"Pak Syarif," Suara itu berasal dari balik tubuhnya laki-laki yang tadi baru saja menyelesaikan administrasi agar anak didiknya segera dilakukan tindakan medis, dan ternyata seorang pria yang memanggilnya. Bisa dipastikan pria tersebut adalah ayah dari Wulan. "Anak saya bagaimana keadaannya, Pak?" tanyanya langsung yang diikuti seorang wanita dari belakang.
"Masih dilakukan tindakan medis kuret, Pak." Jawab Syarif.
"Maksudnya anak saya hamil, Pak?" tanya pria itu dengan wajah yang gusar.
Anak gadisnya yang pendiam dan baik, kenapa tiba-tiba bisa hamil? Dan kenapa gadis itu mengugurkan kandungannya juga? apa yang sebenarnya terjadi. Kedua orang yang umurnya sudah paruh baya tersebut lemas, apa yang sudah terjadi sehingga putrinya bisa berada dalam keadaan tersebut.
"Pak, anak kita." Ucap wanita itu dengan nada sedih, ia memegangi lengan pria yang ada didepannya.
Tentu, orang tua mana yang tidak sedih mendengar berita tersebut terjadi pada putrinya, apalagi Wulan adalah satu-satunya anak mereka. Kedua orang tersebut merasa sudah menjadi figur orang tua yang baik bagi Wulan, terbukti sehingga membentuk gadis itu menjadi sosok yang berbudi pekerti, sikapnya pun sangat dewasa.
"Saya sudah gagal mendidiknya." Ucap pria itu sembari terduduk dikursi tunggu. Ia menyesalkan atas apa yang telah terjadi, sehingga anak gadisnya berada dalam keadaan sekarang.
"Tidak, Pak. Jangan salahkan diri bapak, kita belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Ada baiknya kita menahan diri sampai nanti Wulan bisa menjelaskannya. Dan saya harap, untuk berhati-hati bicaranya dengan Wulan, karena bagaimanapun juga dia baru saja kehilangan janinnya." Ucap Syarif yang dibenarkan oleh Aisya.
Perempuan itu selalu mengagumi suaminya tersebut, yang hangat ketika orang lain sedang gusar dan butuh pegangan. Aisya tersenyum simpul.
"Bapak dan ibu tenangkan diri dulu, kita harap juga ketika nanti sudah diperbolehkan untuk bertemu dengan Wulan, jangan menghakimi dia ya, rangkullah dia. Karena yang dia punya, cuma kalian." Tambah Aisya, ia mengerti sekali bagaimana perasaan Wulan ketika kedua orang tuanya tau kondisinya sekarang.
Syarif mengalihkan pandangannya kearah Aisya. "Sya, kita balik ya. Sudah ada orang tua dari Wulan disini." Ucapnya, karena ia ingat rencana mereka sepulang dari sekolah.
Aisya pun mengangguk, "Kami pamit dulu ya, Pak, Bu. Kalau ada apa-apa kabari kami lagi." Ucap Aisya.
"Eh tunggu sebentar, Pak, Bu..." Ibu dari Wulan menahan mereka yang berpamitan untuk pulang.
"Iya gimana, Bu?" tanya Aisya.
Lalu wanita itu tiba-tiba menggenggam erat tangan Aisya sembari menatap perempuan itu, diwajah tersebut ada sebuah kesedihan yang luar biasa, yang tidak bisa ditutupinya. Wajah yang mulai berkerutan itu pun memohon pada Aisya.
"Bu, saya atas nama keluarga Wulan berterima kasih telah menolong anak saya, terima kasih telah membawanya ke rumah sakit. Tapi saya mohon sekali, izinkan Wulan untuk tetap bersekolah, saya yakin ini bukan atas kehendaknya, Wulan anak yang sangat baik, Bu." Ucap wanita itu, bagaimanapun juga Wulan harus tetap bersekolah, masa depannya masih panjang, apalagi sebentar lagi gadis itu akan mengikuti ujian kelulusan. Besar harapannya agar Aisya dan Syarif memberikan kesempatan bagi putrinya untuk tetap bersekolah.
Aisya tersenyum simpul, "Ibu jangan khawatir, Wulan akan tetap bersekolah, dan masalah ini; saya jamin tidak akan ada yang tau." Jawab perempuan itu penuh keyakinan. Wulan memang masih berhak untuk melanjutkan masa depannya, meski sebenarnya apabila masalah ini terdengar oleh orang lain dan media massa, hal itu dapat merusak nama baik sekolahan dan sudah pasti para guru akan mendesak Syarif mengeluarkan Wulan dari sekolahan tersebut.
"Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih banyak, Pak." Ucap wanita itu sembari mencium tangan Aisya sebagai tanda terima kasihnya.
Aisya yang merasa tidak enak pun berusaha menarik tangannya, "Iya bu, sudah. Ini sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga anak didik saya, Bu.." Ucapnya.
"Iya, Bu. Saya juga yang akan menjaminnya." Ucap Syarif kemudian. "Sekarang ibu dan bapak tenangkan diri dulu, kami mau pamit ya, maaf belum bisa menemani sampai Wulan dapat dijenguk, karena kami juga masih ada urusan." Ucap Syarif.
"Baik, Pak.. Hati-hati dijalan ya, sekali lagi kami berterima kasih." Wanita itu masih tidak habis mengucapkan terima kasih pada kedua orang tersebut.
***
Aisya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kejadian yang baru saja terjadi ternyata menguras emosi dan energinya. Melihat darah yang sebegitu banyaknya dari tubuh Wulan mengingatkannya pada saat ia juga sedang keguguran, namun ia tidak begitu memikirkannya, toh itu adalah sebuah cobaan yang tidak perlu dirutuki. Namun yang menjadi pikirannya sekarang adalah bagaimana psikis dan mental Wulan, setelah mengalami kejadian tersebut, sudah pasti ia tidak baik-baik saja, ia harus didampingi terus, kalau tidak ia akan mengalami depresi pasca keguguran. Karena banyak sekali sekarang kejadian yang serupa, dan perempuan itu memilih mengakhiri hidupnya karena setelah kehilangan janin, ia juga dikucilkan dalam masyarakat dan keluarganya.
Miris memang, terkadang orang lain hanya melihat apa yang terjadi dan langsung menyalahkan, mereka beralibi bahwa jika si perempuan menolak dan bisa menjaga diri, sudah pasti hubungan intim itu tidak terjadi, dan tidak akan berdampak sebesar ini. Mereka tidak berpikir saat kejadian itu, apakah si perempuan dapat menolak? saat segala kemungkinan bisa dilakukan oleh si laki-laki, yang bisa saja sudah direncanakan dengan semulus mungkin.
"Sebaiknya kamu kurang-kurangi memikirkan orang lain, Sya." Ucap Syarif paham dengan apa yang sedang Aisya rasakan.
"Aku hanya takut dengan keadaan Wulan, apa dia bisa menghadapinya." Aisya menoleh kearah Syarif sembari masih berjalan disamping laki-laki itu.
"Itu kenapa kita harus tetap merangkul. Tapi harus sesuai dengan porsinya. Untuk saat ini sudah cukup memikirkan orang lain, sekarang ganti kita yang berikhtiar." Ucap Syarif.
Karena mereka sudah ada di rumah sakit, jadi keduanya langsung menuju lobby rumah sakit untuk menanyakan jadwal dokter kandungan pada hari itu juga.
"Permisi, untuk dokter obgyn hari ini jadwalnya siapa saja ya, Sus?" tanya Syarif, tadi saat di lobby, tepatnya ketika menyelesaikan administrasi untuk tindakan medis Wulan, Syarif sempat melihat jadwal dokter obgyn hari itu ada Dokter Iman SpOG(K)Fer.
"Mohon maaf, hari ini jadwalnya Dokter Iman, namun beliau sudah selesai jam prakteknya, Pak. Pas setengah jam yang lalu."Jawab suster tersebut.
"Apa tidak ada lagi?" tanya Aisya yang masih berharap ini bisa dinego, karena hanya sebentar saja, apa iya dokter tersebut tidak mau menolongnya.
"Mohon maaf, Bu Tidak ada. Hari ini harusnya ada jadwal Dokter Warna, tapi beliau berhalangan hadir." Jelas suster tersebut.
Syarif menghembuskan nafas,entah itu lega karena tidak ada dodkter atau karena ia masih belum bisa menerika keadaannya nantu.