Dia Faruq?

1007 Words
Setelah ditinggal selamanya oleh Faruq, Alfa membiasakan diri untuk melakukan semuanya sendiri, apalagi asisten rumah tangganya sedang pulang kampung karena sakit dan ia belum sempat merekrut orang untuk membantunya mengurus rumah. Sedangkan hari ini, ketika perempuan itu memasak, ia kehabisan gas. "Ya Rabb," Alfa menggerutu, ia tidak bisa minta bantuan ibunya karena wanita itu sedang menjaga Rubi. Akhirnya Alfa harus membeli tabung gas sendiri ke toko swalayan yang tidak jauh dari rumahnya. Perempuan itu membawa tabung gas 3 kg tersebut, menyusuri jalanan yang sepi di pagi hari. Sesampainya di toko tersebut, penjaganya yang melihat Alfa langsung membantu, mengalihkan tabung gas ditangan perempuan itu. "Loh Mbak, tau gitu tadi saya aja yang antar ke rumah." Ucap pria itu yang kasihan melihat Alfa sendirian membawa tabung gas ke tokonya. Alfa meringis, "Ndak Pak, wong cuma kesini aja kok. Sekalian mau beli yang lain." Jawabnya secara halus, ia tidak ingin dikasihani karena ceritanya yang telah kehilangan sosok laki-laki dalam hidupnya, dan harus mandiri dalam segala hal. Perempuan itu pun juga memilih bahan-bahan dapur yang lainnya, seperti alasannya tadi. "Sama kecap dan gula ya, Pak." Ucap Alfa. "Baik, siap Mbak. Nanti biar teman saya yang bawakan sampai ke rumah." Ucap pria itu. Alfa tersenyum sembari mengucapkan terima kasih, ia tidak bisa menolak dan bersikap angkuh pada orang yang berbuat baik padanya. Namun dilubuk hatinya yang paling dalam rasanya sangat sakit ketika orang iba melihatnya, padahal selama ini Alfa membangun dirinya sendiri untuk kuat setelah kepergian Faruq. "Berapa, Pak?" tanya Alfa. "Seratus lima belas ribu, Mbak." Jawab pria itu setelah menghitung semua belanjaan Alfa. Perempuan itu pun mengeluarkan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu. Setelah mendapat kembalian dari penjaga toko tersebut, salah satu karyawan disana hendak membawakan belanjaan Alfa dengan beribu ucapan terima kasih dari perempuan itu. "Biar saya yang bawakan untuknya." Ucap seseorang yang dengan tiba-tiba mengambil alih semua belanjaan Alfa ketangannya. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wajah yang membuat Alfa tercengang. Wajah yang selama ini membuatnya mengerti akan arti kehidupan dan belajar cara menghadapi segala cobaan dengan lapang d**a. Wajah yang bulan lalu membawa kabar bahwa ia telah meninggalkan Alfa untuk selama-lamanya. "Mas Faruq," Ucap Alfa tanpa sengaja, ia berharap ini tidak mimpi, sosok yang ada didepannya benar-benar Faruq. Namun ia tidak boleh menjadi Hamba yang merutuki nasib dan kesedihan, sampai tidak bisa membedakan orang yang telah meninggal tidak akan pernah kembali lagi kedunia. Meski sebenarnya Alfa juga berharap ini semua hanya mimpi, sosok seorang Faruq hanya pergi sementara dinas keluar kota, bukan yang pergi meninggalkan ia untuk selama-lamanya. "Saya bantu bawa belanjaanmu." Ucap laki-laki itu yang menyadarkan Alfa bahwa dia bukan Faruq yang dikenalnya selama ini, dia orang yang berbeda, dari nada suaranya saja bukan menggambarkan Faruq, suaminya. Alfa bisa menebak bahwa laki-laki ini angkuh dan haus akan pengakuan, seolah Alfa harus berterima kasih karena ia telah bersedia membantunya. "Eh, maaf.. Tapi biar bapaknya saja yang membantu saya." Ucap Alfa yang berniat setelah nanti sampai rumah, ia akan memberikan makan atau beberapa uang pada karyawan toko tersebut sebagai bentuk rasa terima kasih. Sedangkan apabila laki-laki didepannya yang membantu, apa yang akan diberikannya? sepertinya laki-laki itu sudah memiliki semuanya. "Dimana rumahmu?" tanya laki-laki itu yang tidak mempedulikan ucapan Alfa, dan berjalan melewati perempuan itu keluar dari toko. Seluruh orang yang ada disana tercengang dan dibuatnya bingung, apalagi para karyawan di toko tersebut. "Eh, Pak.. Ndak jadi kalo gitu ya, makasih sebelumnya." Pamit Alfa yang harus segera menyusul laki-laki itu sebelum ia membawa kabur barang belanjaannya. Tapi bukannya merespon ucapan Alfa, orang-orang disana masih dibuatnya bingung dengan perlakuan dari laki-laki tersebut pada Alfa. Kejadian yang dianggap oleh mereka sebuah ketidak kemungkinan. Laki-laki yang selama ini kaku dan angkuh, kini dengan suka rela menawarkan bantuan pada perempuan yang tidak pernah dikenal sebelumnya. "Itu tadi Pak Aksa, kan?" tanya salah satu dari mereka, yang akhirnya menyadarkan yang lain. Sepertinya pertanyaan itu tidak perlu mendapatkan jawaban, karena semua karyawan disana tidak salah lihat. Aksara Ghrissham, laki-laki berumur 27 tahun, pemilik supermarket dengan beberapa cabang di Jawa Timur. Dengan umurnya yang masih muda, laki-laki itu telah meraih kesuksesannya, namun tidak dengan jalinan cintanya. Ia baru saja dikhianati oleh kekasihnya, setelah beberapa tahun berpacaran dan akan melangsungkan pernikahan. Laki-laki itu mengutuk dirinya sendiri yang begitu percaya pada kekasihnya, hingga tidak sadar bahwa perempuan yang selama ini begitu dihargainya telah tidur dengan laki-laki lain bahkan kabar yang masih membuatnya tercengang adalah kekasihnya tersebut telah mengandung 3 bulan. "Terima kasih." Ucap Alfa setelah sekian waktu berjalan dibelakang Aksa. Ia masih tercengang saja dengan apa yang terjadi. Laki-laki yang datang entah darimana, menawarkannya bantuan. Dan yang membuatnya masih tidak habis fikir adalah kenapa wajah laki-laki itu bisa mirip sekali dengan Faruq? Ya, meskipun sikap dan sifatnya sangat jauh berbeda. "Sebaiknya saya bawa sendiri saja belanjaannya, rumah saya sudah dekat." Tambahnya yang merasa ini tidak benar. "Kenapa? Kan bisa sekalian saya antar sampai rumah." Tanya Aksa setelah mendengar ucapan Alfa. Seolah perempuan itu keberatan. "Saya tidak mau ada pembicaraan mengenai saya, jadi untuk menghindari hal itu, ada baiknya sampai sini saja anda mengantar. Terima kasih sebelumnya." Jelas Alfa. Pandangannya mengedar kesekeliling, takut para tetangga atau orang rumahnya melihat ia bersama laki-laki lain, yang notabenenya bukan orang sekitar sana. Ya, mengingat keadaan dan statusnya saat ini, ia ingin menjaga nama baik dirinya dan keluarganya. Baru saja Faruq pergi untuk selama-lamanya, ia tidak ingin orang lain berpikiran buruk karena melihatnya berjalan dengan laki-laki lain, apalagi Aksa terlihat seumuran dengannya. Jadi untuk menghindari berita yang tidak-tidak, Alfa berusaha menolak dengan halus. "Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanya Aksa yang merasa Alfa sedang menjaga sesuatu, apa itu? entah ia tidak tau, namun hal itu membuatnya semakin ingin tau. Ia menatap Alfa yang menundukkan pandangannya, berusaha menghinari tatapan Aksa. Namun lagi-lagi, hal itu semakin membuat Aksa penasaran dan berusaha mendapatkan jawabannya. Namun harus dimulai darimana? ketika perampuan itu sendiri menutup dirinya rapat-rapat, membangun dinding tak aksat amta yang cukup tinggi, dan tidak membiarkan orang lain bisa menembus atau merobohkannya. Aksa akan segera mencari tau, untuk melegakan rasa penasarannya pada perempuan itu. Namun bukannya menjawab pertanyaan Aksa, Alfa malah memalingkan wajahnya dan pergi begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD