Yang sebenarnya terjadi pada Warna

1400 Words
Ketika sebuah ujian datang, apa yang harus dilakukan oleh seorang Hamba? Ikhtiar, dan berdoa. Ya, Aisya sedang berusaha menguatkan hatinya. Setidaknya ini untuk kebahagiaan Syarif, meski laki-laki itu sering keukeuh bahwa bahagianya hanya dengan Aisya, namun seorang suami mana yang tidak ingin memiliki buah hati? Hal itu yang ditunggu-tunggu oleh pasangan suami-istri seperti mereka. Jam weker yang berada diatas nakas berbunyi, Syarif pun mematikannya dan hendak kembali memeluk Aisya yang ada disampingnya. Namun ia dibuat terkejut ketika mendapati perempuan itu sudah tidak berada disana. Syarif langsung memaksa tubuhnya bangun, dan mengedarkan pandangan mencari dimana Aisya, ia melihat kamar mandi juga pintunya terbuka, artinya perempuan itu tidak berada disana. Lalu ia melihat kesamping kanannya, ternyata Aisya ada disana. Perempuan itu terduduk diatas sajadah sembari menengadahkan tangannya. Dengan khusyuk ia menggumamkan sayyidus shalawat. “Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin bi ‘adadi man sholla ‘alaih, wa sholli ‘aala sayyidinaa muhammadin bi ‘adadi man lam yu sholla ‘alaih, wa bil khususi hajati ya Allah…” Aisya terdengar sedang terisak. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Hamba, dosa suami dan kedua orang tua Hamba. Mudahkanlah segala urusan Hamba, begitu juga dengan niat Hamba besok Ya Allah, semoga Hamba dapat membahagiakan suami hamba dengan memberinya kabar baik mengenai buah hati kami nantinya. Sungguh, meskipun ia berusaha memberi hamba pengertian dan berusaha tegar, hamba yakin dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga merasakan sedih yang sama, ia juga menginginkan apa yang hamba dambakan juga.” Aisya menarik nafasnya dalam-dalam. “Jika memang ini cobaan dari-Mu, hamba akan menerimanya Ya Allah, hamba akan berusaha semaksimal mungkin tanpa merutuki takdir-Mu. Hamba hanya ingin Engkau karunia sabar bagi hamba dan suami, persatukanlah kami hingga nanti di Lauhul Mahfudz. Sungguh, hamba sangat mencintainya, hamba ingin melihatnya terus bahagia, dan itu karena hamba Ya Allah… Kun fayakun, wal hamdulillahi robbil alamin.” Aisya menelangkupkan wajah diantara kedua telapak tangannya, ia berusaha menahan isakannya, agar Syarif tidak mengetahui dirinya sangat lemah saat itu. Namun tiba-tiba tubuhnya didekap dari belakang, Aisya pun terhenyak dan ingin berbalik untuk melihat. “Diamlah, aku ingin memelukmu.” Ucap Syarif yang sejak tadi sudah mendengar curhatan Aisya pada Tuhan-Nya. “Biarkan aku menenangkanmu.” Tambahnya sembari masih mendekap Aisya. Perempuan itu pada akhirnya tidak bisa menahan tangis yang selama ini dibendungnya, Aisya berbalik dan membalas pelukan Syarif. Ia memeluk suaminya itu dengan erat. “Maafkan aku, Maas. Aku nangis lagi..” Ucap Aisya sesenggukan. Syarif mengusap lembut pundak Aisya, agar perempuan itu lebih tenang. Ia tidak bisa berkata apa-apa, karena yang dibutuhkan Aisya saat ini hanya dirinya, bukan kata-katanya. “Maaf, Mas..” Aisya mengulangnya ucapannya lagi. Hanya itu yang bisa dilakukannya. “Besok kita ke dokter kandungan, kita ikhtiar bersama-sama.” Ucap Syarif, jika itu adalah hal yang paling diharapkan oleh Aisya, maka dirinya juga harus bisa menggandengnya juga untuk berjalan bersama-sama. Syarif merasa bersalah sebab saat Aisya mengajaknya untuk periksa ke dokter kandungan, jawabannya hanya singkat. Dan mungkin saja karena hal itu yang membuat Aisya nelangsa, lalu akhirnya sholat tahajud dan menangis mengadu pada Tuhan. Laki-laki itu merasa bersalah kenapa tidak didukungnya keinginan Aisya untuk bisa hamil lagi. Syarif mengeratkan pelukannya lagi, hingga Aisya tertidur didekapannya. Dilihatnya wajah perempuan yang menjadi surganya. Disana ia sudah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicari, tidak ada lagi yang ia harapkan agar Aisya terlihat sempurna, namun ia juga tidak bisa lagi menahan Aisya untuk berusaha. Disepertiga malam itu, Syarif melihat Aisya yang dewasa, ia sekarang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, namun semua orang yang ada disekitarnya, termasuk Syarif sebagai suaminya. Tapi akhir-akhir ini Aisya sudah terlalu banyak mementingkan orang lain, sampai dirinya sendiri lupa untuk dibahagiakan. “Aku sangat mencintaimu, Humairaku.” Ucap Syarif sembari mengelus lembut pipi istrinya yang sekarang sedang tertidur pulas, perempuan itu pasti lelah menangis, sampai matanya sembab dan terlihat kacau. *** “Selamat pagi, Maaas.” Sapa Aisya sembari menyiapkan sebungkus nasi jagung yang dibelinya ditukang sayur. “Aku beli nasi jagung didepan, selamat dinikmati.” Syarif yang duduk dimeja makan pun menunjukkan wajah yang berseri-seri, matanya berbinar melihat makanan yang sudah lama tidak ia cicipi. “Waah, Sya. Sudah berapa tahun ya kita nggak makan nasi jagung.” Ucap laki-laki itu, ia jadi ingat saat dirinya bersama Aisya ke hutan mangrove, disana mereka banyak mengobrol dan bertukar pikiran. “Sepertinya sejak kita menikah,” jawab Aisya meringis. “Kita harus berkuliner lagi nih, Mas.” Tambahnya yang memang merasa perlu quality time dengan suaminya tersebut. “Baiklah, nanti aku akan atur agar kita bisa libur dua hari.” Ucap Syarif. “Loh Mas, kamu kok jadi nackal.” Sahut Aisya yang terkejut karena suaminya itu dengan enteng akan mengatur agar mereka bisa libur mengajar dua hari. Padahal selama ini Syarif adalah guru yang saklek, yang tidak akan ijin apabila tidak penting. “Ini hal yang penting. Sudah, aku makan dulu. Jangan lupa sepulang dari ngajar kita ke dokter kandungan.” Ucap Syarif mengingatkan, membuat Aisya menatapnya sembari tersenyum. Perempuan itu merasa lega karena suaminya ikut berjuang dengan mendapatkan buah hati, ia merasa bahagia seketika. “Okaay, boss. Aku siap-siap dulu ya.” Ucap Aisya sembari berlenggang menuju kamar, hendak membersihkan tempat itu sebentar lalu berangkat bersama Syarif. *** “Warna, kamu bisa mendengarku?” suara itu terdengar dari laki-laki yang berada disampingnya Warna. Deka selalu berada disana, menemani sekaligus merawatnya. Ia tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada perempuan itu, tapi yang pasti Warna telah mendapatkan perlakuan yang akhirnya membuat ia trauma dan mengganggu psikisnya. Mendengar suara Deka, Warna mengalihkan pandangan. Respon pertama setelah lama ia hanya melamun dan diam. Deka yang melihat respon baik itu segera memperbaiki posisinya. “Aku Deka, temanmu. Ingat kan?” ucap laki-laki itu. “Aku tau kamu sangat kuat saat ini, kenapa begitu? Karena kamu mau meresponku. Terima kasih ya.” Tambahnya yang berharap Warna akan lebih banyak merespon karena dianggap kuat, meski ia tau pasti yang dilewati oleh perempuan itu sangat berat. “Apa kamu nggak mau cerita sedikit? Setidaknya aku bisa mengenang dulu saat menjadi Deka yang suka mendengar ceritamu.” Ucapnya, sebagai dokter ia tidak bisa memaksa pasiennya untuk berkata terus terang apalagi pada kondisi seperti Warna sekarang. Warna hanya diam sembari masih menatap wajah Deka. Perempuan yang selama ini dijaganya, yang ingin selalu dibahagiakan. Tiba-tiba datang dengan tubuh lemah dan mental yang sangat down. Entah apa yang telah terjadi, namun seorang Warna yang selama ini dikenalnya begitu ceria dan periang, kini seperti orang yang tak bernyawa, tak punya semangat hidup, yang hanya bisa berbaring sembari menangis. Sesekali Warna tertidur, namun tidak lama kemudian dia terbangun dengan ketakutan. “Mereka semua jahat.” Ucap Warna yang membuat Deka merasa menemukan sebuah titik terang. Deka mengangguk, “Ya? Apa yang telah mereka lakukan, Na?” tanya laki-laki itu dengan sangat hati-hati. Warna menerawang jauh, mengingat kejadian menjijikkan saat itu. Saat ia diajak Aisya ke rumah Alfa untuk meminta perempuan itu menjadi istri kedua Syarif, Warna yang mendengarkan pembicaraan antara Aisya dan Alfa sedikit terhenyak karena tiba-tiba laki-laki yang sedang dibicarakannya itu datang. Warna segera bersembunyi bahkan sampai Aisya dan Syarif pulang. Mendapati dirinya sendiri di rumah itu, Warna pun berpamitan kepada Alfa. Ia mengendarai mobil seperti biasanya, namun ada yang beda, yaitu ingatannya. Saat kedatangan Syarif, Warna masih bisa mendengarkan percakapan mereka, hal yang sangat mengganggu pikirannya adalah Syarif sangat mencintai Aisya. Bahkan ketika perempuan itu sendiri yang menawarkan diri untuk dimadu, namun Syarif dengan mati-matian menolak. Laki-laki yang sampai saat ini dicintainya itu ternyata telah memiliki pasangan, dan ia sangat mencintai pasangannnya tersebut. Ditengah perjalanan, entah kenapa juga Warna melewati jalan yang tidak biasanya ia lewati, jalanan yang sepi dari kendaraan dan gelap karena lampu penerangan jalan tidak berfungsi. Tiba-tiba beberapa motor menahan mobilnya untuk melaju dan terpaksa Warna menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Tidak butuh waktu lama, orang-orang tersebut turun dari mobil dan menggedor-gedor kaca mobil bahkan memecahkannya, Warna yang ada didalam sangat ketakutan, dan pada akhirnya orang-orang tersebut berhasil masuk kedalam mobil, mengambil barang-barang yang sekiranya bisa dijual. Dan hal yang paling menjijikkan adalah; mereka mencabuli Warna, perempuan itu sudah memohon ampun untuk tidak menyentuh tubuhnya, ia akan menyerahkan semua harta jdan mobilnya, namun mereka tidak mau, karena menurut mereka tubuh Warna juga sangat menggiurkan. Mengingat kejadian itu, Warna memukuli tubuhnya sembari berteriak. “menjijikkan.” Ucapnya terus-terusan. “Warna, tenanglah. Tenang. Kamu sudah aman denganku, percaya. Tidak akan yang jahat padamu lagi.” Deka berusaha menenangkan Warna. Akhrinya Deka tau penyebab Warna setrauma ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD