapi kamu ingatkan Mas, saksi mata yang ada ditempat kejadian bilang kalo Warna dibegal. Tapi apa masuk akal, jika kondisi tubuh Warna normal dan baik, kenapa psikisnya nggak?" Aisya masih merasa ada yang aneh dari kejadian itu. Ia berpikir yang tidak-tidak, apa mungkin Warna telah di… "Syaa, sudah.. kita liat besok ya, gimana hasil penyidikan dari polisi, dan semoga Warna bisa dimintai keterangan. Semoga nggak ada apa-apa dengannya." Ucap Syarif memotong. Ia tidak ingin istrinya berspekulasi yang belum tentu terjadi. "Hmmm." Aisya menggumam, Syarif sudah memperingatinya dengan pelan, sudah saatnya dia berhenti bicara. Jangan sampai laki-laki itu menghadiahinya tatapan intimidasi. "Kamu lapar nggak?" Tanya Syarif yang merasakan perutnya mulai melilit. Padahal di pasar malam mereka makan nasi pecel, tapi kenapa sekarang Syarif kelaparan? "Kok kamu tau sih Mas?" Tanya balik Aisya, yang dihadiahi tatapan bingung oleh Syarif. "Aku ini tanya, kok malah balik nanya." Gerutu laki-laki itu. "Iya iya, aku lapar. Dari tadi malah." Jawab Aisya yang menekan perutnya dengan jari telunjuk. Ia juga merasa nasi pecel tadi sudah habis diperutnya karena energi yang terkuras, dan sekarang ia kelaparan lagi. "Yaudah kita cari makan dulu ya, aku juga lapar." Ucap Syarif mulai memperhatikan kanan-kiri jalan, siapa tau malam-malam masih ada angkringan yang buka. "Loooh sama dong. Berarti kita jodoh nih Mas." Aisya menyentil lengan Syarif, seolah menyuruh laki-laki itu untuk berbahagia karena mereka lapar bersama. Syarif kembali mengalihkan pandangannya pada perempuan itu. Apa karena lapar bisa berdampak ke selera humor juga ya? Atau memang Aisya sereceh itu. “Tadi polisinya juga bilang lagi lapar, berarti jodoh juga dengan kamu?" Ucap Syarif yang ingin mematahkan kerecehan Aisya. Namun perempuan itu malah mengernyitkan alisnya sebagai tanda bingung. "Katanya kalo sama, berarti jodoh." Laki-laki itu memperjelas lagi ucapannya. Ada apa dengan perempuan itu sih? Tadi ia yang memulai, saat ditimpali Syarif, Aisya malah loading lama sekali. Benar-benar menyebalkan jika lapar ketemu orang lapar juga. Pembicaraan semakin tidak nyambung. "Ouh." Aisya mengerti maksud Syarif akhirnya. Kemudian dia berbalik, dan menatap ke depan, ke jalanan yang petang dengan seberkas sinar dari lampu jalan. Seolah penjelasan Syarif tidak berguna baginya. "Syaaaaa, tolong jangan mulai absurdnya." Syarif gemas sendiri. Ingin sekali menggigit istrinya itu. Entah kenapa, kelakuan Aisya yang terkadang absurd itu membuat Syarif kesal sekaligus gemas. Andai tidak sedang menyetir, perempuan itu sudah ditariknya kedalam pelukan, dan didekapnya dengan sangat-sangat erat. "Lapar aku Mas, gak bisa ngomong." Jawab Aisya dengan lesu. Seperti tidak bersemangat untuk mengeluarkan suaranya, ketika mendengar suara perutnya lebih kencang. "Okee. Kita makan penyetan ya." Syarif melihat warung penyetan di pinggir jalan yang masih buka. Ternyata disana juga banyak pengunjung yang antri untuk makan ditengah malam ini. “Mas, maas.. orang-orang ini apa nggak takut gemuk ya, jam segini pada makan semua.” Bisik Aisya saat hendak turun dair mobil. “Apa kabar kita? Tanya Syarif yang sedang mengaca pada dirinya sendiri. Mereka tengah malam juga cari makan karena kelaparan, jadi tidak menutup kemungkinan semua pengunjung juga merasakan hal yang sama dengannya. Mereka turun dari mobil, Aisya sudah mengambil alih tempat duduk karena takut ditempati orang, sedangkan Syarif yang memesan makanannya. "Mas," Aisya menatap Syarif ketika laki-laki itu sudah duduk disampingnya. "Kenapa Sya?" tanya Syarif yang datang-datang sudah melihat wajah Aisya sedang serius. "Besok kita ke dokter kandungan ya." Ucap Aisya yang langsung membuat Syarif mengalihkan pandangan ke arahnya. Sejak mengetahui riwayat penyakit Aisya, laki-laki itu tidak sama sekali ingin membahasnya. Namun kenapa kali ini istrinya itu membuka pembicaraan mengenai hal itu. Syarif rasa bahasan itu sangat sensitif bagi Aisya, juga dirinya. Karena kenyataan tersebut menyakiti hati perempuan itu. Syarif bisa menerimanya, ia bisa hanya hidup berdua dengan Aisya apabila itu sudah takdirnya. Namun tidak dengan Aisya, meski dia terlihat baik-baik saja, hatinya pasti sakit mengetahui kenyataan tersebut. "Kita makan dulu ya, bahasnya nanti saja di rumah." Ucap Syarif mengalihkan pembicaraan, dan ia bersyukur sekali karena pesanan mereka sudah datang tepat waktu. Aisya mendengus, namun dia menuruti ucapan suaminya itu. Mungkin memang bukan waktunya untuk membicarakan hal tersebut ditempat umum. "Maaaas." Bisik Aisya. "Apa?" Gerutu Syarif. "Kamu ganteng deh kalo lagi laper." Goda Aisya yang membuat Syarif bergidik ngeri. Syarif ingin mencubit pipi perempuan itu, tapi langsung berhenti karena melihat tangannya yang sudah dipenuhi oleh sambel. Dipelototi oleh Syarif membuat perempuan itu meringis. “Mas,” bisik Aisya lagi. “Apa lagiii?” Gerutu Syarif yang tidak tenang menikmati makanannya. “Sampingku ketiaknya bau banget.” Gerutunya yang membuat Syarif mendelik, laki-laki itu langsung mengintip siapa yang ada disamping Aisya. Laki-laki bertubuh besar, hanya menggunakan singlet berwarna putih, sembari makan, ia juga menyebarkan bau tidak sedap. Syarif pun berusaha menahan tawanya. Lucu memang hidup bersama Aisya. *** Sesampainya di depan rumah, Syarif tersenyum simpul melihat Aisya tertidur di samping dengan suara ngoroknya yang khas. Artinya, perempuan itu sedang kelelahan. Setelah hidup berdua dengan Aisya, melakukan segala hal bersama, mereka mulai hapal dengan kebiasaan masing-masing, termasuk Aisya yang suka ngorok saat tidur karena efek lelah di pagi, siang, dan sore harinya. Dan Syarif paling tidak bisa menganggu tidur Aisya, dia pun turun dari mobil kemudian membopong perempuan itu masuk ke dalam rumah. Dan ada baiknya juga jika Aisya tertidur, artinya mereka tidak perlu membahas rencana untuk ke dokter kandungan lagi. Sudah seperti olahraga malam, Syarif bermandikan keringat setelah menidurkan Aisya diatas ranjang. Syarif pun melepas kerudung Aisya secara perlahan, agar istrinya tidak terganggu, dan menempatkannya di keranjang baju kotor. Kemudian dia sendiri beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai bersih-bersih, Syarif keluar dari kamar mandi. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat Aisya terduduk di tepi ranjang, dengan pakaian yang sudah berganti dan tentu cengiran yang tidak ketinggalan. "Sya, bukannya kamu..." "Aku menunggu Mas selesai bersih-bersihnya." Ucap Aisya memberikan baju ganti untuk Syarif. Seolah malam itu ia sudah siap. Waktunya berproduksi. "Bukannya kamu sudah tidur nyenyak banget ya?" Syarif tidak habis pikir. Apa jangan-jangan Aisya tadi sedang pura-pura tidur. "Iyaa, tadi. Tapi aku kebangun, dan inget kalo ini malam jumat." Ucap Aisya sembari mengedip genit. Syarif bergidik ngeri melihat kelakuan istrinya itu. "Ayo Mas." Aisya lagi-lagi mengedipkan matanya. Syarif pun tidak bisa menahan tawanya lagi, dia terbahak-bahak. Seolah Aisya menjadi perempuan bar-bar, tapi tidak berhasil. Dia mencubit pipi Aisya karena sangat gemas. "Kamu itu kenapa sih, Syaa.." Masih dengan tawanya, "Kamu mau minta apa?" Seperti ada suatu hal yang diinginkan perempuan itu sehingga harus membuatnya merayu. "Kamu ingat kan aku bilang apa tadi di warung makan?" Aisya mengingatkannya lagi. "Aku pengen kita besok ke dokter kandungan," "Dokter Warna kan sedang sakit, Sya.." "Kan ada dokter kandungan yang lain, Mas.." Syarif hanya diam, dia mengelus lembut pipi istrinya. "Aku mau kita mulai ikhtiar Mas, kita konsultasikan bagaimana program hamil yang aman untuk kita. Kita menikah, selain karena Allah dan cinta, juga untuk mendapatkan keturunan kan Mas.." Aisya masih coba meyakinkan laki-laki itu. "Kamu nggak perlu takut aku down lagi Mas, dengan adanya kamu, aku bisa kuat sampai sekarang. Lagian, pasti ada jalan dari semua ini kan Mas." "Tapi Sya," "Mas, dengar. Penderita PCOS bisa dikatakan sulit hamil atau mandul, dan Alhamdulillah aku tidak termasuk Mas. Kita harus yakin, bahwa kali ini kita berhasil. Butuh pengorbanan untuk kebahagiaan kan Mas?" Ucap Aisya yang membuat Syarif tersenyum. "Aku hanya nggak mau kamu berpikir dan melakukan hal-hal aneh untuk hubungan kita karena kejadian ini.. Cukup kemarin. Aku sudah sangat bersyukur memilikimu, Sya. Selebihnya adalah hadiah dari Allah." "Tapi aku juga ingin keluarga kita utuh dan lengkap, Mas. Percayalah, aku nggak akan melakukan apapun. Kita nggak akan pernah saling melepaskan dan meninggalkan." Aisya masih terus meyakinkan Syarif. Dia mengecup pipi suaminya itu. Syarif menghembuskan napas dengan kasar, lalu dia memeluk perempuannya itu. Perempuan yang selalu membuatnya takut kehilangan. "Baiklah." Syarif akhirnya setuju. Aisya pun mengeratkan pelukan suaminya itu, sembari mengucap terima kasih. Ada perjuangan untuk sebuah kebahagiaan, Dan ada pengorbanan untuk sebuah perjuangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD