Insiden di kamar mandi sekolah

1729 Words
Setelah keluar dari mobilnya yang terparkir didepan supermarket, ada yang mengalihkan perhatian Aksa tiba-tiba, yaitu seorang perempuan yang mengangkat tabung gas 3 kg memasuki tempat tersebut. Didalam ia melihat para karyawannya dengan sigap membantu perempuan itu, dan terlihat perempuan tersebut merasa tidak enak dan salah tingkah. Tanpa terkendali, sejak dari luar hingga memasuki supermarket miliknya, Aksa terus memperhatikan perempuan itu, sampai tidak sengaja ia mendengar salah satu karyawan tokonya memanggil perempuan itu dengan nama; Alfa. Nama yang tidak asing baginya, namun ia lupa dimana. Lalu ia melihat perempuan itu selesai berbelanja, dan salah satu karyawannya menawarkan untuk mengantar sampai rumah, kemudian tanpa terkendali lagiii, Aksa mengambil alih belanjaan tersebut, termasuk dengan tabung gas 3 kg nya. Aksa yang tidak suka berbasa-basi, mengutarakan niatnya untuk membantu Alfa, sehingga membuat seluruh orang yang ada disana tercengang. Apalagi para karyawannya yang tau bagaimana sikap dan sifat atasannya tersebut. "Kenapa kamu mengkhawatirkan omongan orang? ada apa denganmu?" tanya Aksa kembali setelah tadi mendapat penolakan dari perempuan tersebut karena tidak mau diantarnya sampai rumah. "Sepertinya itu juga privasi saya, mohon maaf sebelumnya, tapi tidak semua bisa saya beritahukan kepada orang lain, apalagi yang tidak saya kenal. Terima kasih, atas bantuanyya." Alfa sepertinya merasa risih dengan perbantuan Aksa, sehingga dia menolak laki-laki itu. Merasa Alfa sudah tidak nyaman dengan sikapnya, Aksa pun berhenti dan membiarkan perempuan itu untuk pergi sendirian, meski sebenarnya tidak tega melihat perempuan tu membawa semua belanjaan, namun ia tidak bisa memaksa, nanti malah bisa-bisa ia diteriaki dan digebuki oleh massa. Aksa masih memperhatikan perempuan itu yang melangkah menjauh darinya, ia yakin pernah bertemu dengan Alfa, dan ia berusaha menggali semua yang ada dimemorinya. Rsanya tidak nyaman saja, ingatannya mengajak untuk tau, namun ia sendiri tidak bisa menjabarkannya. "Tolong, jagalah dia." Ucapan itu tiba-tiba masuk dalam ingatannya. Saat itu, Aksa sedang dinas luar kota, menghadiri sebuah seminar yang disana ia bertemu teman lamanya, laki-laki yang sering kali dianggap mirip dengannya, dia adalah Faruq. Mulai dari wajah hingga postur tubuhnya mereka sangat mirip, yang berbeda adalah sikap dan sifatnya. Dulu Faruq dikenal sebagai sosok yang lembut dan peduli dengan sesama, sedangkan Aksa? ia laki-laki yang angkuh dan acuh dengan sekitarnya. Sangat berbanding terbalik, apalagi ketika Faruq sudah terjun kedunia sosialnya, Aksa merasa sudah tidak sefrekuensi dengannya waktu itu. Namun pertemuan untuk yang pertama kalinya setelah beberapa tahun tidak bertemu, membuat Aksa rindu dengan sahabatnya tersebut. Banyak perubahan juga dari mereka berdua, apalagi Faruq yang selama ini tidak pernah menceritakan tentang seorang perempuan, pada pertemuan itu Faruq sangat antusias menceritakan mengenai Alfa, sosok perempuan yang membuatnya jatuh cinta paling dalam. Saat itu juga, Faruq berpesan apabila nanti dirinya pergi lebih dahulu, ia meminta Aksa untuk menjaga Alfa, istrnya. Telebih Faruq meninggalkan seorang putri cantik hasil dari cintanya bersama Alfa. "Loh ngomong apa sih, Far.. Ngaco lo." Ucap Aksa yang merasa ucapan Faruq sudah melantur kemana-mana dan tidak harus diteruskan. "Udah deh, gue minta tolong sama lo ya. Siapa tau umur gue nggak panjang, dan gue belum bisa bahagiain Alfa sepenuhnya. Jaga Alfa buat gue ya." Ucapan itu membuat Aksa mengingat semuanya. Apa karena hal itu sehingga Alfa membentengi dirinya sendiri dari Aksa, karena perempuan itu telah bersuami dan laki-laki itu adalah Faruq, perempuan itu takut jika Aksa membantunya maka orang lain bisa saja membicarakannya yang tidak-tidak. Namun apa mungkin seorang Faruq membiarkan istrinya belanja sebanyak itu sendirian? Aksa menggeleng, ia mengutuk dirinya sendiri yang sudah telampau jauh berpikir tentang keluarga sahabat lamanya itu. Tidak ada yang terjadi, semuanya baik-baik saja. Faruq adalah sosok imam keluarga yang baik dan sholeh, ia pasti sudah berhasil memimpin keluarganya. Aksa pun tersenyum ketika melihat perempuan itu masuk kepelataran sebuah rumah, artinya ia sudah sampai di rumah. Dan sudah saatnya ia berhenti. Tiba-tiba suara ponsel berdering dari sakunya. "Vica," Ucap laki-laki itu sembari menghembuskan nafasnya kasar. Ia jengah karena kekasihnya itu terus menghubungi tanpa tau waktu. Ah kekasih? Aksa sedang mengurus seluruh rencana pernikahan mereka untuk dibatalkan, dan mengenai cincin pertunangan, Aksa sudah tidak lagi memakainya. Setelah mengetahui kenyataan bahwa Vica; perempuan yang menghancurkan kepercayaannya tersebut telah hamil 3 bulan, Aksa memutuskan segala komunikasi dan rencana pernikahannya ia batalkan semua. Aksa membiarkan panggilan tersebut dan mengantongi lagi ponselnya. Namun lagi-lagi ponselnya berdering. "Mamanya Vica" Ucap Aksa setelah mengetahui orang tua dari Vica lah yang menghubunginya. Aksa tidak bisa bersikap acuh pada keluarganya Vica, karena mereka juga tidak tahu menahu. Ia pun menjawab panggilant ersebut. "Halo, iya Ma?" tanya Aksa. "Nak Aksa, kesini laaah. Tolong Vica, dia keracunan, mulutnya mengeluarkan busa, Nak. Mama takut." Ucap wanita itu dengan bergetar, membuat Aksa tiba-tiba khawatir. "Baik, Ma. Aksa langsung kesana." Laki-laki itu pun mematikan panggilannya sembari berlari menuju mobilnya dan melaju dengan kencang, menembus pagi yang terlihat masih berkabut. *** "Siapa Nak?" tanya ibunya sembari menggendong Rubi yang sudah tertidur pulas. "Siapa, Bu?" tanya Alfa balik setelah memasang tabung gas, dan meletakkan bahan dapur didalam kulkas. "Yang tadi mengantar kamu bawa belanjaan, Nak.." Ucap wanita itu yang membuat Alfa menoleh kearahnya dengan wajah gusar, apa ibunya akan marah karena melihat Alfa diantarkan laki-laki lain mengantarnya? lalu bagaimana dengan pembicaraan orang lain yang melihatnya juga. "Eh maaf, Bu. Bukannya Alfa berniat untuk berkhalwat dengan laki-laki lain, tadi Alfa.." "Iya, Nduk.. Ibu paham, kamu ndak perlu menjelaskannya, ibu tau kamu sangat menjaga maruahmu sebagai seorang perempuan. Ibu hanya bertanya siapa tadi? karena sepertinya ibu pernah bertemu." Jelas wanita itu yang tau bahwa Alfa ketakutan dianggap menjadi perempuan yang gagal menjaga maruahnya. Alfa menggeleng, benar yang diaktakan ibunya, laki-laki itu telah membantunya, namun tadi ia menunjukkan sikap yang tidak baik, yang merasa berterima kasih saja tidak tulus. Apalagi dengan pikirannya yang buruk tentang laki-laki itu. Namanya saja ia tidak tau juga. "Alfa ndak tanya siapa namanya tadi, Bu.." Jawab perempuan itu dengan polos, sehingga mengundang senyum sumringah dari wanita didepannya. *** "Mas," Aisya bertemu Syarif dikantin, mereka janjian disana untuk makan siang. "Ya?" Syarif harus membranding dirinya sebagai guru yang killer dan dingin, sehingga dia tidak bisa membalas setiap ucapan Aisya dengan kalimat-kalimat yang receh, bisa-bisa seluruh murid disana meleleh dibuatnya. Bukan begitu? "Kamu sudah atur jadwalnya?" tanya Aisya yang ingat janji suaminya untuk atur jadwal libur mereka dua hari kedepan. Ia ingin menikmati kebersamaan mereka. "Sudah. Jangan lupa nanti kita ke dokter kandungan, dan ke Abah untuk sykuran kecil-kecilan dengan anak pondok pesantren." Ucap Syarif yang mengingatkan lagi jadwal mereka hari ini. Ia tidak ingin Aisya kembali menahan diri dan merasa bahwa Syarif tidak mendukungnya untuk berjuang mendapatkan buah hati. "Siaaap." Aisya juga membranding dirinya sebagai guru yang humble namun tegas, sehingga ia juga tidak bisa menunjukkan kebasurdannya didepan banyaknya para murid yang sedang beristirahat. "Aku pesan makan dulu ya." Perempuan itu pun berjalan gontai menuju kantin, memesan dua nasi campur dengan lauk ayam goreng kecap kesukaan Syarif. "Bu Aisyaaa..." Seorang siswi berlari menuju ketempat dimana perempuan itu sedang memesan makanan. Gadis itu terlihat gusar sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari, tidak lama kemudian beberapa siswi menghampirinya, mereka juga sama gusarnya. "Ada apa dengan kalian?" tanya Aisya kebingungan, perasaannya jadi tidak tenang. "Bu, Wulan pingsan di kamar mandi.. Tolong, Bu." Ucap gadis itu. "Wulan pingsan?" Aisya memastikan lagi, setelah mendapatkan anggukan dari para muridnya. "Ayo kita kesana." Ucapnya, ia menghampiri Syarif yang sudah berdiri karena melihat kegaduhan tersebut. "Apa yang terjadi?" tanya Syarif. "Wulan pingsan di kamar mandi, Pak." Ucap Aisya yang masih bisa mengontrol kamus panggilannya pada Syarif, disaat genting seperti ini. Perempuan itu patut diacungi jempol empat. Syarif dan Aisya pun bergegas menuju kamar mandi siswi yang diikuti beberapa siswi pelapor tadi. Setelah sampai ditempat kejadian, keduanya sangat terkejut karena melihat Wulan dibantu teman-temannya untuk bangun dan hendak dibawa ke UKS, diroknya banyak bercak darah yang membuat lainnya semakin khawatir. "Langsung bawa ke rumah sakit." Ucap Syarif, meminta guru yang lain mengangkat Wulan dan membawanya langsung ke rumah sakit. "Bawa dengan mobil saya saja. Saya dan Bu Aisya yang akan membawanya ke rumah sakit. Dan minta tolong nanti infokan ke orang tuanya untuk segera kesana." Tambah Syarif. Gadis itu terlihat lemah dengan wajah yang pucat dan tidak karuan. Aisya merasa ada yang aneh dengan anak didiknya tersebut. Sesampainya di rumah sakit, Wulan langsung ditangani di UGD. Aisya semakin khawatir ketika gadis itu terus mengeluarkan darah, kini roknya tidak hanya ada bercak darah saja, kini rok tersebut sudah penuh dengan darah. Membuat Aisya yang sebenarnya takut darah menjadi ikut lemas. "Apa kamu pulang saja?" tanya Syarif yang khawatir dengan kondisi Aisya juga, perempuan itu terlihat lemas. Aisya menggeleng, "Nanti kamu sendirian disini lagi, aku temenin kamu, Mas." Ucap Aisya tidak mau meninggalkan suaminya itu sendirian disana, meski ia tau Syarif bisa mengatasinya sendiri, namun Aisya juga ingin menemani laki-laki itu. "Permisi, dengan keluarga saudari Wulan?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. "Maaf, Dok. Keluarganya belum datang, saya gurunya. Gimana kondisi Wulan?" tanya Syarif. "Saudari Wulan mengalami keguguran, dan berakibat pendarahan yang cukup banyak terjadi. Kami harus melakukan tindakan medis yaitu kuret untuk membersihkan rahim saudari Wulan. Ini harus dilakukan secepatnya, Pak." Jelas dokter tersebut setelah mengetahui apa yang terjadi dengan Wulan. "Keguguran, Dok?" tanya Aisya yang terkejut, kenapa Wulan keguguran? artinya gadis itu tengah hamil? Syarif memegang lengan permepuan itu untuk menetralisir sikap terkejutnya. "Baik, lakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa Wulan, Dok." Ucap Syarif yang mengkhawatirkan keadaan Wulan karena semakin kritis. "Baik. Silahkan lengkapi administrasinya dulu ya, Pak. Kami akan persiapkan untuk tindakan medisnya." Ucap Dokter tersebut kembali ke ruang UGD. "Mas, aku tau maksud kamu sekarang. Kenapa kamu hanya mengajakku untuk membawa Wulan ke rumah sakit. Agar hanya kita yang tau aib ini kan?" tanya Aisya yang tau maksud dari semua tindakan Syarif, suaminya tersebut. Lagi-lagi Aisya berdecak kagum dengan segala perhitungan dan kehati-hatian Syarif, laki-laki itu dapat membaca segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Seperti saat ini, Syarif dapat mengetahui kemungkinan yang terjadi pada Wulan, sehingga menghindari berita yang tidak-tidak, Syarif hanya mengajak Aisya untuk menemaninya membawa Wulan ke rumah sakit, karena ia juga percaya Aisya akan menutupi aib ini. Syarif pun tersenyum karena Aisya bisa membaca pikirannya. "Mas, kamu keren banget." Ucap Aisya yang secara terang-terangan memuji suaminya itu. "Sudah, aku urus administrasinya dulu, kamu disini tunggu keluarga Wulan." Ucap Syarif segera menuju lobi rumah sakit untuk mebgurus admintirasi sebelum dilakukannya tindakan medis untuk Wulan. "Oke, Mas." Aisya masih merasa bangga memiliki Syarif. Laki-laki yang baginya sangatlah hebat. Masih sulit aku merangkai kata, untuk menjabarkan tentangmu. Namun yang aku tau, kata itu terangkai indah dengan sendirinya ketika kamu menatapku. Disana telah terjabarkan segalanya; Yaitu sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD